CATATAN: Menghitung Dosa Sepakbola Inggris

50 tahun telah berlalu sejak Inggris menggendong Piala Dunia, namun dari sisi gelar, The Three Lions justru mengalami regresi. Ironi bagi negara pemilik "sepakbola paling menghibur".

Tak terasa sudah 50 tahun berlalu sejak Inggris menjadi kampiun Piala Dunia. Ironisnya, tidak ada yang pantas dirayakan setelah setengah abad berlalu. Jangankan merayakan gelar internasional kedua, lolos ke perempat-final Euro 2016 saja Inggris tidak mampu. Bisa dibilang Inggris tidak mengalami regresi sejak Alf Ramsey membawa Bobby Moore menggendong trofi Jules Rimet di tanah air mereka.

Ironi yang kedua adalah The Three Lions tidak pernah absen melahirkan bintang-bintang sepakbola, namun selalu gagal meraih trofi. Mari kita tengok sejak beberapa dekade silam. Ada Paul Gascoigne, Alan Shearer, Rio Ferdinand, David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Wayne Rooney, dan berbagai pemain kelas top lainnya. Adapun hasilnya nol besar dan di periode ini, tim bintang Inggris dipermalukan negara imut berpenduduk sedikit dan berperingkat paling rendah di Euro 2016.

Serentak, di setiap masa, kritikus melemparkan – tidak cukup kalau hanya mengetok – palu penghakiman pada manajer. Kali ini giliran Roy Hodgson yang menjadi kambing hitam atas segala keputusannya, dimulai dari pemanggilan pemain, pemilihan starting XI, sampai pengaturan taktik. Bahkan setelah mengundurkan diri, olok-olok dan kritik untuknya masih tidak berhenti meluncur dari mulut publik Inggris yang kecewa.

Memang, peran manajer selalu penting di setiap kegagalan dan keberhasilan sebuah tim sepakbola. Walau begitu, nakhoda tidak bisa selalu disalahkan atas karamnya kapal. Bagaimana jika kayu yang dipilih tidak sesuai dengan kadar garam laut? Bagaimana jika desain kapal memang tidak cocok untuk mengarungi ombak ganas? Bagaimana jika pendidikan nakhoda tidak mencukupi untuk menghadapi anomali? Bagaimana jika konstruktor hanya mementingkan kemewahan seperti Titanic – tanpa mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi?

Masalah sepakbola Inggris bukanlah satu dosa besar yang bisa dilimpahkan kepada satu kambing hitam. Ini adalah kumpulan dosa kecil yang sudah menggulung dan menjadi besar. Dosa-dosa itu telanjur mengakar dalam sepakbola Inggris dan pelan-pelan menggerogoti seperti kanker. Rantaian dosa inilah yang kiranya membuat sepakbola Inggris tertinggal dari Jerman, Italia, dan Spanyol dalam berbagai aspek – terutama gelar juara.

Dosa pertama dan utama adalah meremehkan pemahaman taktik. Masih ingat pernyataan Roy Hodgson beberapa hari lalu tentang sistem yang ia bangun dalam tubuh The Three Lions? Dalam konferensi pers, Hodgson mengatakan: “Saya nyaman dengan hal itu, dengan cara apa pun Anda ingin bermain, kami akan terpenuhi. Sistem tidak memenangkan apa-apa. Pemain sepakbola memenangkan pertandingan untuk Anda.” Pemahaman sistem permainan rasanya tidak diprioritaskan oleh Hodgson. Ketika menghadapi Irlandia, hal itu terpapar sampai menyolok mata.

Lemahnya sistem pressing merupakan masalah yang terlihat jelas dalam kekalahan 2-1 dari Islandia. The Three Lions terlihat kaget ketika menghadapi tekanan agresif dari Gylfi Sigurdsson dkk. Dalam sekejap setelah membawa bola, para pemain langsung kehilangan ruang untuk mendribel dan memberikan umpan. Dengan senang hati, Islandia tinggal memanfaatkan kesalahan-kesalahan individu yang dilakukan untuk membangun serangan balik cepat.

Pergerakan tanpa bola terlihat sangat buruk dan penyusunan strategi seperti tekanan, memotong umpan, double-teams, triple-teams, jebakan pressing, rasanya tidak diterapkan sama sekali oleh Hodgson. Poin strategi dan kekompakan mobilitas sepertinya diabaikan oleh sang manajer, terlihat bagaimana jarak antar pemain terlalu lebar sehingga Islandia punya ruang untuk beraksi.

Ketika tim bergerak melebar, intensitas yang diberikan terlalu rendah. Seringkali hanya satu orang yang keluar dari formasi untuk menekan serangan balik Islandia. Pemain lainnya Cuma menunggu di depan kotak penalti dan jarak yang lebar tidak memungkinkan untuk melakukan pressing. Gary Cahill pun berkali-kali ditindas oleh para pemain Islandia dan pergerakan Aaron Gunnarsson di menit akhir pertandingan menjadi puncak penindasan Cahill.

Lemahnya pressing dan kekompakan mobilitas menjadi mangsa empuk taktik sederhana Islandia. Di babak pertama, hal tersebut ditunjukkan oleh lemparan ke dalam yang membuahkan gol penyama kedudukan. Kari Arnasson menanduk lemparan ke dalam tanpa melihat arah bola, lalu ada Ragnar Sigurdsson yang menyambar bola. Tidak ada instruksi khusus untuk menghadapi lemparan ke dalam dan lepasnya Sigurdsson dari kawalan merupakan kesalahan fatal.

Dalam gol kedua, kelemahan pressing dan koordinasi lagi-lagi terungkap. Jon Dadi Bodvarsson melakukan umpan pendek, yang bahkan tidak secepat tiki-taka Spanyol, dengan rekannya di depan kotak penalti. Namun Eric Dier tidak memotong jalur tersebut sehingga bola mengarah pada Kolbeinn Sigthorsson. Ketika sang penyerang membawa bola, sejatinya Gary Cahill dan John Stones sudah berada dalam posisi untuk menutup tembakan. Tapi bukannya bergerak, keduanya terlihat saling menunggu tanpa menggerakkan kaki, sepakan Sigthorsson pun sukses menjebol gawang Joe Hart.

Adapun buruknya pemahaman pressing dan koordinasi ini juga terlihat dalam konstruksi serangan Inggris. Sebelum Jamie Vardy masuk, Inggris hanya mengandalkan individu untuk menjebol pertahanan dengan dribel. Umpan mematikan tidak terlihat karena para pemain menunggu di luar kotak dan tusukan ke dalam yang dilakukan Sterling kerap kali tidak diimbangi dengan sentuhan akhir yang tepat sehingga peluang pun terbang sia-sia. Inggris seolah-olah bermain tanpa struktur mengandalkan kebrutalan.

Pendekatan ini berujung pada permainan Inggris yang tidak punya identitas. Mari kita bandingkan dengan Conte-naccio yang diterapkan Antonio Conte seiring Italia melangkah ke perempat-final. Bisa juga dengan Tiki-taka, yang walaupun takluk di tangan Conte, menunjukkan ciri khas dan dominasi Spanyol. Selanjutnya, ada transisi ekstrem yang diterapkan oleh Joachim Low ketika Jerman menggulingkan Slowakia.

Dan percayakan Anda bahwa permainan tanpa identitas itu cukup populer di Liga Primer Inggris? Kick n’Rush yang tanpa struktur sudah usang? Jika tidak percaya, saksikan klub menengah ke bawah di EPL bermain. Permainan tanpa struktur, adu fisik berlebihan, pergerakan bola tanpa aliran. Pola macam itu menjadikan tim-tim Liga Primer seimbang dan pertandingan menjadi seru. Namun jika menghadapi satu pelatih dengan pemahaman taktik yang cukup, ia bakal menjadi penguasa. Lihat saja bagaimana maestro Claudio Ranieri bisa memanfaatkan skuat pas-pasan untuk menggendong trofi.

