DEBAT: Rebutan Tiket Eropa Di Liga Primer Inggris, Siapa Dapat?

Sepuluh laga tersisia, persaingan menuju empat besar kian semarak. Bisakah Southampton membuat kejutan? Apakah Manchester United akan bernasib sama seperti musim lalu?

Semuanya mau empat besar. Tak ada satu pun klub di dunia yang menolak berpentas di Eropa, merasakan mewahnya panggung Liga Champions. Tak terkecuali tim-tim dari Liga Primer Inggris, sebuah kompetisi liga yang disebut-sebut paling populer, paling seru, dan arguably terbaik di dunia.

Meski di masa mendatang EPL diperkirakan bakal lebih prestisius ketimbang Liga Champions akibat prize money yang kian menggunung dari hak siar, tetap saja kompetisi teratas sepakbola Inggris itu tidak akan mampu menandingi dahsyatnya atmosfer bertanding dengan klub-klub terbaik dari Benua Biru.

Maka dari itu, sejak kick-off pembuka pada Agustus lalu, ke-20 tim saling sikut untuk masuk ke zona Eropa, entah itu menargetkan Liga Champions ataupun Liga Europa. Hingga pekan ke-28, sedikitnya ada lima klub yang berpotensi saling serobot untuk berebut posisi empat besar hingga pekan terakhir.

Mereka adalah Arsenal, Manchester United, Liverpool, Southampton, dan Tottenham Hotspur yang bertengger di urutan 3-7 klasemen dan hanya dipisahkan oleh poin yang minimal. Dua tim teratas, Chelsea dan Manchester City, tidak dimasukkan karena mereka sudah jago alias hampir pasti membawa pulang tiket Eropa musim depan.

Arsene Wenger, yang saat ini menjadi manajer paling sepuh di Inggris karena sudah menukangi Arsenal sejak 1996, mengungkapkan, setidaknya dibutuhkan 72 poin bagi sebuah tim untuk bisa mengamankan empat besar. Sepakat atau tidak, si anak bawang EPL, Louis van Gaal, ternyata sudah mengamini pernyataan sang professor.

"Saya sendiri tidak tahu seberapa besar angka yang dibutuhkan untuk bisa bermain di Liga Champions, tapi dia [Wenger] lebih berpengalaman di Liga Primer, jadi saya memercayainya. Saya tahu bahwa persaingan bakal berjalan hingga pekan terakhir," tutur bos Manchester United itu.

Goal Indonesia mencoba untuk menganalisis dan memprediksi tim mana yang punya potensi untuk melesat atau tergelincir dalam upaya mereka mencapai panggung Eropa. Simak!

Berbicara zona Liga Champions Liga Primer Inggris, Arsenal mungkin adalah jagonya. Bagaimana tidak, selama 15 musim terakhir tim asuhan Arsene Wenger ini selalu masuk jajaran empat besar klasemen akhir. Mereka lantas lolos ke Liga Champions, entah secara langsung atau harus melalui babak kualifikasi, meski tak pernah jadi juara.

Fakta itu lantas memunculkan satu pepatah populer di Inggris Raya yang berbunyi, "sesulit dan seburuk apapun kondisi Arsenal, mereka tak akan pernah benar-benar menderita dan pasti tersenyum di akhir musim."

Ya, kenyataannya memang begitu. Sejauh apapun The Gunners tenggelam di awal atau pertengahan musim, mereka selalu saja bangkit dan bisa tersenyum di akhir musim, karena tiket Liga Champions seakan tak mau lepas dari genggaman mereka.

Tengok saja cerita musim ini, yang seakan menglulang kejadian di musim-musim sebelumnya. Hanya meraih empat kemenangan dari 12 matchday perdana, Arsenal terpuruk hingga terjerembab ke peringkat 14 klasemen dan menipiskan ambisi untuk jadi kampiun EPL.

Namun entah apa yang memotivasi Alexis Sanchez cs, sehingga mereka bangkit hingga menorehkan 12 kemenangan dari 16 laga lanjutan. The Gunners pun kini nyaman duduk di peringkat tiga dengan 54 poin, terpaut empat poin dari Manchester City di atasnya dan satu poin dengan Manchester United di bawahnya.

Menilik rentetan performa apik di kompetisi domestik, jadwal krusial yang terpapar nampaknya akan dilalui dengan mulus. Tentunya dengan 'bantuan' jika mereka memang benar-benar tersisih dari babak 16 Liga Champions oleh AS Monaco. Kebugaran pemain akan tetap terjaga dan fokus hanya akan terletak di kompetisi domestik, yakni EPL dan Piala FA.

Dengan EPL yang tinggal menyisakan sepuluh laga pamungkas, masa-masa sulit baru akan dilalui saat menjamu Liverpool di matchday 31 dan Chelsea di matchday 34. Jika gagal meraih poin, maka Arsenal akan kesulitan kala bertandang ke markas Hull City matchday 36. Seperti diketahui, The Tiger yang kini sedang berjuang di zona degradasi diyakini akan sangat ngotot jelang akhr musim. Muaranya ada pada duel besar di Old Trafford sepekan setelahnya. Tapi jika mendulang poin, maka dua laga yang disebut terakhir bisa dilalui Santi Cazorla cs dengan kalem.

- Ahmad Reza Hikmatyar

“Jika David De Gea tidak menampilkan performa terbaiknya seperti di musim ini, United sekarang mungkin berada di zona degradasi,” demikian yang dituturkan mantan manajer Manchester United di era 1970-an, Tommy Docherty, beberapa waktu lalu

Pernyataan Docherty itu mungkin terlihat ekstrem. Namun, pernyataan itu ada sedikit banyak ada benarnya, terutama melihat laga terkini United ketika mereka susah payah mengatasi Newcastle United 1-0, Kamis (5/3) dini hari WIB. Ya, De Gea melakukan banyak penyelamatan krusial di laga tersebut untuk membuat Setan Merah terus menatap empat besar.

Bagi fans United, musim lalu adalah tragedi dan kedatangan Louis van Gaal pada Juli lalu adalah solusi. Hancurnya dinasti emas Sir Alex Ferguson ingin direstorasi sesegera mungkin oleh sang meneer Belanda untuk mengembalikan United ke posisi terhormat di tanah Inggris.

Nyatanya, Roma tidak dibangun dalam semalam. United harus jatuh bangun di sepanjang musim. Van Gaal ternyata butuh adaptasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah formasi tiga beknya cocok, apakah menempatkan Wayne Rooney sebagai gelandang adalah keputusan tepat, mengapa pemain termahal di Inggris Angel Di Maria gagal bersinar, dan tentu saja bagaimana caranya lolos ke Liga Champions.

Beruntung, dengan bantuan De Gea, United kini mulai terlihat stabil di posisi tiga-empat. Van Gaal perlahan mulai menemukan jawabannya. Ia kembali ke formasi empat bek dengan segala permutasinya, memasang Rooney sebagai striker. Jika target juara sudah terlambat, maka empat besar adalah hal yang realistis - seperti yang dicanangkan Van Gaal. Namun ada tapinya.

Menengok lawan United di sisa sepuluh laga, Van Gaal patut was-was. Maklum, United setidaknya akan menghadapi lima tim kuat di sisa musim. Berturut-turut ada Tottenham, Liverpool, Manchester City, Chelsea, dan Arsenal yang siap menahan laju United. Belum lagi kalau mereka tergelincir dalam partai melawan tim-tim medioker seperti Everton dan Crystal Palace. Bisa-bisa, mereka kembali tanpa tiket Eropa seperti era David Moyes musim lalu.

Van Gaal boleh berencana, namun lawan-lawan United-lah yang akan menentukan layak tidaknya mereka menembus Eropa.

