Era Baru Tottenham Hotspur, Era Mauricio Pochettino

18 bulan bersama Mauricio Pochettino, Tottenham Hotspur jadi semakin muda, semakin segar, semakin atraktif, semakin solid, dan semakin ambisius.

Sementara Real Madrid melanjutkan kebiasaan menggonta-ganti pelatih dengan mudahnya di era kepresidenan Florentino Perez, Tottenham Hotspur mulai menemukan kestabilan bersama Mauricio Pochettino.

Walaupun tidak seekstrem Perez, chairman Tottenham Daniel Levy juga kerap tidak pikir panjang melengserkan arsitek tim. Saat ditunjuk pada musim panas 2014, Pochettino adalah manajer kesepuluh The Lilywhites dalam rentang 12 tahun ke belakang.

Keberanian Levy memberikan kontrak panjang lima tahun untuk pria Argentina itu kini nyata terlihat sebagai sebuah keputusan tepat. Baru 18 bulan memasuki masa tugasnya, Pochettino membawa Spurs bersaing di papan atas dengan karakteristik sang bos terlihat jelas dalam gaya permainan mereka.

Tottenham jadi semakin muda, semakin segar, semakin atraktif, semakin solid, dan semakin ambisius.

Perubahan drastis mentalitas Spurs tergambar dalam atmosfer ruang ganti usai laga melawan tuan rumah Everton, Minggu (3/1) lalu. Skor imbang 1-1 di Goodison Park sejatinya bukan hasil buruk, tetapi skuat Lilywhites menyikapinya bagai kekalahan.

“Selalu di akhir sebuah laga kami memainkan musik, tetapi tidak hari ini karena para pemain sangat kecewa dan merasa kami telah menjatuhkan dua poin. Itu pertanda baik untuk masa depan,” ungkap Pochettino.

Harry Kane dkk. toh memiliki alasan kuat untuk merasa mereka sepantasnya memperoleh hasil lebih baik. Spurs tampil dominan, kerap mengurung pertahanan The Toffees dan hanya nasib sial yang menggagalkan mereka membuat lebih dari satu gol. Tendangan Ben Davies dan Kane menghantam woodwork.

Biarpun demikian, sebagaimana Pochettino yang mengaku “selalu positif”, Tottenham tidak perlu terlalu meratap. Gol cantik Dele Alli ke gawang Tim Howard di akhir babak pertama, menyamakan torehan pembuka eks Spurs Aaron Lennon, menunjukkan tim punya banyak cara untuk membongkar pertahanan lawan.

Gaya utama Pochettino adalah sepakbola ofensif yang bersandar pada possession, operan-operan pendek, dan pressing tinggi, namun gol Alli jauh sekali dari proses seperti itu, dan malah bermula dari umpan panjang langsung dari lini belakang oleh Toby Alderweireld.

Secara “kebetulan”, kedua pemain juga merepresentasikan transfer jitu Pochettino dan kepercayaannya pada pemain muda. Alderweireld diangkut permanen dari Atletico Madrid setelah bermain bagus sebagai penggawa pinjaman Southampton, bekas klub Pochettino, dan melihat performa solidnya saat ini sebagai tandem Jan Vertonghen di jantung pertahanan, banderol  £11,5 juta untuk bek Belgia itu jadi tampak tidak seberapa.

Alli telah dipinang dari MK Dons pada Februari tahun lalu tetapi baru resmi memperkuat Tottenham awal musim ini. Di bawah bimbingan Pochettino, remaja Inggris 19 tahun berdarah Nigeria ini langsung memperoleh banyak kesempatan dan ia menjawab lugas lewat permainan cemerlang di atas lapangan yang kemudian juga menggugah Roy Hodgson untuk memanggilnya ke tim nasional.

Keyakinan Pochettino pada talenta muda memang turut berimbas positif pada Three Lions, yang jadi memiliki semakin banyak opsi. Dari 17 pemain debutan timnas Inggris di bawah Hodgson, sembilan di antaranya pernah dilatih dan dikembangkan Pochettino di Southampton dan Tottenham.