Atmosfer anti-taktik macam ini menjelaskan mengapa banyak tercipta gol di Liga Primer Inggris. Bukan masalah bek yang jelek atau penyerang yang terlampau bagus, melainkan bagaimana taktik tidak berperan dalam pertandingan sepakbola. Untuk jangka panjang, hal ini jelas mengancam sepakbola Inggris karena mereka akan semakin ketinggalan dari Jerman, Spanyol, apalagi Italia. Oleh karena itu, Liga Primer pantas bersyukur telah kedatangan pelatih kelas dunia macam Jurgen Klopp, Antonio Conte, Pep Guardiola dan semoga mereka tidak tertelan budaya keras Inggris seperti Louis van Gaal.

Conte & Guardiola, angin segar buat sepakbola Inggris?

Dosa kedua yang sudah menjadi rahasia umum adalah bisnis transfer yang menggelora. Perputaran uang dalam sepakbola memang tidak bisa dihindarkan lagi, tapi sepakbola Inggris menariknya sampai batas ekstrem. Belanja pemain hingga menghabiskan ‎£100 juta bukan lagi hal mewah, bahkan sudah menjadi rutinitas beberapa klub. Ironisnya, belanja tersebut lebih banyak dihabiskan untuk memboyong pemain non-Inggris, mengingat betapa bebasnya transfer di Liga Primer.

Masalah ini pernah diekspos oleh legenda Jerman, Franz Beckenbauer, di gelaran Piala Dunia 2010. Saat itu, Inggris masih dipimpin oleh Fabio Capello. Kira-kira begini pernyataan Beckenbauer: “Inggris tengah dihukum oleh fakta bahwa hanya ada sangat sedikit pemain Inggris di klub-klub Liga Primer karena mereka malah menggunakan pemain asing dari seluruh dunia yang lebih baik.”

Masalah ini tentu sudah mendarah daging di sepakbola Inggris. Bisa dikatakan, pemain muda Inggris tidak punya tempat berkembang di klub-klub papan atas. Sungguh bertolak belakang dengan sepakbola Jerman yang memberi kesempatan pada para pemain mudanya sendiri. Di Inggris, tidak banyak akademi yang benar-benar merencanakan pendidikan untuk membawa para pemuda ke tim utama. Masalah skuat kerap kali dirampungkan dengan transfer dan transfer.

Beruntung, tahun ini Liga Primer punya penyegaran dalam diri Tottenham Hotspur dan Leicester City. Kedua tim itu memiliki pemain Inggris sebagai amunisi utama dan berhasil mendobrak dominasi empat besar musim lalu. Melihat fakta ini, seharusnya klub-klub Inggris mulai memikirkan cara untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang berasal dari akademi, atau bahkan sepakbola non-profesional di Inggris.

Selain itu, harga selangit yang diberikan pada pemain kiranya menjadi beban tersendiri. Bisa disaksikan bagaimana Raheem Sterling dihargai £49 juta, Adam Lallana £25 juta, lalu Andy Carroll £35 juta. Jika penampilan pemain terkait berada di bawah rata-rata, seringkali kritik langsung dilayangkan. Tentu saja ini menjadi masalah karena fans jadi terlalu berlebihan dalam berekspektasi dan bagi pemain muda seperti Sterling, hal macam ini bisa menjadi pedang bermata dua.

Kebijakan pasar sekaligus batas pemain asing ini kiranya perlu ditinjau ulang oleh Federasi Sepakbola Inggris [FA] dan manajemen klub. Tahun demi tahun, semakin banyak pemain asing yang berdatangan. Pemain muda lokal yang mau berkembang pun tidak punya tempat dan kalaupun ada yang sangat menonjol, harga dan ekspektasi selangit akan membebani pundaknya yang masih bertumbuh.

Sterling memikul beban terlalu berat di usia 21 tahun.

Dosa ketiga justru berkaitan dengan dunia luar lapangan, yakni media dan pundit. Mungkin sudah menjadi rahasia umum bagaimana media Inggris melambungkan pemain setengah jadi ke langit ke tujuh. Kemudian beberapa bulan berselang, mereka menjatuhkannya ke neraka tingkat tujuh. Media dan pundit Inggris kerap kali melakukan hal itu sehingga memungkinkan terjadinya ekspektasi berlebih pada para pemain. Lihat saja bagaimana Sterling dipuja selama Piala Dunia 2014, lalu diinjak ketika Euro 2016 berlangsung. Perlu digarisbawahi, Sterling baru berusia 21 tahun – masih ada ruang dan waktu lama untuk berkembang baginya.

Adapun yang jadi masalah bukanlah mentalitas hiperbola para media. Masalah utamanya adalah media dan pundit salah sasaran.

Sebagai contoh, mari kita tengok komentar sosok yang dihormati sepakbola Inggris, Jamie Carragher, beberapa waktu lalu setelah kekalahan Inggris pada Daily Mail: “Terlalu lembek. Semakin saya berpikir tentang aib Inggris ketika melawan Islandia, semakin dua kata itu masuk pikiran. Inilah jadinya pemain Inggris. Generasi Akademi – karena itulah mereka – sangat lembek secara fisik dan lembek secara mental. Kita melihat hasil akhir dalam seluruh detil mengerikan di Nice pada Senin ketika satu lagi turnamen akbar berakhir dengan bencana dan kesalahan.”

Carragher menggarisbawahi lemahnya mental, kurangnya daya juang, serta fisik yang lemah dalam pertandingan saat itu. Jika memang ketiganya mampu diasah oleh Inggris, apakah keadaan bisa berbalik? Mungkin ya, mungkin juga tidak…sebab kelemahan yang paling terlihat adalah taktik, bagaimana pemain Inggris dikawal dua orang atau lebih saat membawa bola, bagaimana Wilshere menjadi pemain terakhir yang mengejar Gunnarsson, bagaimana Sigthorsson mendapat ruang tembak ketika dikawal dua bek kelas dunia, saya rasa itu bukan masalah mental, tapi koordinasi dan melempar kritik salah sasaran ini kerap kali terlihat di Liga Primer.

Media dan pundit kiranya cuma membahas apa yang sudah terlihat, tapi tidak memperhitungkan konteks permasalahan. Mental memang bisa menjadi pemicu kekalahan, tapi mengapa kelemahan mental itu terjadi seharusnya bisa digali lebih dalam – dan kiranya kekalahan taktik menjadi faktor utama yang membuat Inggris frustrasi. Mengapa faktor pemicu itu bisa muncul, lalu pantas kiranya ditawarkan solusi sistematis untuk merampungkannya – bukan mengambinghitamkan seseorang, lalu menggantinya dengan orang lain.

Tiga dosa itu merupakan yang terbesar walau sejatinya masih ada sejuta dosa lain – misalnya keputusan Inggris yang mencoret Danny Drinkwater dan memanggil Jack Wilshere, konflik internal, dsb. Namun sejatinya Inggris beruntung karena kesempatan untuk menebus dosa sudah ada di depan mata.

Brexit, atau keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa, berpotensi menyulitkan transfer pemain asing dan mau tidak mau sepakbola Inggris harus memalingkan wajah pada sumber dayanya sendiri. Hal positif jika The Three Lions ingin meraih sukses di level dunia.

Kedatangan pelatih-pelatih kawakan dengan pengetahuan taktik luar biasa juga telah datang ke Liga Primer. Antonio Conte, Pep Guardiola, Jurgen Klopp kiranya akan memberikan angin segar pada budaya anti-taktik yang menghantui klub-klub menengah ke bawah. Hanya tinggal berharap FA dan para pemilik klub mau terbuka untuk menerima perubahan yang ditawarkan oleh nakhoda sepakbola kelas dunia itu.

Jika masih tidak bisa menebus dosa, mungkin Inggris harus melalui 100 tahun kesunyian.

Topics