CATATAN Piala Dunia 2014: Ada Alejandro Sabella Di Balik Sinar Lionel Messi

Siapa yang paling bersinar di Argentina? Silahkan menyebut nama Messi, tapi jangan lupakan Alejandro Sabella.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitterSiapa yang paling bersinar dalam kemenangan 2-1 Argentina atas Bosnia-Herzegovina? Tentu mayoritas akan menyebut nama Lionel Messi. Wajar saja, La Pulga – walau sempat transparan di paruh pertama – mampu menunjukkan permainan ajaib khasnya dan membawa Argentina menang lewat gol cantik. Namun, sebaiknya tak semua penghormatan diberikan pada Messi seorang.

Lionel Messi mau tak mau harus membagi penghormatan pada Alejandro Sabella – dan segenap skuat Argentina tentunya. Betapa tidak, Argentina – termasuk Messi – memang unggul lebih dulu, tapi permainan mereka di paruh pertama jauh dari predikat memuaskan. Baru ketika Sabella merombak taktik di paruh kedua, Albiceleste menunjukkan performa cemerlang. Ya, jangan lupa untuk menyorot perombakan (dan kecerdasan) taktik Sabella.

Sabella menerapkan formasi 5-3-2 di paruh pertama dan menempatkan Lionel Messi dan Sergio Aguero di ujung tombak. Memang, Argentina unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri Sead Kolasinac, tapi ini bukan buah manis dari performa Argentina, melainkan senjata makan tuan dari gebrakan yang coba diterapkan Bosnia.

Selanjutnya, Miralem Pjanic dkk justru rajin mengancam. Andai saja Sergio Romero tak tampil sigap, dua gol sudah dilahirkan oleh Bosnia. Albiceleste pun tak mampu menyajikan permainan offensif nan tajam karena ujung tombak mereka tak padu. Sergio Aguero hanya mampu mencatatkan enam operan sembari Messi terlihat bermain egois dan enggan mencari ruang karena ia bermain terlalu dalam – dampak dari beban besar di pundak, sepertinya.

Khusus untuk Messi, di paruh pertama ia bahkan pantas disebut pemain terburuk. La Pulga kehilangan bola 15 kali di babak ini dan hanya mampu memberikan satu operan pada Aguero yang jadi tandemnya. Minim efektivitas dan tak kondusif dengan formasi Sabella…transparan di lapangan.

Tapi pelatih Sabella melakukan perubahan taktik yang jitu di babak kedua. Ia menggantikan Hugo Campagnaro dan Maxi Rodriguez dengan Fernando Gago plus Gonzalo Higuain. Beban Messi terlepas dan pemain yang berbeda turun pula ke lapangan bersama Argentina yang lebih segar. Yup, Sabella sukses mengeluarkan kemampuan Messi yang sebenarnya di timnas, tak seperti pelatih lainnya.

Formasi 4-3-3 ,dengan Messi yang bergerak lebih ke depan, memberi warna baru pada Argentina yang sempat buntu. Messi kini bermain menghadap ke gawang, tak perlu lagi sering-sering berlari ke belakang dan mengabaikan gawang.

Kombinasi kehadiran Higuain dan Gago pun terasa nyata. Keseluruhan, mereka berdua telah memberikan tiga umpan kunci yang tak mampu dihadirkan Rodriguez dkk sebelumnya. Pergerakan Aguero, Angel Di Maria, dan Higuin juga terasa lebih cair.

Aliran bola memang masih terasa sesat di 15 menit pertama. Namun puncaknya ada di menit 65, ketika Messi menyajikan performa yang jadi hak patennya. Ia menunjukkan dribel irit dan ketenangan berkelas – sebagai buah dari keputusan pelatih yang membuang taktik paruh pertamanya. Bekerja sama dengan Higuain, La Pulga membawa bola ke depan kotak penalti dan membuat dua pemain Bosnia bertabrakan, memberi ruang, hingga melepas sepakan kaki kiri akurat ke sudut gawang Asmir Begovic. Selebrasi pun dilakukan seiring Argentina menggandakan keunggulan.

“Di paruh pertama, kami bermain terlalu dalam dan ini menghambat serangan kami. Gol kedua memberikan kelegaan pada semua orang dan khususnya pada diri saya, karena ini adalah waktu yang tepat untuk mencetak gol,” ujar Messi seusai laga.

Benar. Setelah gol ini, permainan Argentina benar-benar menjadi Argentina. Distribusi dan umpan kunci Argentina pun semakin deras mengalir.

Laga belum berakhir. Bosnia-Herzegovina menunjukkan determinasi tinggi di 15 menit akhir dan Vedad Ibisevic memberikan tekanan pada Argentina. Namun satu momen penting dalam laga itu tetaplah gol ajaib Messi yang membuat para fans biru-putih berharap pahlawan mereka mampu terus memamerkan bakatnya.

“(Momen) Maracana sangatlah hebat. Kami akan terus bekerja keras meraih mimpi,” tegas La Pulga.

Dengan sulap Sabella, ditambah determinasi Argentina yang telah kembali, tak heran kalau mereka akan terus bersinar selama sebulan ke depan. Apalagi kalau akhirnya ia mampu mewujudkan mimpinya, mimpi negaranya, untuk menggendong Piala Dunia.
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics