Chelsea Dan Pertahanan Setengah Hati

Ceroboh dan mengecewakan, lini belakang Chelsea butuh disetel ulang setelah dipeloroti habis-habisan oleh Arsenal.

London memerah. Arsene Wenger merayakan dua dekade kebersamaannya bersama Arsenal dengan cara yang indah. Tapi Chelsea terperangah.

Begitulah cerita singkat derby London yang berat sebelah, Sabtu (24/9) kemarin, dalam partai lanjutan Liga Primer Inggris. Arsenal sukses menghadirkan orgasme sepakbola di Emirates Stadium, mengalahkan rival birunya itu dengan skor cantik 3-0.

The Gunners resmi mengakhiri rentetan tanpa kemenangan kontra Chelsea sejak 2011 dengan penuh gaya, seiring Alexis Sanchez, Theo Walcott, dan Mesut Ozil saling berbagi kue gol sebelum turun minum. Pertandingan sudah selesai di 45 menit pertama.

Pujian menggema untuk sang tuan rumah. Namun, kemenangan komprehensif Arsenal tersebut di satu sisi telah mengeksploitasi borok Chelsea, yakni soal organisasi buruk di sektor pertahanan dan diperparah dengan blunder yang mengikutinya.

Musim lalu, Chelsea adalah lelucon terbesar di Liga Primer dan itu tidak bisa dilepaskan dari jebloknya pertahanan mereka. Mungkin itulah yang membuat suporter Chelsea tidak terlalu kaget melihat lini belakang tim kesayangan mereka bermain ceroboh saat melawan Arsenal.

Gary Cahill, yang di laga ini berduet dengan David Luiz, tidak terbantahkan lagi adalah titik terlemah Chelsea dalam derby London. Sebuah kesalahan fatal dilakukan Cahill di menit ke-11 yang sekaligus membunyikan lonceng kematian bagi Antonio Conte dan pasukannya.

Mendapati bola dari tengah, Cahill menganggap enteng pressing Alexis Sanchez yang berada di dekatnya. Tanpa ampun, penyerang Cile itu langsung merebut bola dari Cahill sebelum menuntaskannya dengan tenang ke jala Thibaut Courtois untuk membuka skor. Bek internasional Inggris itu menutup wajahnya tanda malu karena dialah si kambing hitam.

Blunder Cahill tersebut langsung membuat koordinasi pertahanan Chelsea kacau. Kepemimpinan John Terry sungguh dibutuhkan dalam situasi genting seperti ini, sayang sang kapten absen karena cedera. Tak mengherankan, gawang Courtois kembali bergetar beberapa menit berselang. Permainan mengalir tak terbendung dari Arsenal berakhir dengan tap-in simpel Theo Walcott yang mencocor umpan silang Hector Bellerin.

Chelsea frustrasi sejak dari lini belakang hingga depan.

Chelsea mencoba bangkit setelah defisit dua gol itu. Namun apa daya, lini tengah dan lini depan ikut-ikutan tampil di bawah standar. Yang lebih menyedihkan, Chelsea baru bisa melepas tembakan shot on target ke gawang Petr Cech di menit ke-84 melalui striker pengganti Michy Batshuayi.

Fans Arsenal yang memadati Emirates sebetulnya tidak perlu repot-repot mencemooh eks pujaan mereka yang kini berseragam biru, Cesc Fabregas. Simak saja performanya. Turun starter untuk pertama kali di Liga Primer musim ini, Fabregas terlihat lamban dan minim kreativitas sebelum akhirnya ditarik keluar di awal babak kedua.

N’Golo Kante dipaksa bekerja terlampau keras dan kerap naik ke depan sehingga menghadirkan lubang di depan bek-bek Chelsea. Dalam sebuah skema serangan balik jelang turun minum, ketidakhadiran Kante seakan mengizinkan Ozil dan Sanchez untuk mempermainkan Cahill dan Luiz sebelum playmaker Jerman itu melepas voli cantik. Gawang Chelsea jebol untuk kali ketiga dan game over.   

Di lini depan, Eden Hazard dan Diego Costa rapat terkunci akibat minimnya suplai bola dari tengah. Praktis, Chelsea kalah segalanya dari Arsenal dalam derby kali ini. Conte dan pasukannya baru saja mendapat tamparan keras, jauh lebih keras daripada saat mereka dipermalukan Liverpool 2-1 di Stamford Bridge pada pekan lalu.

“Apa yang terjadi?” Itulah komentar pertama yang keluar dari mulut Conte dalam jumpa pers selepas laga. “Sejak menit pertama, kami tidak memiliki sikap yang tepat. Kami baru saja tampil buruk menghadapi lawan yang sangat rapi dan siap dalam aspek taktik maupun fisik. Kami harus banyak bekerja karena sekarang kami adalah tim yang hanya bagus di atas kertas,” sesalnya.

Conte wajib temukan formula bertahan yang tepat.

Conte pantas kecewa setelah anak asuhnya sudah terlihat bakal kalah sejak blunder Cahill. Seakan tahu bahwa tidak ada lagi jalan keluar, Conte pun melakukan eksperimen dengan menjajal strategi tiga bek di babak kedua. Buruknya organisasi pertahanan Chelsea membuat formasi 3-5-2 atau 3-4-3 layak dinanti di laga-laga berikut. Terlebih, Conte sudah tersohor dengan taktik tiga bek andalannya itu kala melatih Juventus dan timnas Italia.

Jika formasi berubah, perombakan susunan pemain mungkin juga diperlukan. Hampir pulihnya Kurt Zouma dari cedera lutut panjang membuat Conte sudah bisa membayangkan trio Zouma, Terry, dan Luiz di jantung pertahanan. Marcos Alonso bisa ditempatkan sebagai bek sayap kiri. Cesar Azpilicueta saat ini terlihat lesu, namun ia diharapkan bisa balik ke puncak performa ketika kembali ke posisi aslinya sebagai bek kanan.

PERTAHANAN RAPUH CHELSEA

Hasil Semua Kompetisi 2016/17
2-1 West Ham United (PL)
2-1 Watford (PL)
3-2 Bristol Rovers (EFL)
3-0 Burnley (PL)
2-2 Swansea City (PL)
1-2 Liverpool (PL)
4-2 Leicester City (EFL)
0-3 Arsenal (PL)
Total Menang: 5 | Seri: 1 | Kalah: 2

Gol: 17 | Kemasukan: 13

Di tengah, John Obi Mikel mungkin bukan pilihan populer. Tapi Conte layak mempertimbangkan gelandang bertahan Nigeria itu sebagaimana Guus Hiddink memercayainya di paruh kedua musim lalu. Kante butuh sosok pendamping seperti Mikel yang mengedepakankan kekuatan fisik dan kedisiplinan pada posisinya. Tidak seperti Nemanja Matic atau Fabregas yang terlalu mudah tergoda naik ke depan.

Adapun Batshuayi bisa diduetkan dengan Costa untuk menghadirkan dimensi baru di lini depan. Hazard dan Willian, bersama para gelandang serang lain seperti Oscar, Pedro Rodriguez, dan Victor Moses kini harus berlomba-lomba untuk membuat Conte terkesan demi satu tempat di Starting XI.

Kekalahan dari Arsenal lagi-lagi menyalakan lampu kuning bagi Chelsea bahwa pertahanan mereka masih butuh tambalan di sana-sini. Tidak bisa hanya dengan membelanjakan puluhan juta poundsterling untuk membeli bek baru di hari penutupan bursa transfer. Tidak pula dengan cuma mengandalkan taktik Conte yang punya spesialisasi dalam seni bertahan.  

Ingat, Chelsea baru mencatatkan satu kali clean sheet dari delapan laga semua kompetisi musim ini, yakni saat menggebuk tim promosi Burnley 3-0 pada Agustus lalu. Mereka bahkan selalu kebobolan dua gol atau lebih dalam empat laga terakhir.

Chelsea mungkin masih terbawa suasana keterpurukan di musim lalu, tapi yang jelas Conte harus cepat-cepat menemukan formula terbaik untuk pertahanannya. Tanpa perbaikan berarti di belakang, buang jauh-jauh pikiran Anda untuk memasang Courtois dan Cahill di liga fantasi, seiring harapan The Blues untuk mengejar selisih delapan poin dari Manchester City perlahan sirna.