FOKUS: Kiat Hemat Belanja Pemain Ala Semen Padang

Topics

Tim Kabau Sirah kerap sukses membuat pemain medioker menjadi tokcer.

LIPUTAN RIZAL MARAJO DARI PADANG
Semen Padang FC tergolong tim yang penuh perhitungan dan cermat dalam merekrut pemain. Ciri khas Semen Padang dalam soal rekrut pemain, tak pernah jor-joran atau tergoda membeli pemain bintang berharga mahal.
Manajemen tim lebih suka membeli pemain berlabel medioker, berharga "paket hemat", tapi kemudian dipoles menjadi bintang. Pemain yang sedang galau dan terombang-ambing di klub lamanya, juga kerap jadi sasaran buruan Semen Padang. Biasanya setelah menikmati suasana damai dan gaji lancar di Semen Padang, pemain galau itu kembali menemukan permainan terbaiknya.
Setidaknya, kiat belanja murah meriah tapi tepat guna seperti itu sudah dilakoni Semen Padang dalam empat atau lima tahun terakhir. Itu sebabnya, dari tahun ke tahun Semen Padang tak pernah kedatangan selebritis lapangan hijau Indonesia bertarif miliaran rupiah.
Dimulai sejak promosi Indonesia Super League (ISL) 2010-2011. Semen Padang hanya merekrut Saktiawan Sinaga, Samsidar, Heru Nerli, dan memanggil pulang Ellie Aiboy. Mereka pemain yang dianggap sudah habis, tapi di Semen Padang mereka kembali bersinar.
Untuk pemain asing, mereka hanya mempertahankan Edward Wilson Junior, mengambil Esteban Vizcarra yang merana di Persib Bandung dan Pelita Jaya. Di samping itu ada David Pagbe yang hanya bermain di Persikabo Bogor, serta Yu Hyun ko dan Park Chul-Hyung, duo Korea yang diajak debut di Indonesia. Hasilnya, tim promosi itu nangkring di posisi empat klasemen.
Musim berikut ketika main di Indonesian Premier League (IPL), Semen Padang hanya menambal dua pemain yang "agak" ternama. Ferdinand Sinaga dan Abdul Rahman. Hasilnya juara IPL dan lolos ke Piala AFC.
Tak beda jauh dengan musim berikutnya. Untuk mengarungi IPL dan Piala AFC, Semen Padang memang agak royal belanja. Tapi uang itu dibelanjakan hanya untuk pemain seperti Jajang Paliama, Wahyu Wijiastanto, Hendra Bayauw, Novan Setya, serta "si bengal" Titus Bonai yang sedang tak punya klub.
Dengan materi pemain seperti itu, perempat-final Piala AFC bisa diraih tim Kabau Sirah. Padahal, mereka tak punya Kurnia Meiga, Boaz Solossa, Ahmad Bustomi, Cristian Gonzalez, Zah Rahan, Abanda Herman, Fabiano Beltrame dan sebagainya.
Pada ISL 2014 ini, mereka juga hanya mengincar bintang kelas dua. Ketika Slamet Nurcahyo, Tantan, Samsul Arif, dan Bambang Pamungkas gagal didapatkan, mereka cukup puas dapat Airlangga Sucipto, Eka Ramdani, Seftia Hadi, dan Ezequiel Gonzalez.
Dengan pemain yang mungkin hanya berstatus "Plan C" pelatih itu, sudah cukup untuk membuat mereka sementara ini berada di dua besar wilayah barat. Eka yang nyaris invalid karena cedera, dibuat elegan lagi di lapangan hijau. Airlangga yang spesialis bangku cadangan di Bandung, diberi kepercayaan 90 menit. Seftia Hadi pun cukup berguna di lini belakang.
Cuma Ezequiel yang keluar dari harapan, dan akhirnya dilepas di putaran dua. Begitu pun Stevie Bonsapia yang masuk belakangan, tapi karena bermasalah di fisik, dipersilakan pergi.
Ketika bursa paruh musim dibuka, Semen Padang kembali dengan kiat belanjanya yang cermat. Osas Saha dan Valentino Telaubun dinilai sudah lebih dari cukup untuk memperbaiki kinerja tim di putaran kedua.
Saha, sang petualang dari Nigeria yang tak pernah betah lama-lama di satu klub, langsung tokcer. Lima laga awal, lima gol dilesakannya untuk Semen Padang. Rata-rata satu gol tiap pertandingan, adalah catatan spesial pemain yang masuk di tengah jalan.
Tak sekadar menjebol gawang lawan, sejak kehadiran Saha produktivitas gol Semen Padang meningkat nyaris 80 persen. Jika di putaran pertama dari 10 pertandingan Semen Padang hanya membukukan 12 gol, tapi lima laga putaran kedua dengan Saha terlibat di dalamnya, sudah delapan gol diciptakan Semen Padang.
Kehadiran Saha yang menjadi perhatian khusus pemain lawan, dan penempatan posisi yang selalu tepat untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk mencetak gol, adalah kontribusi terbesar untuk tim selain gol-golnya.
Tak heran, jika Saha kini begitu menikmati kehidupan barunya di Semen Padang. Dia merasakan berada di tim yang tepat. "Terima kasih pelatih, saya senang dilatih Anda, saya senang tim ini," ucapnya emosional saat berpelukan dengan pelatih Jafri Sastra, usai laga melawan Persita dimana Saha mencetak dua gol.
Sementara Valentino mungkin belum sesukses Saha. Tapi pembelian bek satu ini tetap dianggap penting oleh tim pelatih. Selain memperkaya pilihan lini belakang, pemain timnas era Nilmaizar ini juga dikategorikan sebagai pemain multifungsi.
Hanya saja, dari empat partisipasinya grafik Valentino masih turun naik. Bagus di Gresik, absen di Malang. Absen lagi melawan Persik di Padang, lugas dan apik melawan Persijap, tapi demam panggung lawan Persita di Singaperbangsa. "Dia hanya butuh adaptasi lebih banyak lagi, dia bagus dan kami membutuhkan tenaganya," ucap Jafri. (gk-33)

>
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.