CATATAN: Putaran Nasib Si Penguntit

Roda nasib Manchester City mulai berputar ke puncak, tapi peran mereka di Liga Primer kali ini tak lebih dari sekadar penguntit.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Roda nasib selalu berputar. Kadang nasib berada di titik terbawah, kadang ia berada di puncak tertinggi. Setangguh apapun, sekaya apapun, ada saatnya untuk jatuh. Begitu pula sebaliknya. Pepatah yang umum, mungkin saja semua orang sudah jemu dibuatnya.

Namun kali ini bukan nasihat yang akan disampaikan oleh si pepatah. Pepatah tersebut hanya menjadi representasi perjalanan sebuah klub, yakni Manchester City, yang putaran roda nasibnya mencapai puncak pada musim 2013/14. Ya, tepat ketika mereka menjadi raja Liga Primer Inggris.

Kalau dilihat dalam lingkaran yang lebih besar, sebenarnya masa-masa puncak City sudah dimulai sejak Sheikh Mansour membeli klub ini. Setelah terseok-seok di beberapa dekat silam – bahkan sempat terdegradasi di musim 2000/01 – kekuatan uang Arab menjadikan City sesosok klub yang ditakuti di Inggris, bahkan Eropa. Dalam waktu singkat enam musim pun, mereka sudah mengantongi dua gelar Liga Primer beberapa gelar lainnya.

Kali ini, mari kita lihat dalam lingkaran yang lebih kecil, yakni musim 2014/15.

Setelah mengalahkan Liverpool dalam perburuan gelar musim lalu, City kembali jadi unggulan di musim ini. Wajar saja, kekuatan mereka tidak mengalami penurunan karena nama besar seperti Yaya Toure dan Sergio Aguero masih ada di daftar pemain mereka.

Sayang, mereka tak menunjukkan konsistensi di awal musim. Citizens langsung kalah memalukan dari Arsenal dalam ajang Community Shield. Beberapa orang mulai meragukan kematangan skuat mereka – mungkin sudah terlampau matang karena rerata usia yang terbilang tua – tapi laskar Manuel Pellegrini mampu memberi nafas segar ketika menang 2-0 atas Newcastle di laga pembuka Liga Primer, lalu menekuk pesaing gelar mereka musim lalu, Liverpool, dengan skor 3-1.

Ternyata masalah belum selesai bagi The Citizens. Inkonsistensi kembali menjangkiti mereka dan kekalahan 1-0 dari Stoke di Etihad Stadium jadi titik awal. Kiprah mereka selanjutnya tak mencerminkan status juara bertahan, bahkan nasib mereka di Liga Champions ada di ujung tanduk – seiring perjalanan di Piala FA terhenti oleh laju Newcastle.

Banyak kritik merajam mereka dalam periode ini, salah satunya adalah penurunan performa yang ditunjukkan Toure. Gelandang Pantai Gading ini tak mampu melanjutkan performa apiknya musim lalu dan sebagai dampaknya, lini tengah City sempat rapuh. Untung saja masih ada Aguero yang memikul beban tim sehingga City tidak jatuh-jatuh amat jelang Desember.

Dengan status juara bertahan, tentu saja periode fluktuatif tersebut merupakan sebuah kejatuhan, titik bawah dalam roda nasib mereka. Kekalahan tak bisa ditolerir dalam konteks ini.

Namun semua berubah saat Swansea City menyerang. Wilfried Bony membobol gawang Joe Hart hanya dalam kurun waktu sembilan menit. Gol tersebut serasa membangunkan macan tidur di kubu Citizens. Setelah kebobolan oleh gol cantik tersebut, City serasa kembali ke masa emas mereka, terus menggempur pertahanan The Swans. Akhir cerita, mereka menang 2-1 berkat gol susulan Stevan Jovetic dan Toure.

Kejutan tak terhenti di situ. Aguero semakin bersinar dan Toure mulai on-fire. Mereka meraih tiga kemenangan beruntun setelahnya, termasuk kemenangan dramatis 3-2 atas Bayern Munich. Statistik dalam dua laga terakhir melawan kuda hitam Southampton dan Sunderland pun mengindikasikan perputaran roda nasib sang juara mulai menanjak ke puncak.

Lima laga ke depan, khususnya di Liga Primer, mendukung mereka untuk mencapai titik puncak tersebut. Tak ada nama besar dalam sisa laga mereka di Desember, bahkan klub yang mereka hadapi adalah klub papan tengah hingga bawah (Everton, Leicester, Crystal Palace, West Bromwich Albion, Burnley) yang belum kunjung menemukan performa terbaik. Dewi fortuna sedang ingin tersenyum pada Pellegrini, walau isu pemecatan sempat terdengar sebentar.

Ada satu laga terselip melawan AS Roma, laga penentu untuk lolos ke fase gugur Liga Champions. Mengingat kedua klub sedang berada dalam posisi puncak, kiranya City yang lebih unggul dalam komposisi pemain bisa meraih poin.

Kesimpulannya, roda nasib City mulai melaju ke puncak. Sempat terseok-seok di tengah tahun, akhirnya Toure dkk menemukan kembali performa apiknya. Aguero pun semakin tajam dengan total 14 gol yang ia cetak di Liga Primer.

Tapi sekarang mereka bukanlah satu-satunya kekuatan di Inggris. Jose Mourinho telah melahirkan Chelsea yang bahkan melampaui kedahsyatan City musim lalu. Roda nasib The Blues juga sedang berada di puncak, hanya saja roda mereka lebih besar – mengingat kehadiran Cesc Fabregas dan Diego Costa yang memperkuat amunisi - daripada City.

City harus sadar, walau mereka dalam kondisi puncak, akan sangat sulit bersaing dengan Chelsea yang juga ada di puncak. Dua besar sudah ada di depan mata City, tapi puncak klasemen terasa begitu jauh. Pellegrini tentu sadar, peran mereka saat ini bukan lagi sebagai unggulan utama, melainkan (hanya) sebagai penguntit Chelsea. Kursi kedua di tengah musim adalah pencapaian paling realistis bagi tim biru langit ini.
Kalau hingga akhir musim kedua klub terus mempertahankan performa puncak, Citizens hanya mampu berharap roda nasib rivalnya mengalami kebocoran.

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics