FOKUS: Bursa Transfer Januari, Solusi Jitu Bagi Raksasa Terpuruk?

Liverpool, Internazionale, dan Borussia Dortmund berharap melakoni aktivitas transfer Januari secara jeli agar bisa mengaum kembali di paruh kedua musim.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Bukannya mengecap manisnya keberhasilan, justru hasil pahit yang lebih sering didapat. Ungkapan tersebut kiranya pas untuk menggambarkan rendahnya tingkat kesuksesan dari sebuah aktivitas klub sepakbola bernama transfer musim dingin.
Maklum, dalam satu dekade terakhir, bisa dihitung dengan jari para pesepakbola Eropa yang layak disebut sebagai transfer sukses setelah berganti jersey pada medio Januari. Nemanja Vidic dan Partice Evra (Manchester United, 2006), Marcelo (Real Madrid, 2007), Luis Suarez (Liverpool, 2011), Nemanja Matic (Chelsea, 2013) adalah beberapa nama yang dimaksud.
Selebihnya, tak terhitung jumlahnya pemain yang gagal memenuhi ekspektasi selepas berpindah klub pada tengah musim. Bukan tanpa sebab success rate bursa transfer Januari sebegitu rendah. Banyak pemain incaran sebuah klub sudah pasti akan sangat sulit tersedia di musim dingin. Entah itu karena si pemain cenderung enggan pindah atau karena klub pemilik urung melepasnya. Ini membuat klub sangat kesulitan untuk merealisasikan transfer pemain yang benar-benar dibutuhkan.
Jika sudah demikian, klub harus rela menggelontorkan uang yang melebihi harga pasar si pemain. Aktivitas transfer Real Madrid pada Januari 2009 menjadi contoh gamblang ketika El Real menghabiskan €40 juta hanya untuk mendatangkan Klaas-Jan Huntelaar dan Lassana Diarra. Atau ketika Liverpool dan Chelsea total menghabiskan £85 juta untuk memboyong Andy Carroll dan Fernando Torres pada Januari 2011.
Riskan | Transfer mahal Andy Carroll pada Januari 2011 membuktikan bahwa bursa transfer musim dingin punya probabilitas kegagalan tinggi.
Situasi bak perjudian inilah yang harus dihadapi beberapa raksasa Eropa yang tengah terpuruk menjelang dibukanya bursa transfer Januari 2015.
Mari menilik kondisi sang runner-up Liga Primer Inggris musim lalu, Liverpool. Kemenangan 4-1 atas Swansea City pada Senin (29/12) kemarin memang membangkitkan harapan The Reds untuk bisa kembali bersaing ke empat besar. Meski demikian, hal tersebut tidak bisa menutupi fakta bahwa ada lubang yang menganga lebar dalam skuat Liverpool di sepanjang paruh pertama musim.
Kegagalan Brendan Rodgers mencari pengganti sepadan Luis Suarez -- yang hijrah ke Barcelona -- dituding menjadi alasan utamanya. Uang sebesar £117 juta dihamburkan begitu saja pada musim panas kemarin untuk mendatangkan delapan pemain anyar yang semuanya belum sanggup mengangkat performa tim. Dejan Lovren dan Mario Balotelli adalah yang terparah. Malah keduanya lebih sering berperan menjadi badut lapangan.
Logikanya, jika hampir seluruh pemain baru Liverpool tersebut belum bisa menyatu dengan klub, bagaimana mungkin rekrutan anyar pada Januari nanti bisa memperbaiki situasi. Bisa-bisa, yang terjadi malah rekrutan Januari tersebut akan menambah beban dan berpotensi merusak sistem yang sedang dibangun ulang oleh Rodgers.
Petr Cech, Mattia Perin, Saido Berahino, Ezequiel Lavezzi, Yevhen Konoplyanka, James Milner, dan beberapa nama lain sudah berada dalam radar. Butuh kebijaksanaan dari Tuan Rodgers seperti yang pernah ia lakukan pada Januari 2013. Ketika itu, ia memboyong Philippe Coutinho dan Daniel Sturridge yang hingga saat ini terbukti masih menjadi penggawa penting Si Merah.
Belanja Lagi, Liverpool? | Brendan Rodgers harus memastikan agar kegagalan transfer di musim panas kemarin tidak terulang kembali.
