Dimitri Payet, Senjata Kecil Yang Tak Boleh Dilupakan Prancis

Setelah mencampakkannya selama hampir satu tahun, Didier Deschamps seketika dibuat sadar, betapa vitalnya sosok Dimitri Payet, yang tampil elegan saat Prancis menundukkan Belanda.

Sepatutnya, pelatih Prancis Didier Deschamps membuka mata terhadap performa menjulang Dimitri Payet bersama West Ham United sepanjang musim ini.

Terlalu naif rasanya bila melihat keputusan sang juru taktik yang sejak Juni tahun lalu mencueki winger gesit tersebut. Tak ada panggilan timnas sama sekali sebelum Jumat pekan lalu, akhirnya Deschamps seperti dibuat melek bahwa keputusannya mengabaikan pemain 28 tahun tersebut selama hampir satu tahun terakhir ini adalah blunder.

Payet benar-benar menunjukkan kualitas sejati dia di momen comeback-nya saat membawa Les Bleus menghajar Belanda secara spartan, 3-2, dalam duel uji coba internasional. Di laga yang diwarnai upacara penghormatan kepada mendiang legenda besar sepakbola Belanda Johan Cruyff itu, Payet memang tidak mendonasi gol atau assist, tapi kehadirannya memberi pengaruh signifikan bagi Si Ayam Jantan.

Sekali dipercaya Deschamps, Payet langsung menjadi pilihan terdepan dengan melengserkan Anthony Martial dari starting line-up di laga tersebut. Dia diplot sebagai gelandang serang, posisi kedua favoritnya selain sayap. Laga baru berumur empat menit, dia sudah membuat Jasper Cillessen ketar-ketir dalam menyelamatkan gawangnya. Momen kunci yang dikreasi Payet pada pertandingan ini terjadi sejam laga berlalu. Dari tengah lapangan, sang winger berlari dengan meyakinan sebelum melepas dentuman keras yang mengenai tiang gawang.

Selepas pertandingan, statistik berbicara! Dalam laga tersebut, Payet rupanya menjadi pemain yang paling banyak membuat sentuhan bola [89], paling sering melepas tembakan [4], dan paling rajin menciptakan peluang bagi rekan-rekannya [6] di antara seluruh penggawa yang terlibat di partai tersebut! Deschamps tentu memerhatikan betul bagaimana pengaruh vital yang disuntikkan Payet ke dalam skuatnya, dan sang pelatih sepertinya mulai tersadar betapa bernilainya seorang Payet.

"Setiap kali menyentuh bola, ada saja sesuatu yang terjadi. Dia memiliki kualitas yang super besar dan membuat peluang-peluang masif. Dia berada dalam puncak performanya," aku Deschamps kepada awak media seusai pertandingan.

Dampak instan Payet di laga Belanda tidak lepas dari keberhasilan dia menaklukkan Liga Primer Inggris, salah satu kompetisi terbaik dunia yang diyakini memiliki tingkat kesulitannya sendiri, di musim perdananya.

Migrasi Payet ke West Ham United dari Olympique Marseille pada awal musim mulanya tidak terlalu menyita perhatian banyak kalangan. Media baru memberi perhatian khusus ketika debutnya berakhir manis 9 Agustus lalu. Berkat satu assist-nya yang berbuah gol pembuka dari Cheikhou Kouyate, The Hammers mempecundangi Arsenal 2-0 di hadapan publik Emirates. Sepekan berselang, Payet kembali tampil ekselen dengan mencetak gol pertamanya di Inggris meski kalah 2-1 dari Leicester City.

Payet sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kesulitan untuk beraklimatisasi di kancah teratas Negeri Ratu Elisabeth. Hal ini terbukti lewat kegemilangannya yang berlanjut pada 14 September lalu ketika sepasang golnya membuat Newcastle United tak berkutik di Boleyn Ground. Walau sempat menepi per November lantaran cedera engkel, hebatnya seketika comeback 12 Januari awal tahun ini, dia langsung kembali mengepak gol untuk membawa West Ham menaklukkan Bournemouth, 3-1. Istimewa, karena dia mencetak gol berkelas lewat tendangan bebas, torehan yang lantas mendapatkan sanjungan setinggi langit dari sejumlah pandit Liga Primer.

West Ham memahami betul teori "semakin seorang pemain melesat, akan menyulut minat klub-klub top". Makanya, tanpa berlama-lama, Februari lalu klub memberi kontrak baru berjangka panjang yang akan mengikat Payet di Boleyn Ground hingga 2021.

Penampilan tokcer Payet semakin diakui di Inggris seiring dengan keberhasilannya menyabet Player of the Year 2016 dari London Football Awards [LFA] -- penghargaan pribadi yang ditujukan untuk para pemain yang berkancah di wilayah London -- Maret ini. Payet secara mengagetkan mampu mengalahkan sosok-sosok superstar penuh talenta macam Mesut Ozil [Arsenal], Harry Kane [Tottenham Hotspur], Willian [Chelsea] dan Odion Ighalo [Watford].

Sebelum dipercaya Deschamps turun untuk melakoni bentrok dengan Belanda, Payet juga masih sempat membuat gol spektakuler, yang lagi-lagi dibuat via free-kick dari jarak 35 meter saat memainkan perempat-final Piala FA kontra Manchester United di Old Trafford, torehan cantik yang akhirnya memaksa laga harus replay karena berakhir seri 1-1.

Secara keseluruhan, Payet telah mengantungi 11 gol dan sembilan assist dari 30 laga yang dilakoninya di seluruh kompetisi. Statistik impresif ini pula yang kemudian membuat beberapa kalangan menyandingkannya dengan legenda besar Prancis Zinedine Zidane, meski yang bersangkutan merasa dirinya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan sang maestro.

Kepiawaian lain yang dimiliki Payet adalah kemampuannya bertransformasi posisi dari winger menjadi gelandang serang. Dari 22 penampilannya di liga, tujuh laga di antaranya dimainkan Payet sebagai AMF. Tak ada kesulitan, di sektor ini dia sanggup mendulang lima gol dan tiga assist di Liga Primer. Jelas, bakat ganda Payet ini seirama dengan dinamika taktik ala Deschamps, yang terbisa menggerakkan sistem 4-3-3, akan tetapi bilamana permainan bola kreatif diperlukan dia bisa mengubahnya menjadi 4-2-3-1. Apalagi, pengatur serangan munri Prancis di skuat terkini hanya ada sosok Yohan Cabaye menyusul Mathieu Valbuena didepak dari tim karena kasus kontroversialnya dengan Karim Benzema. Di titik ini, Payet bakal amat berguna bagi Les Bleus.

Boleh saja Deschamps mencampakkan Payet selama hampir setahun terakhir. Namun suporter Prancis tampaknya bakal marah besar bila keputusan final pria 47 tahun itu untuk 23 pemain Prancis di Euro 2016 nanti tidak menyertakan eks personel Marseille itu.

"Saya kira, saya berada di periode terbaik dalam karier saya. Jika semuanya bisa membawa saya dalam seleksi, itu akan luar biasa. Saya akan bekerja untuk memastikan tahun terbaik saya masih ada di depan mata saya," tutur Payet.

Posisi tawar Payet kini cukup besar untuk menembus skuat lengkap Prancis pada musim panas nanti, dan Deschamps agaknya tak punya alasan untuk tak menjamin satu tempat bagi pemain berpostur gempal itu.

"Jika saya membawa Payet, itu karena saya yakin atau saya menilai, dia bisa menghadirkan sesuatu," tandas Deschamps.