Dari Tangguh Jadi Rapuh - Mampukah Chelsea Langsung Bereaksi?

Chelsea memang tersingkir dari Liga Champions, tapi masih punya peluang untuk jadi kampuin Liga Primer. Di balik semua itu, sebenarnya Chelsea sudah merapuh sejak 2015 bergulir.

OLEH LIAM TWOMEY PENYUSUN YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Jika sedikit menengok ke Oktober lalu, tentu kita ingat Jose Mourinho pernah bercerita tentang ketidakmampuan Chelsea menghadapi tekanan. Yang dimaksud Mourinho adalah skuat musim lalu, Si Kuda Kecil yang sukses menghancurkan asa Liverpool meraih gelar Liga Primer, tapi tak mampu meraih satu gelarpun.

"Kami tak mampu mengatasi beberapa momen dalam laga," ujarnya, sebelum angkat bicara tentang perebutan gelar musim ini. "Saya rasa musim ini kami akan menderita kekalahan, tapi saya rasa kami takkan kalah karena gagal mengatasi tekanan di beberapa momen, atau bagian spesifik dalam laga."

Ketika ia berada di ruang konferensi pers di Stamford Bridge, pasca tersingkirnya mereka oleh Paris Saint-Germain secara mengejutkan, Mourinho harus mengakui kesalahannya.

"Performa kami tak cukup bagus," ujarnya. "Lawan kami lebih kuat dari kami, mereka mampu menghadpai tekanan dengan lebih baik. Kami mencoba untuk menang, tapi saat mereka bermain dengan 10 orang, kami malah merasa sangat tertekan."

Di malam yang mengejutkan itu, ini merupakan hal paling mendapat sorotan. Tim Mourinho tak terintimidasi oleh besarnya laga dan ketika Zlatan Ibrahimovic dikartu merah, muncul secercah harapan untuk meraih kemenangan di Liga Champions. Hanya saja, PSG merebut harapan tuan rumah dengan ketenangan, ambisi, sekaligus hasrat besar mereka.

Hasil ini membuat Chelsea berada di tengah kebingungan. Mereka baru saja mengantongi Piala Liga dan semakin dekat dengan gelar Liga Primer karena Manchester City belum konsisten. Memenangkan dua gelar tersebut jadi target paling mungkin di Stamford Bridge sejak era Carlo Ancelotti pada 2010. Adapun, masih sulit menerima fakta bahwa pasukan super Mourinho telah kehilangan kekuatannya sejak tahun berganti.

Chelsea tampak perkasa di paruh kedua 2014, hanya kalah sekali dalam 28 laga di semua kompetisi di awal musim, mencetak 65 gol dan memainkan sepakbola terbaik di Inggris. Hingga akhir Desember, empat gelar masih mungkin mereka raih dan performa Diego Costa - Cesc Fabregas jadi bahan omongan. John Terry dan Nemanja Matic pun juga tampak tangguh - tak kalah cemerlang dari pemain anyar Mou.

Mungkin, penurunan performa memang tak terhindarkan, tapi Mourinho harus khawatir dengan penurunan drastis timnya. Persentase kemenagnan Chelsea mengalami penurunan dari 75% dalam 28 laga di 2014, menjadi 53% dari 15 laga sejak Tahun Baru. Rerata gol per laga pun turun dari 2,3 menjadi 1,8 per laga.

Satu-satunya kemenangan dahsyat The Blues terjadi pada 17 Januari saat merekan menggilas Swansea City 5-0, hampir dua bulan lalu. Dalam 11 laga setelahnya, mereka seperti lupa cara "membunuh" lawannya, hanya menang sekali dengan catatan margin lebih dari satu gol - yakni di final Piala Liga melawan Tottenham Hotspur.

Swansea juga jadi tim terakhir yang merasakan garangnya Costa. Hingga saat ini, eks penyerang Brasil tersebut mendapat sorotan karena semakin tumpul. Total gol Terry, Branislav Ivanovic, Gary Cahill, dan Kurt Zouma telah mencetak gol yang sama dengan total gol Costa ditambah gol Eden Hazard. Kemarin Rabu (11/3), ia pun lebih cocok disebut sebagai pegulat ketimbang disebut striker yang membahayakan gawang Salvatore Sirigu.

Sembilan pemain telah menjadi starter dalam 30 (atau lebih) laga Chelsea dari total 43 yang telah mereka mainkan di semua kompetisi. Mourinho bersikeras, kelelahan bukan alasan, tapi faktinya, para pemainnya telah kecolongan [walau sempat memimpin lebih dulu] dalam tujuh laga sejak tahun berganti. Minimnya rotasi pun sepertinya jadi salah satu faktor skuat pelatih Portugis itu kehilangan tenaga supernya.

Setelah PSG mengalahkan timnya, Mourinho mengatakan, beberapa pemain Chelsea sudah siap untuk melakoni laga Liga Primer Inggris. Southampton, lebih segar karena istirahat selama 12 hari, tentu akan memanfaatkan kelelahan laskar Mourinho.

Berdasarkan apa yang kita lihat sejauh ini, sepertinya penurunan City - yang menghadapi rentetan laga berat - akan lebih menentukan gelar Liga Primer ketimbang performa Chelsea. Rentetan tujuh kemenangan di periode sibuk, pasukan Manuel Pellegrini seperti lebih haus gelar dan fokus untuk jadi juara.

Namun Mourinho dan para pemainnya tahu, sangat tidak bijak untuk bergantung pada nasib lawan. "Kami harus bangkit," ujarnya pasca kekalahan dari PSG. "Kami [masih] punya Liga Primer untuk dimenangkan dan kami berada dalam situasi yang bagus."

Jika memang Mou bisa mengatasi tekanan yang datang dalam beberapa pekan ke depan, itu berarti ia berhasil membawa Chelsea kembali ke jalur yang benar.

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.