Emirates Stadium Yang 'Ramah' Bagi Para Rival Top

Sejak menumbangkan Liverpool November 2013, Arsenal tak lagi merasakan kemenangan kandang kala menghadapi deretan tim papan atas. Ada apa Emirates Stadium?

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Menjelang duel Arsenal versus Liverpool pada akhir pekan ini, layak untuk dicermati catatan terakhir The Gunners kala menumbangkan rival big four-nya di kandang sendiri.

Cukup malang. Yah, raihan positif itu terjadi pada 2 November 2013 saat skuat Arsene Wenger mendulang kemenangan 2-0 atas Liverpool, di mana pertemuan ini menjadi lawatan teraktual The Reds ke Emirates Stadium.

Sejak hasil apik itu, Emirates bagai kehilangan keangkerannya. Seolah venue itu menjadi tempat yang 'ramah' bagi sejumlah bebuyutan unggulan Arsenal. Bermain imbang dengan Chelsea [0-0], Manchester United [0-0] dan Manchester City [1-1] pada musim lalu, dan pada edisi 2014/15 berlanjut lebih buruk, dengan Arsenal lagi-lagi tak mampu meraup sekali pun kemenangan bahkan sekali menelan kekalahan kala bentrok dengan rival unggulan: verus City [2-2], Tottenham [1-1], dan United [1-2].

Memang, Arsenal tidak lantas menundukkan kepala karena di markas sendiri mereka bisa beberapa kali menghindari kekalahan dari rival besar mereka - dengan hanya United dan Aston Villa yang mampu meraup tiga poin di sana sejak awal musim lalu. Namun, rengkuhan 'cuma' lima poin dari enam big match itu jelasmenggambarkan Arsenal tak memiliki segala syarat untuk bersaing di pacuan juara.

Saat ini Alexis Sanchez cs terpaut tujuh angka dari sang pemuncak Chelsea, dengan laskar Jose Mourinho juga memegang satu laga yang siap dimainkan kontra penghuni dasar tabel, Leicester City. Diperlukan kepercayaan diri tinggi untuk menyalip rival Londonnya itu dan The Gunners mestinya sudah mengevaluasi secara serius di laga mana saja mereka kehilangan poin, dan seberapa berkembang mereka di musim ini.

Kenyataan di lapangan memberi jawaban tegas. Arsenal bermasalah dengan rekor kandang mereka bila menghadapi tim-tim papan atas. Anak-anak London Utara baru terlihat prima ketika menghadapi kontestan liga yang posisinya berada sepuluh terbawah: menang 13 kali dan imbang tiga kali dari 16 laga dengan rataan poin per pertandingan 2,62. Impresif.

Sebaliknya, catatan memble hadir dengan rataan poin per laga mencapai 1,29 - lebih buruk dari Chelsea, Liverpool, Tottenham, United dan City - apabila lawan yang dihadapi adalah para penghuni separuh teratas tabel.

Sejak melalui pergantian tahun, rekor tandang Arsenal yang justru meruncing: mendulang kemenangan di City [2-0] dan di Piala FA menekuk United [2-1]. Ini memperlihatkan Wenger sanggup mengalahkan tim top dalam posisi bertamu, kendati dengan pendekatan defensive-minded.

Lebih jauh, catatan kontradiktif Arsenal ini semakin nampak jelas saat melihat kekalahan 3-1 dari AS Monaco di Emirates pada ajang Liga Champions sebelum Si Gudang Peluru bangkit untuk memenangkan leg kedua 2-0 di rumah Monaco. Aneh. Akan tetapi para loyalis Arsenal harusnya berkaca, hal apa yang membuat tim kesayangannya justru memble bila unjuk gigi di hadapan mereka.

Emirates Stadium memang kerap mendapatkan kritik karena kurangnya gairah dan minimnya atmosfer suporter di dalamnya. Meski dalam beberapa musim terakhir Emirates dianggap mulai kembali 'bernyawa', kurangnya nuansa sejarah juga menjadi salah satu faktor yang bertanggung jawab.

Misalnya, Emirates baru benar-benar terasa hidup ketika mantan mega bintang mereka Thierry Henry kembali pada 2012. Namun,seperti kebanyakan suporter, kadang-kadang mereka pun tidak lepas dari inkonsistensi dalam memberikan sokongan morilnya pada tim kesayangan. Sayang, atmosfer yang diperlukan itu tumbuh menjulang hanya saat Arsenal berhasil mengalahkan tim top.

Lawatan Liverpool pada weekend ini menjadi santapan wajib menang bagi Arsenal. Terlepas dari merosotnya gairah suporter, keliru jika Gooners tidak menyambut laga ini dengan penuh antusiasme. Ini adalah sparing masif dua tim yang sedang in form. Arsenal mampu mengoleksi 27 poin dari 10 laga terakhir, sedang Liverpool mengantungi 25 angka.

Jika Arsenal menang, jarak antara kedua tim menjadi sembilan poin dan akan menjadi misi berat bagi Liverpool untuk mengangkangi klub London Utara. Namun bila yang terjadi sebaliknya, jarak bakal menyempit jadi tiga poin dan bingkai persaingan big four tambah memanas hingga akhir musim.

Jumlah 21 gol dalam enam perjumpaaan terakhir sejak klub Merseyside dipoles Brendan Rodgers bisa menjadi rujukan betapa laga ini berjalan memukau dalam beberapa tahun terakhir.

Sekali lagi, Arsenal memerlukan kemenangan di laga masif semacam ini demi membakar kembali spirit di Emirates. Tidak ada alasan, sudah saatnya para pemain Arsenal dan fans kembali saling bersinergi memberi energi yang positif di setiap ruang-ruang stadion, dan itu dimulai dari bentrokan akhir minggu ini.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.