CATATAN: Malangnya Nasibmu Lionel Messi

Topics

Sosok Messi sebagai dewa tampaknya sudah pudar bersama dengan menetesnya air mata di final Copa, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk mundur.

Lionel Messi hanyalah manusia biasa. Pernyataan  yang klise, tapi sepertinya perlu diulang lagi dan lagi agar publik sepakbola tidak lupa.

Selama ini Messi terlalu didewakan. Ia dibingkai dengan sejuta frasa “terbaik dunia” dan “makhluk luar angkasa” oleh media atau pakar sepakbola. Ia dimahkotai sebagai raja sepakbola Spanyol. Ia dipuja dengan deretan Ballon d’Or, lalu diarak keliling Eropa bersama trofi-trofi Barcelona. Sangat jarang diungkap tentang kelemahan penyerang 29 tahun itu. Seolah-olah, cacat bukanlah bagian dari kehidupan Lionel Messi.

Namun di partai puncak Copa America Centenario, kemanusiaan kembali Messi menyeruak ke permukaan. Messi tidak hanya memikul beban Argentina, tetapi beban yang dilimpahkan seluruh dunia. Statusnya bukan sekadar bintang Argentina, melainkan pemain terbaik dunia. Ia menyokong harapan dan tuntutan dunia, kecuali Cile, untuk memenangkan gelar internasional perdananya setelah maju ke tiga final dalam tiga tahun terakhir. Apa daya, beban tersebut ternyata terlalu berat bagi La Pulga.

Kisah Messi melangkah ke final Copa America bak dongeng. Setelah gagal di dua final dan absen di laga perdana, ia kembali dan menjadi pahlawan kemenangan Albiceleste kontra Panama. Kegemilangannya tak terbendung ketika menggulingkan kejutan tuan rumah Amerika Serikat lewat kemenangan 4-0. Tak heran, Argentina disebut sebagai favorit juara dan Messi diprediksi bakal memegang peran penting saat bertanding di MetLife Stadium.

Yang terjadi di MetLife Stadium justru sebaliknya. Messi nyaris tak berkutik menghadapi kepungan pemain Cile dan aliran bola yang mengarah padanya selalu terhenti. Minimal dua pemain mengawalnya saat tidak membawa bola dan ketika bola mendekat, tiba-tiba saja La Pulga sudah dikepung empat hingga lima orang. Dilengkapi dengan gaya bermain yang keras dan ngotot, Messi selalu dicegah untuk berlari lebih jauh.

Dalam beberapa kesempatan, Messi yang membawa bola memang berhasil menciptakan peluang, tapi pemain Cile tidak akan ragu melakukan pelanggaran asal ia berhenti. Situasi ini jelas membuat laga semakin panas seiring Marcelo Alfonso Díaz Rojas mendapat kartu kuning dua kali karena mengganjal Messi. Perlakuan keras tersebut tampaknya memengaruhi suasana hati sang penyerang dan Messi semakin sering memaksakan diri seiring laga bergulir, menantang kemustahilan dalam bentuk lima kawalan pemain Cile.

Gagal menampilkan aksi terbaik selama 120 menit, keadaan menjadi semakin buruk ketika Messi gagal mengeksekusi penalti pembuka Argentina.

Ia sudah mengambil ancang-ancang ketika berhadapan dengan Claudio Bravo. Seharusnya Messi bisa menjadi penentu arah laga karena Arturo Vidal gagal mencetak gol sebelumnya. Namun legenda sepakbola itu justru melayangkan bola ke atas mistar menuju tribun penonton. Dalam situasi itu Argentina bisa menang jika tak bergantung lagi pada Messi, tapi kisah mereka tidak berakhir indah. Sepakan Lucas Biglia berhasil dikandaskan oleh Bravo dan Francisco Silva menutup laga dengan golnya.

Seketika pemain Argentina terduduk di lapangan, nyaris bersama-sama. Messi mampu menahan air matanya di final 2014 dan 2015, terlihat seperti itu pula ketika ia berjalan ke bangku cadangan seperti orang linglung. Menggenggam rambutnya, ia berjalan dan menghampiri staf kepelatihan, menonton perayaan Cile dari pinggir lapangan. Namun konsolasi dari para staf sepertinya tidak cukup. Messi akhirnya kembali ke lapangan dan saat itu air mata tak terbendung lagi.

Air mata itu adalah bukti kemanusiaan Messi. Tiga final yang berujung pada kekalahan dalam tiga tahun terakhir tentu menjadi pukulan yang menyakitkan. Messi sekali lagi gagal menyamai pencapaian Diego Maradona dan Pele dengan mengklaim gelar internasional bersama negaranya. Dewa sepakbola yang selama ini diagungkan terlihat rapuh di depan kamera, bahkan kesulitan untuk berdiri sendiri menahan kesedihannya.

Berjalan melalui lorong ke ruang ganti, Messi dicegat oleh para wartawan dan memberikan pernyataan mencengangkan. "Tim nasional sudah berakhir untuk saya. Ini sudah empat final (kalah), ini bukan untuk saya. Saya pikir keputusan ini sudah pasti. Saya merasa kesedihan yang luar biasa sekarang bahwa hal ini terjadi. Penalti saya gagal, di mana itu super penting. Itu saja,” ungkap pemecah rekor gol Gabriel Batistuta dan sederet rekor Eropa itu.

Sang raja, dewa, atau apa pun yang dipuja itu akhirnya memutuskan untuk mundur. Keputusan yang masih bisa diperdebatkan, namun kata-kata sudah keluar dari mulut La Pulga. Empat final sudah dilalui oleh Messi (Copa America 2007, 2015, 2016, dan PD 2014) dan semuanya berakhir buruk. Sekali lagi kemanusiaan Messi tampil, ia tidak bisa menahan kesedihan yang berlebih dan mengibarkan bendera putih di usia puncak pesepakbola. Tidak ada lagi Lionel Messi di kancah internasional.

Ada pepatah mengatakan: seiring datangnya kekuatan besar datang pula tanggung jawab besar. Messi telah melakukan bagiannya dengan baik. Kaki-kaki mungil itu telah menggocek sekian bola dan menghibur dunia, bahkan mempersatukan perbedaan atas nama sepakbola. Adapun tampaknya tanggung jawab yang dibebankan dunia terlalu berat untuk pundaknya. Tuntutan juara di tengah sumber daya Argentina yang tidak seimbang terlalu besar bagi tubuh mungilnya. Sekali lagi, Lionel Messi hanyalah manusia biasa, bukan dewa.

Adapun Messi juga perlu mengingat bahwa dirinya adalah manusia. Air mata dan kegagalan merupakan bagian dari hidup yang normal. Sakit hati yang dirasakan pun melengkapi itu semua, tapi menyerah seringkali bukan jalan terbaik.

Di usia 29 tahun, disertai dengan bakat-bakat muda dalam diri Tiago Casasola, Geronimo Rulli, Emanuel Mammana, dan Paulo Dybala, Messi masih punya kesempatan bersama Argentina. Kekalahan dalam adu penalti dua kali hanyalah nasib malang.

Dan tugas manusia adalah menghadapi kemalangan itu dengan perjuangan tanpa akhir.

Topics