Efektivitas Rendah Benamkan El Derbi Madrileno

Derby Madrid sejatinya layak menghasilkan pemenang, jika saja salah satu tim bisa lebih klinis dalam penyelesaian akhir.

Duel super panas tersaji di Vicente Calderon, manakala si empunya stadion, Atletico Madrid, diharuskan menjamu saudaranya, Real Madrid, dalam tajuk El Derbi Madrileñopada lanjutan La Liga Spanyol jornada tujuh, Senin (5/10) dini hari WIB.

Dihadiri oleh 53 ribu lebih penonton yang memadati Calderon, bentrok berlangsung sangat menghibur, dengan kedua tim menerapkan permainan terbuka. Madrid menguasai jalannya pertandingan di babak pertama, namun Atletico berhasil bangkit di paruh kedua.

Sayang seribu sayang karena dari total 27 tembakan ke gawang yang dilancarkan kedua tim, hanya sepasang gol saja yang sanggup dihasilkan. Ya, efektivitas rendah dari Los Rojiblancos dan Los Blancos dalam Derby Madrid edisi ke-211 ini membuat pertandingan berakhir imbang 1-1.

Hasil itu amat disayangkan kedua belah pihak, karena menilik gelontoran kans yang dihasilkan, seharusnya terdapat pemenang di partai ini. Buruknya penyelesaian akhir di depan gawang jadi masalah utama, sekaligus menegaskan jika Atletico dan Madrid memang sedang krisis di sektor tersebut.

Meski bertindak sebagai tim tamu, Madrid mampu memegang kendali permainan yang membuat Atletico bermain di bawah tekanan. Los Merengues bahkan sanggup mengreasikan tiga peluang emas, kendati pertandingan baru berjalan sepuluh menit.

Dimulai dengan tandukan Cristiano Ronaldo yang secara ajaib melebar dan keterlambatan Karim Benzema melakukan tembakan dalam kotak penalti. Namun pada kans ketiga yang lahir di menit kesembilan, Benzema sukses membawa Madrid unggul 1-0 lewat tandukan keras tanpa seorang pun mengawalnya.

Dua hal wajib dievaluasi pelatih Atletico, Diego Simeone, dari momen tersebut. Pertama adalah buruknya performa Felipe Luis musim ini, yang untuk kesekian kalinya gagal menutup pergerakan musuh di sisi kiri pertahanan, sebagaimana Dani Carvajal jadi pemberi assist dari area tersebut. Kedua adalah tak kunjung kompaknya duet baru bek tengah mereka musim ini, yakni Diego Godin dan Jose Gimenez.

Keburukan Luis, Godin, dan Gimenez terus berlanjut nyaris sepanjang 90 menit laga. Beruntungnya Madrid amat buruk dalam penyelesaian akhir, dengan Ronaldo jadi pemain yang paling boros peluang. Pemain terbaik dunia itu membuang lima dari 15 kans emas yang dihasilkan Los Galaticos di partai ini. Jika hal itu tak terjadi, sang tamu mungkin bisa mengakhiri pertandingan lebih dini.

Titik balik Atletico terjadi selepas turun minum. Meski sedang tertinggal 1-0, tiga menit sebeum jeda mereka sudah mendapat keuntungan dengan cederanya Dani Carvajal. Pelatih Madrid, Rafal Benitez, pun terpaksa memainkan Alvaro Arbeola karena jadi satu-satunya pelapis di pos bek kanan El Real, seturut Danilo yang jauh-jauh hari sebelumnya juga mengalami cedera. 

Dalam dua musim terakhir Arbeloa hanya mengoleksi 2.100 menit bermain dan dirinya merupakan cadangan kedua di pos bek kanan. Otomatis area yang diisi mantan bek Liverpool itu pun langsung dieksploitasi Los Colchoneros tanpa tanggung-tanggung.

Secara bergantian Antoine Griezmann dan Jackson Martinez menembus pengawalan "ringan" Arbeloa. Total empat crossing yang semuanya tepat sasaran mampu mereka lepaskan sejak bek 32 tahun itu masuk. Salah satunya bahkan berujung gol penyetara kedudukan, tujuh menit jelang laga usai. Umpan silang Martinez yang gagal ditahan Arbeloa, dengan cerdas didefleksikan oleh Griezmann guna mengecoh kiper Madrid, Keylor Navas. Mendapati gawang yang kosong, mudah saja bagi Luciano Vietto menceploskan bola ke jala Madrid guna menyeimbangkan kedudukan 1-1.

Hasil itu akhirnya bertahan hingga pertandingan usai. Namun menilik permainan yang diperagakan Atletico di paruh penentuan, seharusnya mereka bisa menghasilkan lebih dari sebiji gol. Selain pemborosan peluang -- tercermin dari 14 tembakan tak tepat sasaran -- Gabi cs juga mendapati tembok tebal bernama Keylor Navas.

Navas memang hanya membuat tiga penyelamatan. Tapi semuanya krusial, dengan potensi gol mencapai 90 persen. Kiper yang nyaris saja ditukar David De Gea ini mencegah kebangkitan dini Atletico di menit ke-22, dengan secara fantastis menggagalkan penalti Griezmann. Penyelamatannya terhadap sepakan keras Martinez dan lagi-lagi Griezmann, membuat Madrid harus berterima kasih padanya untuk kesekian kali di musim ini.

Benitez dan Simeone sesalkan efektivitas buruk timnya

Efektivitas buruk Atletico dan Madrid dalam derby kali ini lantas diakui sekaligus disesalkan nakhoda masing-masing tim. Mereka bahkan sama-sama menilai jika anak asuhnya layak menerima hasil yang jauh lebih baik, dari sekadar berbagi angka.

"Di babak kedua, kami memiliki jauh lebih banyak peluang. Kami menyamakan skor, lalu kiper mereka melakukan sebuah penyelamatan hebat di akhir pertandingan. Kami kehilangan dua poin. Kami nyaris menang di laga yang seharusnya bisa kami menangkan," sesal Simeone, seperti dikutip AFP.

Benitez pun melontarkan pernyataan yang senada dengan El Cholo. "Kami tak mampu mencetak gol kedua untuk mematikan pertandingan. Di babak pertama, performa kami lebih baik. Kami harus memberikan kredit kepada Atletico karena mereka terus menekan dan bertarung. Dengan melihat cara kami bermain, kami baru saja kehilangan dua poin," imbuh juru taktik 50 tahun itu pada Marca.

Efektivitas memang jadi masalah akut Atletico dan Madrid musim ini. Di satu partai mereka bisa dengan nikmatnya menggelontorkan lebih dari tiga gol, tapi di partai lainnya hanya sanggup menghasilkan sedikit gol atau bahkan gagal. Jeda internasional yang menghentikan kompetisi selama dua pekan ke depan, bisa jadi kesempatan kedua entrenador untuk menemukan ramuan jitu atas masalah tersebut.