DEBAT: Lionel Messi Vs. Raul - Siapa Legenda Yang Paling Berpengaruh Di Liga Champions

La Pulga menyamai rekor Raul di Liga Champions, tapi siapakah legenda yang memiliki dampak paling besar di Liga Champions?

OLEH KRIS VOAKES & BEN HAYWARD ALIH BAHASA DEWI AGRENIAWATI Ikuti di twitter

Dua legenda, beda generasi. Raul Gonzalez dan Lionel Messi, tak ada yang meragukan kehebatan dua pemain kelas dunia ini. Raul pernah berjaya bersama Real Madrid dan memenangkan tiga gelar Liga Champions antara 1998 dan 2002, sementara prestasi Messi tak kalah mengilap bersama Barcelona.

Usia Raul baru 20 ketika Los Galacticos menaklukkan Juventus untuk mengklaim gelar ketujuh di Eropa (pertama di era Liga Champions) pada 1998. Titel itu mengakhiri penantian panjang setelah Madrid berjaya pada 1956, 1957, 1959, 1969 dan 1966.

Penyerang Spanyol kemudian mencetak gol dalam kemenangan 3-0 atas Valencia di final 2000 lalu menambah pundi-pundinya ketika Madrid kembali merebut trofi Si Kuping Kembar dua tahun kemudian dengan kemenangan 2-1 atas Bayer Leverkusen. Tidak hanya itu, dalam perjalanan menuju tangga juara Raul juga menorehkan gol krusial melawan tim-tim elite Eropa, seperti Bayern Munich dan Manchester United.

Bagaimana dengan Messi?

Usianya masih sangat belia, 19 tahun, ketika Barca mengukuhkan diri sebagai kampiun Benua Biru pada 2006 namun dia tak banyak berperan dalam sukses Blaugrana karena musimnya berakhir lebih cepat setelah mendapat cedera saat berhadapan dengan Chelsea di putaran kedua.

Tapi, penyerang Argentina memainkan peran penting dalam kemenangan di 2009 ketika dia mencetak gol kedua untuk mengunci kemenangan The Catalans atas Manchester United yang ketika itu masih dibela Cristiano Ronaldo. Dua tahun kemudian, Si Kutu kembali menjadi mimpi buruk pasukan Sir Alex Ferguson berkat sepakan super dalam kemenangan 3-1 di Wembley.

Kini, dengan catatan 71 gol di kompetisi primer Eropa dan sama-sama mengantungi tiga titel, kedua pemain telah membuat dampak besar di Liga Champions. Tapi, siapakah legenda sesungguhnya? Dua jurnalis Goal mengutarakan opini mereka seperti berikut ini…

Ben Hayward
Saat karier profesionalnya usai suatu hari nanti, Lionel Messi akan dikenang dengan sederet momen magisnya bersama Barcelona - tapi salah satu yang paling memorable adalah suksesnya di Liga Champions.

Meski tidak banyak berperan dalam kemenangan Barca di 2006, La Pulga berhasil menyihir jutaan pasang mata di dunia pada final 2009 di mana mencetak gol kedua melalui sundulan melawan Manchester United di Roma. Sebelum laga, rivalitas dia dengan Cristiano Ronaldo menjadi pusat perhatian. Sang penyerang Portugal, diyakini banyak kalangan, lebih komplet dibandingkan Messi - tapi fakta membuktikan andalan Argentina-lah yang mencuri perhatian dengan header brilian ke gawang Edwin van der Sar.

Pada 2011, kontribusinya kian nyata. Bertemu Real Madrid di babak semi-final, Messi membungkam Santiago Bernabeu dengan sepasang gol untuk memberikan kemenangan 2-0 pada tim Pep Guardiola dan torehan yang kedua disebut-sebut sebagai gol terbaik di Barca, di mana Messi melakukan drible untuk melewati sejumlah pemain sebelum menaklukkan Iker Casillas.

Di partai puncak, aksi fenomenal kembali disuguhkan Messi dengan melepaskan tembakan jarak jauh melawan Manchester United dalam kemenangan 3-1 di Wembley sekaligus mengunci titel ketiga dalam kurun waktu lima musim.

Itu hanya secuil kisah Messi di partai final. Pecinta sepakbola tentu masih ingat empat gol fantastis-nya versus Arsenal pada 2010, sampai-sampai Arsene Wenger menyebutnya sebagai pemain “Playstation”, belum lagi rekor lima gol kontra Bayer Leverkusen pada 2012 dan dia juga satu-satunya pemain yang mengukir empat hat-trick di Liga Champions.

Jadi, meski peran Raul dalam sukses Madrid begitu penting, prestasi Barca di Liga Champions di bawah Pep Guardiola menjadi luar biasa dengan Messi.

“Tanpa Leo kami bisa kompetitif. Tapi kami tidak akan bisa mencapai apa yang telah kami capai,” kata Guardiola.

Di usia yang masih 27, Messi berpotensi melampaui rekor Raul (bersama dengan Cristiano Ronaldo yang telah membukukan 70 gol) jika dia bertahan di musim berikutnya.

Raul adalah legenda Liga Champions, tapi Messi ada di level lain.

Kris Voakes
Messi, cepat atau lambat akan menjadi raja Liga Champions. Usianya yang baru 27 mendukung itu.

Tapi, ketika Anda berada di tengah-tengah suatu generasi, kadang sulit untuk mengingat orang dari masa lalu. Dengan duel Messi dan Cristiano Ronaldo menjadi pusat perbincangan di era modern, banyak yang lupa dengan pencapaian Raul di sepakbola Eropa.

Ketika Liga Champions dihujani kualitas lini belakang lawan yang lebih mumpuni, Raul harus berhadapan dengan bintang-bintang sekelas Paolo Maldini, Matthias Sammer, Jurgen Kohler, Roberto Ayala, Alessandro Nesta dan Paolo Montero untuk menorehkan 71 golnya selama satu dekade lebih.

Dengan lini belakang seperti itu bisa menjadi bukti bahwa perjalanan Raul sangat teruji, bahkan saat striker terbaik hanya mencetak 25 gol per musim. Maka tak heran jika si Raja Spanyol merupakan bintang di Liga Champions.

Dia merupakan pahlawan di dua dari tiga final Real Madrid antara 1998 dan 2002, tapi lebih dari itu dia terus mencetak gol, bahkan setelah meninggalkan Bernabeu.

Raul masih secara reguler mencetak gol di kampanye terakhirnya di Liga Champions bersama Schalke pada 2011 seperti yang dilakukannya ketika bersama Madrid. Bahkan pada periode 2004/05 hingga 2009/10 saat Madrid tidak mampu menembus lebih dari babak 16 besar, insting Raul di depan gawang tak pernah sirna.

Jadi, Messi mungkin bintang di generasi sekarang, tapi Raul adalah raja saat mengukir gol bukan pekerjaan mudah.

addCustomPlayer('8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', '', '', 620, 540, 'perf8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', 'eplayer4', {age:1407083239229});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics