CATATAN Piala Dunia 2014: Spanyol Harus Berubah, Atau Mati...

Topics

Penghancuran sadis 5-1 di tangan Oranje menegaskan bahwa La Roja sedang dalam kondisi kacau-balau dan butuh modifikasi sistem secepatnya.

OLEH MARK DOYLE PENYUSUN SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Menjelang dimulainya partai pembuka Grup B Piala Dunia 2014 kontra Belanda pada Sabtu (15/6) dini hari WIB tadi, pelatih Spanyol Vicente Del Bosque dihadapkan pada dua pemilihan pemain yang harus ia putuskan. Sayang, ia salah memilih kedua pemain ini. Kini, setelah tersaji hasil akhir yang menyakitkan, Del Bosque harus menata ulang sang juara bertahan agar tidak tersingikir dari turnamen secara memalukan.

Pemain pertama adalah Gerard Pique. Dalam beberapa pekan terakhir ini, sempat ada rumor di Spanyol yang menyebutkan bahwa Javi Martinez bakal mengisi pos Pique sebagai bek sentral di laga melawan Belanda. Namun ketika saatnya tiba, Del Bosque tetap memasang Pique untuk berduet dengan Sergio Ramos. Pada akhirnya, ia harus menyesali keputusannya ini.

Pique benar-benar kepayahan, positioning-nya bisa dibilang sangat buruk. Bek Barcelona ini gagal mengejar Robin van Persie yang mencetak 'gol pesawat terbang' untuk menyamakan skor. Berikutnya, ia juga patut disalahkan atas gol pertama Arjen Robben yang dibiarkan lepas begitu saja sehingga sang winger dengan mudah melakukan tusukan khasnya untuk mencetak gol kedua Belanda.

Akan tak adil jika seluruh kesalahan di lini belakang ditumpahkan kepada Pique karena memang semua empat bek Spanyol tampil di bawah rata-rata, termasuk Sergio Ramos yang tengah on-fire. Ramos sendiri bersalah atas gol kedua Robben alias gol kelima Belanda meski ia sudah terlebih dulu unggul lima langkah dari mantan rekan setimnya di Real Madrid itu.

Pemain kedua adalah Iker Casillas. Ketika Spanyol tampak lemah dalam meladeni serangan balik Belanda, sang kiper sekalgius kapten tim ini malah melakukan dua kali blunder secara beruntun. Pertama, Casillas gagal menangkap bola lambung sepakan bebas Wesley Sneijder dari sisi lapangan, membuat Stefan de Vrij dengan mudah menceploskan bola ke gawang kosong. Berikutnya, Casillas menghadiahi Van Persie gol kedua setelah ia gagal mengontrol back-pass.

Apakah Pique dan Casillas kini harus siap tersingkir dari Starting XI Spanyol? Ya, tentu saja. Jelas-jelas laga tersebut adalah 90 menit paling menyakitkan semenjak periode keemasan La Roja yang sukses merengkuh tiga trofi utama secara berurutan. Jika mereka ingin terus mempertahankan kedigdayaan yang telah mereka bangun selama enam tahun terakhir, mereka harus segera disegarkan. Belanda saja telah berubah total sejak final di Afrika Selatan 2010, sementara Spanyol masih tetap setia dengan cara lama.

Memang, Diego Costa telah memberikan dimensi baru dalam sistem Spanyol yang kini sudah mudah diprediksi lawan. Bomber naturalisasi asal Brasil itu sendiri juga gagal tampil menawan. Setelah berperan dalam gol penalti Xabi Alonso di menit 27, penyerang Atletico ini lalu kehilangan arah di lini depan dan penyelesaian akhirnya juga buruk. Tak heran ia digantikan oleh Fernando Torres di pertengahan babak kedua. Costa juga beruntung tidak meninggalkan lapangan lebih dini setelah kedapatan menanduk Bruno Martins Indi.

Pada fase itu, Spanyol benar-benar terlihat kusut. Pada fase itu pula, kelemahan mereka terekspos secara brutal, seperti Barcelona setahun yang lalu tatkala takluk 7-0 secara agregat dari Bayern Munich di semi-final Liga Champions.

Reaksi Del Bosque selepas laga dalam jumpa pers tak lebih dari sekedar membela permainan timnya, melindungi pemainnya dari kritik. Namun dari sana, kita bisa melihat satu indikasi yang harus segera dilakukan Del Bosque: Spanyol harus berbenah untuk menghadapi laga hidup-mati melawan Cili pada 19 Juni mendatang.

Meski demikian, bukan berarti Spanyol harus panik. Mereka juga takluk dalam laga pembuka di Afrika Selatan empat tahun silam. Mereka tetaplah tim hebat, tapi perubahan wajib dilakukan. Bahkan Del Bosque sempat menyatakan dalam jumpa pers sebelum laga bahwa skuat Spanyol hampir tidak ada perubahan sama sekali selama empat tahun terakhir. Seiring tahun demi tahun berlalu, tetap saja kemampuan mereka akan tergerus oleh waktu betatapun hebatnya mereka.

Xavi Hernandez pada Kamis (12/6) kemarin menyatakan bahwa Spanyol tetap akan hidup atau mati dengan sistem permainan yang mereka cintai itu: tiki-taka. Tapi, seusai laga di Fonte Nova, mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa taktik tersebut nyaris berakibat fatal. Tiki-taka memang belum mati. Ia hanya butuh beberapa modifikasi agar mesin utama Spanyol ini bisa kembali bekerja secara maksimal dan hal tersebut harus dilakukan secepatnya.
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics