Dari Filippo Inzaghi Ke Sinisa Mihajlovic, Lalu Apalagi Milan?

Bisakah Anda 'membaca' arah Milan di musim depan? Apakah Rossoneri siap bersaing untuk gelar juara?

OLEH  MOHAMMAD YANUAR     Ikuti di twitter

Keputusan final terkait siapa arsitek Milan di musim depan sudah diambil. Rossoneri memecat Filippo Inzaghi dan memanggil Sinisa Mihajlovic untuk menggantikannya.

Bukan tanpa alasan mengapa manajemen Rossoneri memutuskan melakukan pergantian pelatih. Performa tim di musim lalu adalah salah satu bukti bahwa apa yang digagas Inzaghi tak tersampaikan dengan baik ke tim, yang berujung pada penurunan kualitas penampilan tim.

Rapor Inzaghi bersama Milan di musim lalu adalah kemasukan 50 gol dalam 38 laga, 13 di antaranya berasal dari bola mati. Posisi akhir di klasemen Serie A Italia adalah peringkat sepuluh.

Tentunya, untuk tim sekelas Milan, juara Eropa tujuh kali dan 18 kali kampiun Serie A, pencapaian seperti musim lalu tak ubahnya suatu aib yang mencoreng nama besar mereka sebagai klub raksasa Italia dan Eropa, dan bagaimana pun caranya, harus segera dilupakan. Tapi, ini bukan pekerjaan mudah karena untuk bisa melupakan prestasi yang sangat tak bisa dibanggakan tersebut, harus ada prestasi mengesankan yang bisa diraih dengan membanggakan.

Memenangi trofi juara, atau setidaknya sekadar kembali bermain di Eropa, adalah target yang diusung untuk musim depan. Dan untuk bisa mewujudkannya, dibutuhkan barisan pemain dan pelatih tahan banting dan teruji kualitasnya.

Nah, ketika manajemen menunjuk Sinisa Mihajlovic sebagai pengisi kursi pelatih Milan untuk musim depan, tak sedikit yang kemudian mempertanyakan keputusan Milan.

Apakah Sinisa Mihajlovic cukup berpengalaman untuk Milan?

Mengapa Mihajlovic? Apa prestasi menterengnya sebagai pelatih? Apakah ia cukup berpengalaman sebagai allenatore? Apakah ini serius?

Untuk pertanyaan terakhir, Milan sudah memastikan bahwa penunjukkan mantan bek FC Internazionale dan Lazio itu memang serius. Di laman resmi klub, Mihajlovic sudah ditegaskan sebagai pelatih Milan berikutnya.

Lalu untuk pertanyaan kedua dan ketiga, sepertinya kita harus menelusuri sendiri apakah Mihajlovic memang sosok yang mumpuni.

Perjalanan karir pelatihnya dimulai sebagai asisten pelatih di Inter. Mihajlovic belajar pada Roberto Mancini, dan dia memberikan kontribusi dengan mengajari Zlatan Ibrahimovic mengeksekusi bola mati dengan sempurna selama dua tahun. Namun pada Juni 2008, Mihajlovic mengikuti jejak Mancini meninggalkan Inter.

Pada 3 November 2008, Mihajlovic mendapat kesempatan menggantikan Daniele Arrigoni di Bologna. Namun Mihajlovic hanya bisa bertahan selama lima bulan karena pada 14 April 2009, dia dipecat karena gagal menjauhkan tim dari zona degradasi.

Catania menjadi pelabuhan berikutnya bagi Mihajlovic. Dia ditunjuk menggantikan Gianluca Atzori pada 8 Desember 2009 dengan meneken kontrak dua tahun hingga Juni 2011. Namun dia tak tuntas menjalankan kontraknya karena memutuskan mundur pada 24 Mei 2010. Sepuluh hari kemudian, Mihajlovic diumumkan sebagai pelatih Fiorentina menggantikan Cesare Prandelli.

Bersama La Viola, Mihajlovic bisa/mau bertahan sepanjang musim dan kembali menangani tim di tahun berikutnya. Hanya pada 7 November 2011, masa kerja Mihajlovic diakhiri oleh klub.

Enam bulan menganggur, Mihajlovic kembali dipercaya menangani tim, namun tidak di level klub, melainkan tim nasional. Serbia menunjuknya sebagai pelatih kepala. Namun lagi-lagi Mihajlovic gagal menjawab ekspektasi dengan mengantar Serbia tampil di Piala Dunia 2014. Di fase kualifikasi, Serbia hanya bisa diantarnya ke peringkat tiga Grup A zona Eropa.

Gagal di level internasional, Mihajlovic kembali ke Italia dan menangani Sampdoria pada 20 November 2013. Di musim pertamanya, dia sukses mempertahankan timnya bermain di Serie A dan demikian pula di musim keduanya, sebelum memutuskan mundur.

Rapor Mihajlovic sebagai pelatih sejauh ini adalah memimpin 186 laga dan hanya mencatat 70 kemenangan bersama timnya, dengan prosentase kemenangan hanya 37,63 persen. Dan sosok inilah yang kemudian dipilih Milan untuk menangani klub di musim depan.

Namun yang patut diacungkan jempol untuk Mihajlovic adalah kedisiplinan yang diterapkannya setiap dipercaya menangani tim. Dia memiliki aturan tersendiri yang harus dipatuhi pemainnya jika tak ingin tersingkir dari tim utama. Dia juga membawa karakter tersendiri.


"Setiap tim menyerap apa yang menjadi karakter pelatihnya. Karena itulah saya yakin Milan akan mendapatkan determinasi yang dibutuhkan dari Mihajlovic."

 
- Atzori soal Mihajlovic

"Dia akan membawa keteraturan dan disiplin," ungkap mantan penyerang Milan Daniele Massaro.

Dan bila dibandingkan dengan Inzaghi, Mihajlovic lebih merasakan asam garam menjadi pelatih, meski tak sebanding dengan Carlo Ancelotti. Paparan di atas bisa menjadi bukti.

Tapi bisakah dia menjawab ekspektasi yang digantungkan pihak klub? Bila berbicara individu, tentunya tidak. Dibutuhkan sebuah tim, yang bermaterikan pemain, pelatih, manajemen, direksi dan juga pendukung untuk bisa berjalan dan mengangkat trofi juara. Kesatuan unit ini dan kesamaan visi yang bisa membawa mereka juara.

Dari direksi dan manajemen, bentuk dukungan mereka adalah kucuran dana yang siap diberikan untuk Mihajlovic membeli pemain baru. Silvio Berlusconi sudah menjaminnya. Tapi yang jadi pertanyaannya, siapa pemain tersebut.

Melihat kebutuhan Milan, Mihajlovic pantas mendatangkan striker baru. Lihat saja rekor gol pemain depan mereka musim lalu, nyaris tidak ada. Malah barisan gelandang yang terbukti lebih tajam, seperti Jeremy Menez (16 gol dari 33 laga), Giacomo Bonaventura (tujuh gol) dan Keisuke Honda (enam gol). Mattia Destro tak bisa diandalkan di musim lalu.

Lumrah jika kemudian Milan ingin mendatangkan Jackson Martinez dari Porto, atau menarik kembali Zlatan Ibrahimovic dari Paris St Germain. Keduanya memang terbukti sebagai jaminan mutu di depan gawang lawan.

Sementara di sektor tengah, mungkin dibutuhkan sedikit perbaikan lagi, terutama dalam memperkuat sektor tengah sebagai penyeimbang tim. Menggaet Arda Turan dan Mario Suarez dari Atletico Madrid bisa menjadi alternatif yang diambil, jika memang tidak terlalu mahal. Alternatif lain adalah Gianelli Imbula dari Olympique Marseille.

Bagaimana dengan pertahanan? Di sektor kiper, keberadaan Diego Lopez dan Christian Abbiati sudah terbilang mumpuni, tapi untuk pertahanan, Milan harus mencari bek yang sepadan kualitasnya seperti Thiago Silva dan Alessandro Nesta juga Paolo Maldini. Inilah PR besar yang harus dibenahi karena lini pertahanan Milan sangat buruk di musim lalu.

Mats Hummel mungkin bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Alternatif untuk bek Borussia Dortmund itu adalah Aleksander Dragovic, pemain Dinamo Kiev, yang mungkin bisa diboyong ke San Siro dengan harga yang lebih murah.

Tapi bagaimana pun, Mihajlovic yang akan menentukan dalam pengambilan keputusan, mulai dari pemain baru, mempromosikan pemain dari akademi, hingga memastikan bagaimana tim bermain.

"Saya merasa siap menangani tim besar sejak dua tahun lalu. Saya selalu merasa siap," tegas Mihajlovic.

Dia juga sekaligus menjadi orang yang dipertaruhkan karir dan masa depannya, yang sayangnya juga berimbas pada nama besar Milan.

addResponsivePlayer('10d1trmfb52kk13nrlemjr33lf', '', '', 'perf10d1trmfb52kk13nrlemjr33lf', 'eplayer40', {age:1433393430745});