Faktor & Alasan Juventus Mampu Pertahankan Scudetto

Sempat terpuruk di papan bawah klasemen, Bianconeri kembali menemukan bentuk permainan terbaik dan kini kembali ke persaingan juara Serie A musim ini.

Kekalahan sebenarnya bukan hal yang akrab bagi Juventus terutama di pentas Serie A Italia, sebagaimana mereka merupakan klub tersukses dan memiliki basis dukungan salah satu yang terbesar di Italia. Mereka mampu memenangkan empat gelaran liga domestik terakhir secara beruntun dan musim ini menyandang unggulan utama dalam kampanye meraih Scudetto kelima secara beruntun.

Hanya saja segalanya tampak tidak berjalan mulus bagi pasukan Massimiliano Allegri di awal musim ini. Sebuah kekalahan mengejutkan dari Udinese di laga pembuka tentu merupakan hasil yang menjadi pukulan telak dan di luar perkiraan banyak orang dan ditambah kekalahan kontra AS Roma dan hasil imbang melawan Chievo membuat Bianconeri hanya sanggup mengoleksi satu angka dari tiga laga awal.

Penampilan buruk Juventus tak lepas dari perubahan besar dalam komposisi pemain yang mereka lakukan di musim panas kemarin, kepergian Arturo Vidal ke Bayern Munich, Andrea Pirlo ke New York City dan Carlos Tevez ke Boca Juniors sangat terasa pengaruhnya karena ketiganya merupakan pilar utama tim dalam sukses gelar ganda dan melaju ke final Liga Champions musim lalu. Badai cedera yang menimpa sejumlah pemain andalan seperti Claudio Marchisio, Stephan Lichtsteiner dan Sami Khedira juga turut andil dalam buruknya performa tim.

Kekalahan tipis 2-1 dari Napoli pada September lalu kian membuat Juventus terpuruk di papan bawah, inkonsistensi performa menjadi masalah utama dan meski sempat memenangkan beberapa laga, sebulan kemudian mereka kembali takluk saat dikandaskan Sassuolo 1-0. Namun awan kelabu perlahan sirna, kekalahan kontra Sassuolo menjadi titik balik dan setelah itu Si Nyonya Tua secara drastis bangkit dan sukses membukukan sembilan kemenangan beruntun hingga pekan kemarin, praktis membuat posisi mereka di klasemen meroket dan kini menempati urutan kedua.

Dengan kembalinya performa impresif mereka, kini target untuk mempertahankan gelar Scudetto semakin realistis. Lantas apa yang membuat Juventus mampu membalikkan keadaan?

Inkonsistensi permainan perlahan mulai menjauh dari pasukan Max Allegri, catatan sembilan kemenangan berantai terakhir di pentas Serie A menjadi bukti, sebuah pencapaian lebih baik ketimbang yang pertama kali mampu mereka bukukan sejak Oktober 2014 lalu. Kebangkitan performa tim juga tak lepas dari mulai optimalnya seluruh komponen mulai dari barisan pertahanan hingga sisi penyerangan.

Barisan belakang tim menunjukkan perkembangan signifikan, tercatat 521 menit tanpa kebobolan mampu mengiringi perjalanan sembilan partai terakhir mereka. Terlebih dengan formasi 3-5-2, trio BBC kembali menemukan performa terbaik mereka, pun demikian dengan sejumlah pelapis seperti Daniele Rugani dan Martin Caceres yang tampil sama bagusnya ketika mendapat kepercayaan penuh.

Pulihnya sejumlah pemain andalan di lini tengah, terutama Claudio Marchisio yang perannya begitu vital bagi tim. Tercatat dengan kehadiran Il Principe Bianconero, Juventus selalu berhasil meraup hasil positif dan keberadaannya juga menopang konsistensi permainan Paul Pogba yang sempat angin-anginan di awal musim. Hal yang sama juga sempat mengganggu pilar lini tengah lainnya, Sami Khedira dan Hernanes. Kedua penggawa anyar tersebut sempat terganggu cedera dalam proses adaptasi mereka namun kini perlahan mulai mampu memberikan kontribusi khusus.

Konsistensi permainan Paulo Dybala menjadi kunci ketajaman barisan depan Juventus. Usai sempat tak mendapat kepercayaan lebih dari Allegri, bintang muda asal Argentina itu seakan menduplikasi peran Carlos Tevez - yang berkontribusi 27% dari total koleksi gol tim secara keseluruhan musim lalu. Sejauh ini Dybala menjadi top skor tim dengan catatan sembilan gol dari 18 laga di seluruh kompetisi. Mario Mandzukic juga mulai menemukan konsistensi dalam urusan membobol gawang lawan, juga demikian dengan Simone Zaza yang meski memiliki menit bermain paling sedikit namun mampu membuktikan ketajamannya.

Krisis kepercayaan terhadap manajemen kepelatihan Allegri perlahan mulai mereda. Maklum, sang allenatore pernah punya pengalaman buruk dalam musim kedua menangani AC Milan tepatnya pada musim 2012/13 lalu. Situasinya serupa dengan Juventus yang ditinggalkan beberapa pilar penting, Milan saat itu melepas Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic meski semusim sebelumnya mengantarkan tim merengkuh Scudetto. Yang berbeda adalah Juventus memiliki kedalaman skuat yang lebih mumpuni dan ambisi yang lebih besar.

Mampukah Juventus mempertahankan gelar juara yang bakal menjadi Scudetto kelima mereka? Bisa jadi, asalkan Allegri tetap mampu membawa pasukannya untuk mempertahankan ritme permainan bagus yang sudah terwujud belakangan ini. Inkonsistensi para pesaing juga akan menjadi salah satu faktor penentu, dari 15 pekan Serie A yang telah berlalu, tercatat sudah sembilan kali pergantian pemimpin klasemen terjadi. Sejauh ini, enam kesebelasan berbeda telah mencicipi pucuk klasemen. Ini menandakan persaingan di papan atas pada musim 2015/16 begitu ketat.

Pertanyaannya sekarang, jika Juventus mampu mempertahankan momentum positif mereka dan selalu mewujudkan moto tim "Fino Alla Fine", yang berarti berjuang hingga akhir, siapa yang bisa membendung laju mereka?