Bukan kejutan kalau Tottenham memiliki skuat termuda di antara seluruh kontestan Liga Primer Inggris musim ini dengan rerata usia 24,5 tahun.

Umur Kane, Ali, Eric Dier, Davies, dan Nabil Bentaleb seluruhnya tidak lebih dari 22 tahun. Erik Lamela dan Christian Eriksen 23, Ryan Mason 24 dan dua bek sayap Danny Rose serta Kyle Walker sama-sama 25 tahun. Bahkan kiper sekaligus kapten Hugo Lloris dan bek berpengalaman Jan Vertonghen belum memasuki kepala tiga.

“Saya tidak takut memainkan mereka,” kata Pochettino tentang youngster.

“Kalau seorang pemain pantas bermain, entah mereka 17, 18, 19, atau 20 tahun itu sama saja bagi kami, kalau mereka pantas bermain dan menunjukkan karakter dan kematangan untuk diberikan tanggung jawab. Namun untuk itu, Anda perlu membangun sang pemain.”

Satu kelemahan mendasar dari darah muda adalah konsistensi. Pochettino punya resep tersendiri untuk menanganinya.

“Ini seperti halnya anak-anak lelaki saya dan anak-anak muda. Terkadang Anda harus bersikap baik dan ramah dengan mereka, seperti seorang ayah,” bebernya. “Kadangkala mereka amat menderita dan masih muda dalam pemikiran, dan beberapa pemain belum matang. Anda mesti mendengarkan mereka dan perlu menerapkan psikologi yang tepat di momen yang tepat.”

Dengan filosofi yang tertancap semakin dalam, Pochettino terus memimpin tim bergerak ke arah yang lebih baik dan hubungan harmonis dengan Levy – sang manajer bahkan ikut dilibatkan dalam proyek pembangunan stadion baru – hanya akan melanggengkan ambisinya membangun dinasti di London Utara.

Setelah finis di peringkat kelima Liga Primer Inggris dan mencapai final Piala Liga musim lalu pada kampanye debut Pochettino di White Hart Lane, kini Spurs bercokol di empat besar klasemen, baru menelan dua kekalahan sepanjang musim, membukukan tujuh clean sheet, plus menjadi pemilik rekor defensif terbaik dengan baru kebobolan 16 gol.

Selisih enam poin dari rival sengit, Arsenal, di puncak bukan jarak yang mustahil dikejar sehingga mulai muncul pembicaraan mengenai peluang Tottenham untuk menjadi kampiun Inggris pertama kalinya sejak 1960/61.

Kedatangan pelapis berkualitas untuk Kane pada bursa Januari akan semakin mendongkrak kans tersebut, tetapi Pochettino cukup puas dengan skuat terkini dan hanya akan merekrut pemain dengan profil tepat yang tidak mengganggu keseimbangan dan kesatuan tim.

Spirit kebersamaan memang menjadi aspek kunci lain untuk kebangkitan Tottenham di bawah Pochettino. Disadari atau tidak, ketiadaan pemain berlabel superstar sejati justru membantu skuat muda Spurs untuk kian padu.

Membandingkan tim paten Spurs beberapa tahun lampau yang dihuni nama-nama seperti Gareth Bale dan Luka Modric dengan pasukan terkini, Kyle Walker menuturkan: “Itu perbandingan sulit, karena sebagai tim ini mungkin spirit tim terbaik yang pernah saya miliki, dengan orang-orang menyatu, orang-orang tahu ke mana pemain lainnya akan berlari, dan sang gaffer dan filosofinya luar biasa.”

“Saya telah bermain dengan Bale, Modric, Lennon di masa jayanya, [Emmanuel] Adebayor ketika ia masih di masa jaya, [Louis] Saha, jadi saya pernah bermain dengan beberapa pemain bagus, tetapi ini adalah sebuah tim yang exciting dan merupakan sebuah kesenangan menjadi bagian dari tim ini.”

Barangkali masih terlalu dini bagi pasukan belia ini untuk menuntaskan puasa gelar liga sejak 55 tahun lampau, namun di bawah komando Pochettino Tottenham ada di trek yang tepat untuk kembali lolos ke Liga Champions setelah absen lima musim dan memasuki era kegemilangan baru.