- Sandy Mariatna

Sudah jadi rahasia umum kalau Liverpool main buruk di awal musim hingga awal Desember 2014. Replika musim lalu - di mana mereka menjadi pemburu gelar hingga laga terakhir - hilang sudah bersama Luis Suarez. Mereka hanya mampu meraih 21 poin dari 16 laga yang mereka lakoni dan terdampar di peringkat 9. Well, sebuah pencapaian yang biasa dicapai oleh klub medioker Liga Primer Inggris.

Namun, semua berubah ketika Brendan Rodgers menerapkan formasi inkonvensional [3-4-2-1/3-4-3]. Sejak menerapkan formasi itu, The Reds telah mengantongi 27 poin dari 11 laga, bahkan mereka telah meroket ke peringkat 5 dan hanya tertinggal 2 poin dari zona Liga Champions!

Gelar Liga Primer memang sudah terlalu jauh untuk dikejar - biarkan Chelsea dan City ribut sendiri - tapi empat besar bukan lagi mimpi bagi The Reds. Liga Primer masih menyisakan sepuluh laga dan tak banyak halangan yang menghadang. Tersingkirnya mereka dari Liga Europa pun jadi dorongan positif untuk konteks perebutan empat besar.

Ada begitu banyak laga yang menanti di hadapan Liverpool. Kontra Swansea City di Liberty Stadium, Stoke City di Britannia Stadium, dan West Bromwich Albion merupakan beberapa di antaranya. Namun, laga kontra Man United, Arsenal jadi yang paling krusial untuk balapan kuda Liverpool.

Pertama, keduanya merupakan pemegang kunci empat besar untuk sementara. Liverpool wajib menang atas United guna mengangkat moral sekaligus menggeser kemapanan rival besarnya itu. Ini takkan mudah karena Louis van Gaal sering mencuri poin secara mengejutkan. Setelahnya, mereka akan langsung dihadang Arsenal. Walau masih inkonsisten, Arsene Wenger tahu betul caranya mapan di empat besar dan Rodgers harus mewaspadai hal ini.

Kedua, rivalitas dengan kedua tim tersebut terbilang cukup panas. Apalagi kontra United – yang membantai mereka 3-0 di awal Desember – bakal jadi laga balas dendam yang indah buat The Reds. Tiga poin dari dua laga ini tentu bisa jadi faktor utama yang mengangkat moral Liverpool untuk berjuang ke empat besar.

Jika dua batu besar itu sudah terlompati, hanya Liverpool yang bisa menggagalkan laju mereka dan hey, ini bukan kiasan! (Ingat bahwa mereka gagal merebut Liga Primer musim lalu karena kesalahan mereka sendiri – kontra Chelsea & Crystal Palace.)
- Yudha Danujatmika

Kedatangan Ronald Koeman menghadirkan angin segar bagi Southampton. Sempat diprediksi bakal jatuh ke zona degradasi karena ditinggal Mauricio Pochettino, The Saints malah jadi salah satu kontender kuat peraih tiket zona Liga Champions. Mereka juga sempat mengklaim peringkat dua Liga Primer sebelum digeser City ke peringkat ketiga di tengah musim.

Sayang, performa ciamik The Saints diganjal inkonsistensi sejak memasuki tahun 2015. Mereka sempat mengantongi empat kemenangan dalam lima laga Januari – termasuk kemenangan atas United dan Arsenal, tapi kekalahan dari Crystal Palace di St. Mary jadi titik balik kejatuhan mereka. Laskar Koeman hanya mampu meraih satu kemenangan di periode Februari – kalah tiga kali, imbang sekali.

Banyak simpang siur mengenai efektivitas taktik yang mulai berkurang, habisnya sulap Koeman, maupun terlalu mudanya skuat mereka. Adapun, laga kontra Crystal Palace dini hari kemarin (4/3) menjawab semua keraguan tersebut.

The Saints tampil meyakinkan melawan laskar Alan Pardew. Mereka mendominasi penguasaan bola dan mencatatkan lebih banyak peluang. Performa apik Victor Wanyama dan Morgan Schneiderlin jadi kuncinya, sembari Sadio Mane jadi aktor utama berkat gol semata wayangnya. Kemenangan ini menjadi semacam titik cerah bagi Koeman dalam perburuan empat besar, ya, mereka masih ada di sana, tak jauh dari peringkat keempat.

Namun ujian terbesar telah menanti mereka di depan mata. Laga kontra Chelsea pekan depan bakal mendapat sorotan lebih bagi perburuan Koeman. The Blues baru saja menjuarai Piala Liga dan performanya musim ini tak bisa diremehkan. Bisa dikata, Jose Mourinho jadi pengganjal utama The Saints dalam mengembalikan posisi mereka di sepuluh laga terakhir.

Jika berhasil melaluinya, masih ada klub London yang menanti mereka di pekan 34: Tottenham Hotspur. Sama-sama menyandang status pemburu Liga Champions, laga ini sangat krusial bagi The Saints. Laskar Pochettino dengan Harry Kane-nya pun tampil impresif hingga saat ini, termasuk membawa mereka ke final Piala Liga. Tampil di kandang tidak jadi jaminan kemenangan bagi Koeman.

Sebagai penutup Liga Primer mereka, seandainya empat besar masih masuk akal di pekan terakhir, Manchester City adalah ganjalan terakhir mereka. Akhir musim yang berat bagi Koeman dan tangan emasnya. Empat besar sepertinya masih terlalu berat bagi mereka.

- Yudha Danujatmika

Layaknya lagu tersohor karya grup band Padi, berjudul "Kasih Tak Sampai". Sepertinya gambaran itulah yang sempurna disematkan pada Tottenham Hotspur, soal ambisi mereka di setiap musimnya. Tak diragukan memang jika kini Spurs masuk dalam kategori tim papan atas Liga Primer Inggris, sehingga lazim jika target mereka di setiap musimnya adalah finish di zona Liga Champions.

Namun hasrat itu selalu saja pupus ketika mereka tinggal sidikit lagi menggapainya. Sepanjang sejarah, Spurs baru merasakan dahsyatnya atmosfer Piala/Liga Champons sebanyak dua kali. Pentas terakhir mereka terjadi empat musim silam pada 2010/11. Kala itu Luka Modric cs meraihnya dengan menduduki peringkat empat klasemen akhir EPL semusim sebelumnya.

Ketika ingin mengulanginya lagi, Spurs selalu sial dengan finish selisih beberapa poin saja dari tim peringkat keempat. Sekali meraih kembali peringkat keempat di musim 2011/12, mereka harus legawa karena tempatnya diambil Chelsea lewat kebijakan juara Liga Champions.

Setelah konsisten dengan berada di peringkat empat, lima, dan enam, musim ini bisa jadi musim teburuk The Liliywhites dalam konstelasi klasemen lima musim terakhir, dengan duduk di peringkat ketujuh.

Meski dalam momen kebangkitan di kompetisi domestik, menilik rentetan hasil hingga menyisakan sepuluh laga pamungkas EPL, kiprah Spurs secara statistik lebih buruk dari musim lalu. Koleksi 47 poin dari 27 matchday, terpaut tiga poin dari perolehan musim lalu lewat jumlah matchday yang sama. Kompetisi zona Liga Champions musim ini yang terasa jauh lebih ketat, membuat pasukan Mauricio Pochettino berpotensi finish di peringkat tujuh klasemen akhir, jauh dari target awal musim.

Zona Liga Champions, nyaris mustahil digapai, ketika di sana ada Arsenal, Liverpool dan Manchester United, yang sama-sama ngotot dan memiliki komposisi skuat lebih baik. Terlebih menilik jadwal Spurs yang masih harus berhadapan dengan Man United, Southampton, dan Manchester City, potensi besar akan kekalahan sudah menghantui

Praktis, persaingan kini hanya tinggal perebutan zona Eropa dengan Soton, yang terlihat paling realistis. Akan jadi sebuah kejaiban dan mukjizat jika sampai Spurs tampil di Liga Champions musim depan.

- Ahmad Reza Hikmatyar

Keterangan: Posisi 3: Otomatis ke Liga Champions, 4: Kualifikasi Liga Champions, 5: Liga Europa

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.