Dari Inggris, kita bergeser ke Italia di mana Internazionale menjadi tim favorit yang jeblok performanya di musim ini. Pergantian kursi pelatih pada November lalu belum bisa dikatakan berhasil mengubah situasi. Pasalnya, pelatih anyar Roberto Mancini hanya sanggup mencatatkan sekali kemenangan dari lima laga Serie A Italia. Nerazzurri pun masih terbenam di peringkat 11.
Khusus untuk Inter, bursa transfer Januari bisa menjadi solusi terbaik. Dengan sistem permainan yang masih baru di bawah Mancini, Inter juga butuh pemain baru. Mancio sendiri sudah menyatakan jika dia akan sibuk pada jendela transfer musim dingin. “Posisi yang terpenting adalah winger,” ujarnya.
Sayap-sayap populer seperti Ibrahim Affelay, Lukas Podolski, Mohamed Salah, Lavezzi, dan Alessio Cerci sudah masuk dalam bidikannya. Akan lebih baik bagi presiden Erick Thohir untuk sedikit berinvestasi terhadap salah satu di antara pemain incaran tersebut ketimbang harus memaksakan diri menjalani sisa musim tanpa ada perubahan di dalam skuat.
Di samping Inter, duo raksasa Serie A lainnya yang tampil kurang meyakinkan musim ini, Napoli dan AC Milan, juga sudah mulai bergerak aktif. Napoli dikabarkan sudah resmi mendatangkan bek kiri Ivan Strinic dan penyerang Manolo Gabbiadini. Sementara skuat Fillipo Inzaghi tinggal selangkah lagi memboyong Cerci dari Atletico Madrid untuk saling bertukar tempat dengan Torres.
Butuh yang Baru | Januari menjadi kesempatan emas bagi Roberto Mancini untuk memperbaiki komposisi skuatnya selepas menggantikan Walter Mazzarri.
Dan klub besar Eropa yang paling merana di paruh pertama musim 2014/15 tak lain tak bukan ialah Borussia Dortmund. Berstatus sebagai runner-up Bundesliga Jerman musim lalu dan finalis Liga Champions 2013, Dortmund secara mengejutkan terbenam di urutan kedua dari bawah.
Badai cedera yang mendera pemain inti seperti Mats Hummels, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan disebut-sebut menjadi biang keladinya selain juga kegagalan duo penyerang anyar Ciro Immobile dan Adrian Ramos menggantikan peran Robert Lewandowski yang hijrah ke rival utama Bayern Munich. Namun, terlepas dari kedua faktor ini, pelatih Jurgen Klopp mengakui bahwa dirinyalah yang paling pantas disalahkan.
"Kami seperti sekumpulan idiot," kata Klopp selepas kekalahan ke-10 di Bundesliga dari Werder Bremen pada laga terakhir di tahun 2014, Minggu (21/12) lalu. "Saya jadi orang yang paling bertanggung jawab, namun saya tak akan melempar handuk. Saya berjanji, kami akan meluruskan apa yang salah dan kami akan kembali menjadi pemburu yang marah.”
Dortmund sendiri sudah resmi mendatangkan gelandang berbakat asal Slovenia, Kevin Kampl, dari Red Bull Salzburg. Tapi, lagi-lagi ini semua adalah tentang perjudian. Bagaimana jika investasi terhadap Kampl seharga €10 juta ini kandas? Bagaimana jika Dortmund absen di Liga Champions musim depan sehingga pemasukan mereka dari Eropa akan berkurang? Bagaimana jika mereka, amit-amit, terdegradasi? Sudah barang tentu para bintang BVB seperti Reus dan Hummels akan pergi.

Tinggal 24 jam lagi, bursa transfer Januari akan resmi dibuka. Para raksasa Eropa tersebut masing-masing punya pertimbangan sendiri apakah bersedia berjudi selama 31 hari ke depan.
Ibarat balapan mobil Formula 1, bursa transfer Januari layaknya pitstop. Tim boleh melakukan perbaikan minor, tapi mereka tidak akan pernah berani berganti mesin atau melakukan perubahan besar-besaran karena mereka sudah pasti akan semakin tertinggal dari rival.
Atau justru kerusakan yang ditimbulkan telah sedemikian parah sehingga para raksasa ini harus pasrah untuk terus terpuruk di sisa musim.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics