Duel Persis Solo Kontra PSIS Semarang Diwarnai Perkelahian

Persis terhindar dari kekalahan di hadapan publiknya sendiri berkat gol penalti Anggo Julian.

Pertandingan terakhir Grup A turnamen Piala Polda Jateng 2015 antara Persis Solo dan PSIS Semarang di Stadion Manahan kemarin diwarnai perkelahian antarpemain. Dalam laga itu, kedua tim bermain imbang 1-1.

Duel Persis kontra PSIS sudah panas sejak menit awal. Persis ngotot ingin meraih kemenangan agar lolos ke semi-final. Namun hal itu menjadi beban Anggo Julian dkk, sehingga tak bisa mengembangkan permainan.

Sementara, Mahesa Jenar meladeni dengan kesolidan antarlini. Demam panggung Persis dimanfaatkan PSIS untuk menekan. Peluang manis tim tamu diciptakan M Yunus. Namun, sepakan pemain bernomor tujuh itu berhasil diamankan kiper Ghoni Yanuar. Babak pertama ditutup dengan skor kacamata.

Memasuki babak kedua, kelemahan kepemimpinan wasit, ditambah dengan kerasnya laga menimbulkan percikan-percikan kecil di lapangan. PSIS kembali mendapat peluang emas lewat Bakori Andreas yang tinggal berhadapan dengan kiper. Sepakannya masih membentur mistar gawang Persis.

Tensi laga terus meninggi. Beberapa pemain terlibat keributan. Pada menit ke-64, wasit terpaksa menghentikan laga, karena terjadi keributan. Kejadian berawal saat striker Persis Nanang Asripin dijatuhkan Welly Siagian. Kubu Persis menilai kejadian itu merupakan pelanggaran, namun wasit tak menganggapnya. Tak lama berselang, terjadi aksi baku pukul sejumlah pemain.

Kapten PSIS Fauzan Fajri mendapat kartu merah karena memukul Nanang. Setelah laga diteruskan, tim tamu masih memberikan tekanan. Menit ke-86, tendangan bebas Andi Rahmad berbuah gol.

Di penghujung laga, wasit memberikan hadiah penalti bagi Persis setelah penyerang Saddam Husain dijatuhkan di kotak terlarang. Anggo Julian yang mengambil penalti berhasil menyarangkan bola menjadi gol. Skor 1-1 berakhir hingga babak kedua selesai.

Pelatih PSIS Semarang M Dofir mengkritik kinerja wasit asal Kudus, Dwi Purba. Dofir menilai, ketidaktegasan wasit berbuah kericuhan antarpemain, sehingga laga sempat dihentikan sekitar lima menit.

“Wasit tidak tegas, sehingga memantik emosi pemain kedua tim. Jujur saya sangat kecewa dengan wasit. Kami datang ke Solo tidak punya misi apa pun, karena PSIS sudah lolos. Tapi wasit yang memimpin sangat lemah, sehingga laga sempat ricuh,” cetus Dofir.

Sementara arsitek Persis Aris Budi Sulistyo mensyukuri hasil imbang tersebut. Menurut Aris, tim besutannya berhasil mendampingi PSIS ke semi-final. Diakuinya, beban berat disandang Anggo Julian dkk saat laga, dan menjadi bumerang.

“Pemain sering terburu-buru, sehingga banyak peluang terbuang percuma. Kami lolos dramatis, dan siap menghadapi partai semi-final,” ucap Aris. (gk-18)