DEBAT: Robert Lewandowski Di Tangan Pep Guardiola, Sukses Atau Meredup?

Pemain berposisi penyerang murni biasanya tak cocok dengan sistem permainan Pep Guardiola. Bagaimana dengan Robert Lewandowski?

OLEH DEDE SUGITA Ikuti di twitter

Di balik gelimang suksesnya sebagai pelatih, Pep Guardiola seolah tak pernah akur dengan striker murni.

Sederet penyerang berkualitas pernah diasuh Guardiola, dan sebagian besar dari mereka gagal menunjukkan tajinya dalam gaya permainan yang dianut pria Catalan itu, atau minimal tidak tahan lama memperkuat tim besutannya.

Contoh paling gres adalah Mario Mandzukic, yang meninggalkan Bayern Munich untuk bergabung ke Atletico Madrid hanya setahun setelah Guardiola menukangi The Bavarians.

Memang Guardiola bukan faktor tunggal kepergian Mandzu karena sebelumnya Bayern telah memboyong Robert Lewandowski dari Borussia Dortmund. Tetapi pantas disimak perkataan bintang Kroasia itu tak lama usai kepindahannya.

"Jujur saja, gaya yang diinginkan Guardiola di Bayern tak sesuai dengan saya. Pada leg pertama melawan Real Madrid [di semi-final Liga Champions] saya sepenuhnya mengerti, betapa pun kerasnya saya berusaha, saya tak akan bisa mengeluarkan kemampuan terbaik saya dengan gaya ini," demikian tutur Mandzukic.

Nah, yang menarik di sini adalah Lewandowski sejatinya bertipe sama dengan Mandzukic, kendati harus diakui kemampuan nama pertama lebih paten.

Mengingat Bayern sudah lama memburu Lewandowski, bahkan sebelum Guardiola datang, sang pelatih jadi terobligasi untuk memainkannya. Dalam kata lain, Guardiola mesti dapat menemukan formula pas agar keberadaan seorang striker kelas dunia seperti Lewy dalam tim tidak mubazir.

Terlepas dari hasil jelek di Piala Super, Lewandowski melakoni pramusim positif bersama Bayern

Menilik riwayat para penyerang terdahulu dalam pasukan besutan Pep, mayoritas sebenarnya menorehkan peningkatan produktivitas pada musim pertama bersama pria Catalan itu, dengan Zlatan Ibrahimovic menjadi pengecualian tunggal.

Bahkan Mandzukic pun terbukti lebih tajam pada kampanye 2013/14 dibandingkan musim sebelumnya di bawah komando Jupp Heynckes. Namun, statistik belum tentu selaras dengan kenyamanan bermain.

Possession football usungan Guardiola cenderung mengabaikan peran penyerang ortodoks dan inilah yang membuat para frontman tidak terlalu menonjol dalam tim Pep, di mana pemain-pemain bertipe No. 9 justru kerap diposisikan melebar dan diharuskan sering turun lebih ke dalam.

Saat pertama diangkat menukangi tim utama Barcelona, Guardiola mewarisi skuat berisikan Samuel Eto'o dan Thierry Henry. Keduanya ikut berandil penting membantu Pep mempersembahkan treble untuk Blaugrana pada musim pertamanya di Camp Nou.

Namun, setelahnya Eto'o langsung dilego, sementara Henry juga dipersilakan pergi hanya setahun berselang.

"Guardiola meminta saya melakukan hal spesifik -- hal yang biasanya tidak diminta dari striker. Saya selalu berpikir seperti penyerang dan tak bisa melakukan apa yang dimintanya. Saya menjelaskan kepadanya bahwa dia keliru. Dia meminta saya untuk meninggalkan sesi latihan. Pada akhirnya, yang benar adalah saya," kenang Eto'o.

Bintang Kamerun itu dicantumkan dalam kesepakatan untuk menggaet Zlatan Ibrahimovic dari Internazionale. Kehadiran Ibra semula diprediksi bakal menambah dahsyat Blaugrana. Sebagai striker bigman berteknik tinggi, Ibra dianggap ideal buat melengkapi amunisi lini depan Barca yang dipenuhi pemain berpostur mungil.

Zlatan Ibrahimovic | Tak sesuai skema Pep Guardiola

Meski melakoni awal gemilang dalam kariernya di La Liga, semua tahu apa yang terjadi kemudian. Ibra pada akhirnya tersisihkan dengan Guardiola memplot pemain kesayangannya, Lionel Messi, sebagai "false 9" alias penyerang palsu. Hubungan Pep dan Ibra lantas memburuk. Sang pemain balik ke Serie A dan Pep seakan makin anti pada striker murni.

"Guardiola mengorbankan saya. Itulah kenyataannya. Salah satu rekan saya mengatakan: 'Zlatan, ini seperti Barca membeli Ferrari tapi mengemudikannya seperti Fiat.' Guardiola mengubah saya menjadi pemain yang lebih simpel dan buruk. Itu sebuah kehilangan untuk seluruh tim," tutur Ibracadabra.

Di Bayern, Guardiola mencoba memberi peran ala Messi kepada Mario Gotze, namun usaha tersebut tak berimbas positif.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, mau tak mau kini Guardiola harus dapat menemukan cara untuk memaksimalkan potensi Lewandowski di Bayern. Kendati gagal membawa Bayern merengkuh gelar DFL-Supercup setelah ditundukkan mantan timnya tadi malam, Lewandowski telah menunjukkan sinyal positif dengan menorehkan lima gol dalam lima penampilan pramusim dengan Die Roten.

Sang striker menutup perjalanannya bersama Dortmund musim lalu dengan gelar topskor Bundesliga melalui koleksi 20 gol. Mampukah ia melanjutkan ketajaman itu bersama Guardiola?

addCustomPlayer('1ab1dwyjh10l41hrbbvt8oavmj', '', '', 620, 540, 'perf1ab1dwyjh10l41hrbbvt8oavmj', 'eplayer4', {age:1407083391090});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics