FOKUS: Ada Apa Dengan Tim Asal Jawa Tengah?

Dua tim dari Jawa Tengah dan DIY yang berkompetisi di ISL 2014 punya rapor buruk. Sangat buruk. Problem finansial lagi-lagi jadi kambing hitam?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
“Ya, sudah tidak ada peluang lagi. Memang kondisinya seperti ini. Kita sudah pasrah. Kita sudah seperti anak ayam kehilangan induk. Pelatih seperti apapun tetap tidak bisa menolong tim ini.”
Komentar itu meluncur dengan polosnya dari mulut Sajuri Syahid, pelatih Persiba Bantul, begitu mengetahui timnya dipastikan terdegradasi ke Divisi Utama. Ketika itu, Persiba takluk 3-1 di kandang sendiri dari PSM Makassar pada Jumat (8/8) lalu dan sekaligus menjadikan Persiba sebagai tim pertama di Indonesia Super League (ISL) 2014 yang harus turun kasta.
Sama sekali tidak ada raut wajah muram dari pelatih berusia 46 tahun ini dalam ruang jumpa pers selepas laga. Ia begitu santai dan malah tampak asyik bercanda dengan para wartawan, mendiskusikan pertandingan yang sepertinya sudah tahu kalau timnya akan kalah. Mungkin pelatih yang juga merupakan guru olahraga ini sudah tak tahu lagi bagaimana caranya mengatasi semua kebingungan ini. Maklum, situasi krisis di dalam tubuh Laskar Sultan Agung tengah mencapai titik kulminasi.
Itulah profil Persiba Bantul, salah satu tim dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang tengah amburadul. Kondisi 11-12 juga tengah dialami oleh tim lain yang masih berbasis di seputaran Jawa Tengah: Persijap Jepara.
Kekalahan terkini 5-0 dari Persib Bandung pada Selasa (19/8) kemarin semakin memastikan bahwa Laskar Kalinyamat tinggal menunggu waktu saja untuk terdegradasi. Dengan sisa tiga laga dan hanya mengoleksi tujuh poin, akan sulit bagi pasukan Yudi Suryata itu untuk bisa menembus zona aman Wilayah Barat yang kini dipegang Persita Tangerang, delapan poin di atasnya.

Keterangan: Pos:Posisi; M:Main; SG:Selisih Gol; P:Poin *) Persiba Bantul sudah dipastikan terdegradasi.
Pertanyaan mencuat, kenapa tim-tim dari seputaran Jateng dan DIY ini kalah bersaing dengan tim lain asal Jawa Timur, Papua, Kalimantan, Sumatera, maupun Jakarta dan Bandung? Faktor finansial jelas menjadi penyebab utama. Imbas dari problem keuangan ini ternyata sudah terlanjur merembet ke mana-mana.
Persijap misalnya, dilaporkan hanya punya duit Rp2,5 miliar di awal kompetisi untuk mengarungi 20 laga di ISL 2014 ini. "Kami mengakui, kesulitan finansial menjadi kendala utama pada awal pembentukan tim. Sebagian besar tim terbentuk didominasi pemain asli Jepara dan beberapa nama pemain lokal yang nilai kontraknya tidak besar," ujar manajer umum Persijap M. Said Basalamah beberapa waktu lalu.
Persiba bahkan gagal menggelar latihan perdana seusai jeda kompetisi Juni-Juli lalu. “Hari ini libur. Ditunda sampai 1 Agustus nanti, karena finansialnya tidak ada,” ujar Sajuri pada awal Juli lalu. Kondisi ini jelas berpengaruh terhadap kondisi kebugaran para pemain. Persiapan tim pun dipaksakan dan bisa dipastikan Laskar Sultan Agung tak bisa bergerak dari urutan buncit Wilayah Timur sambil terus menelan tujuh kekalahan beruntun. Paling gres adalah saat mereka dibantai Persebaya Surabaya 5-0 pada Kamis (14/8).
Dukungan sponsor juga seret dan kedua klub juga sama sekali tidak bisa berharap dengan pemasukan dari tiket stadion. Stadion Gelora Bumi Kartini, markas Persijap yang biasanya dipadati suporter, dua musim terakhir sepi nyenyat. Sementara di Bantul, kondisinya lebih parah lagi. Persiba beberapa kali harus bermain tanpa penonton di Stadion Sultan Agung hanya gara-gara ulah suporter mereka sendiri.
Bahkan, mereka terpaksa hijrah ke Sasana Krida, stadion milik TNI AU, saat menjamu Putra Samarinda dan Mitra Kukar pada Maret silam menyusul bentrokan antarsuporter Persiba sendiri (Paserbumi dan Curva Nord Famiglia) dalam laga kandang perdana. Selain jatuh tiga korban, yang masing-masing adalah warga Bantul sendiri, kala itu Persiba juga sempat diancam akan dibubarkan oleh ketua umum Persiba Idham Samawi.
Sudah jatuh tertimpa tangga | Emile Mbamba dan Boman Bi Amie bertarung dalam duel krusial Persiba-PSM. Laga yang digelar tanpa penonton di Sultan Agung itu memastikan Persiba terdegradasi.
Dari sini ditemukan masalah berikutnya: faktor non-teknis. Selain itu, kejelasan kontrak bagi Ezequiel Gonzales dan kawan-kawan juga menjadi problem serius. Para pemain Persiba dikabarkan hanya dibayar per pertandingan dan hanya diberikan fasilitas seadanya oleh klub.
Dari segi teknis, para pemain Persiba dan Persijap mengalami masalah serupa. Para penggawa Perisjap banyak dihuni pemain veteran sehingga tim pun tampil kurang maksimal. Sementara Persiba mengalami masalah pelik soal stamina pemain. Pihak manajemen lalu sempat mencoret enam pemain di tengah kompetisi, termasuk di antaranya adalah Ngon A Djam dan Eduardo Bizarro.
Hal menarik lainnya adalah, baik Persijap maupun Persiba sama-sama merupakan alumni Indonesian Premier League (IPL) yang terbentuk karena konflik kepentingan di tubuh PSSI. Bisa dibilang, kedua klub yang tampil di IPL musim 2011/12 dan 2013 ini menjadi korban dari karut marutnya penyelenggaraan kompetisi tersebut.
Seperti diketahui, IPL 2013 sempat dihentikan di tengah jalan di mana sebagian besar klub kontestan mengalami krisis finansial. Klub-klub tersebut lalu mengalami kevakuman dalam rentang waktu yang lama. Imbasnya, mereka terlambat dalam menyongsong musim kompetisi baru dan sulit bersaing dalam melakukan rekrutmen pemain. Sejauh ini hanya Semen Padang dan PSM Makassar yang menjadi jebolan IPL yang tampil bagus di ISL 2014.
Pada akhirnya, semua kondisi ini akan semakin mengherankan. Pasalnya, pencapaian yang diraih kedua klub dalam beberapa tahun belakangan akan terkesan sia-sia. Persiba adalah juara Divisi Utama 2011 dan sempat melahirkan pemain bintang seperti Fortune Udo, namun mereka seakan-akan mengambil jalan yang salah dengan memilih IPL 2012. Kondisi Persijap saat ini berbeda 180 derajat dengan periode 2007 hingga 2009 ketika mereka sempat masuk enam besar ISL 2007/08 dan empat besar Copa Indonesia 2008/09 serta mencuatkan nama-nama seperti Pablo Alejandro Frances dan Donny Siregar.
Terpuruk | Partisipasi Evaldo Silva cs. di IPL musim lalu jadi bumerang. Persiapan minim dan kondisi finansial terbatas merembet pada performa buruk Persijap di ISL 2014.
Apapun itu, kini klub harus menghadapi kenyataan pahit: terdegradasi dengan kondisi compang-camping. Bumi Jateng dan DIY harus kehilangan dua tim terbaiknya di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Meski demikian, selalu ada hikmah di balik keterpurukan. Turun kastanya Persiba dan (segera) Persijap ini bisa jadi menjadi pemicu bagi tim-tim seputaran Jateng lainnya yang saat ini berada di Divisi Utama.
Sejauh ini, PSIS Semarang, Persis Solo, PSCS Cilacap, dan PSS Sleman memiliki kans paling besar untuk promosi ke ISL musim depan. Keempat tim ini lolos ke babak 16 besar Divisi Utama setelah tampil baik di masing-masing grup. Sementara PSIM Yogyakarta juga masih berpeluang lolos, namun hanya punya kans kecil.
Akan tetapi, tim-tim ini harus berjuang ekstra keras di babak 16 besar mengingat jatah promosi klub Divisi Utama untuk bisa naik ke ISL 2015 hanya tersedia slot dua klub alias tim yang mencapai babak final saja.
Adakah di antara tim-tim tersebut yang sanggup menghadapi tantangan ini atau malah musim depan ISL sama sekali tanpa kesebelasan seputaran Jateng? Kalau pun promosi, mereka tentu harus belajar banyak dari pengalaman Persiba dan Persijap yang sudah merasakan betapa pahitnya berkompetisi dengan sumber daya ala kadarnya.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.