FOKUS: Kisah Akhir & Awal Sebuah Era Baru FC Internazionale

Sebuah era di FC Internazionale berakhir setelah Massimo Moratti mengundurkan diri dari jabatan presiden kehormatan klub...

OLEH TEGAR PARAMARTHA Ikuti di twitter

Sebuah era telah berakhir dan dimulai di FC Internazionale setelah Massimo Moratti secara resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden kehormatan klub beberapa hari kemarin, sehingga presiden Erick Thohir kini 'sepenuhnya' menguasai belakang panggung klub.

Meski terlihat mendadak, runtuhnya era Moratti di Inter sebenarnya sudah mulai terlihat beberapa bulan setelah Thohir mengambil alih saham mayoritas klub, sementara Moratti hanya mendapatkan sisa 29,5 persen.

Pada awalnya, semua dimulai dengan kehangatan antara Moratti dan Thohir. Keduanya menampakkan senyuman lebar ketika muncul berdua untuk pertama kalinya. Manajemen baru dibentuk dengan melibatkan kedua kubu, dengan Thohir didapuk sebagai presiden baru sementara Angelomario Moratti menjadi wakil presiden. Massimo Moratti sendiri kemudian diberi jabatan istimewa sebagai presiden kehormatan.

Tetapi satu bulan setelah perubahan kepemilikan, keretakan hubungan antara Moratti dan Thohir sudah mulai terlihat. Sang presiden baru mulai memperlihatkan bahwa jabatan baru Moratti hanya simbolis dan dirinyalah yang benar-benar menentukan keputusan akhir.

Thohir tidak menunjukkan sentimentil terhadap Moratti dalam mengelola klub, ia menjalankan klub seperti sebuah bisnis yang amat sangat memperhitungkan finansial. Adanya perbedaan pandangan dari keduanya semakin jelas terlihat ketika Moratti dan keluarga absen di makan malam Natal 2014 bersama sponsor.

Segala aktivitas Inter mulai dilakukan dengan minimnya keterlibatan Moratti, dan keretakan semakin besar ketika bursa transfer musim dingin kemarin. Batalnya barter Fredy Guarin dan Mirko Vucinic memperlihatkan ada yang salah dengan belakang panggung Inter.

Pembatalan transfer dengan Juventus tersebut dipuncaki dengan keputusan Thohir melengserkan Marco Branca sebagai direktur olahraga dan mengangkat Piero Ausilio. Meski keputusan ini mengundang reaksi positif dari mayoritas suporter, tetapi ini adalah pukulan telak bagi Moratti karena Branca adalah salah satu loyalisnya di klub.

Selain Branca, Thohir sebelumnya juga melakukan perombakan di sektor manajemen lain dengan mendatangkan eks CEO Manchester United, Michael Bolingbroke dan juga Michael Williamson sebagai Chief Financial Officer setelah didatangkan dari DC United.

Musim baru menjadi sebuah titik awal yang tampaknya sudah dicanangkan oleh Thohir untuk sebuah revolusi, dan tentunya hal ini tidak membuat Moratti gembira.

Thohir melakukan perombakan besar-besaran dengan menyingkirkan pemain-pemain veteran yang berjasa mengantar Inter meraih Treble Winners pada 2010. Diego Milito, Esteban Cambiasso dan Walter Samuel terpaksa angkat kaki dari Meazza sementara Javier Zanetti berhasil dibujuk untuk pensiun dan bekerja di belakang meja.

Keputusan ini sangat baik bila dilihat dari sudut pandang finansial karena Cambiasso dan Milito adalah dua pemain dengan gaji tertinggi di klub, dengan total gaji per tahun keduanya sebesar €9.5 juta. Tetapi sekali lagi, Moratti tampak kurang puas dengan keputusan tersebut.

Sementara itu di sektor lain, dua orang kepercayaan Moratti, yaitu doktor tim Franco Combi dan staf pelatih Ivan Cordoba juga harus meninggalkan klub dengan kesepakatan bersama.

Usai melepas pemain-pemain veteran, Thohir kemudian berusaha menepati janjinya untuk mendatangkan pemain-pemain dengan nama besar dengan merekrut Nemanja Vidic, Yann M'Vila, Dodo, Rena Krhin, Daniel Osvaldo dan Gary Medel.

Tetapi, hal tersebut belum memuaskan karena suporter tentu mengharapkan dana segar yang melimpah dengan datangnya pemilik baru. Sejauh ini, manajemen Inter baru mengeluarkan dana sekitar €27.5 juta untuk membeli pemain, dengan Hernanes menjadi pemain termahal setelah direkrut €15 juta dari Lazio pada Januari silam.

Bulan Oktober 2014 menjadi puncak keretakan hubungan Moratti dengan Thohir. Pertama, CEO Inter Bolingbroke secara tidak langsung melukai hati Moratti di sebuah rapat perusahaan. Ia mengatakan bahwa pemilik baru mendapatkan warisan situasi ekonomi yang sulit dan memastikan klub tidak akan dikelola seperti dulu

Situasi menjadi semakin rumit ketika Moratti juga melakukan kesalahan di tengah menurunnya performa Inter. Ia mengkritik pelatih Mazzarri yang kemudian mendapatkan pembelaan dari Thohir.

Eks pemain Inter, Nicola Berti, mengaku heran dengan sikap Moratti tersebut dan mendukung sikap yang dilakukan oleh Thohir. "Anda bisa menyukai atau tidak menyukai Mazzarri, dan saya yakin dia belum menggapai hasil yang diharapkan semua orang. Tetapi tidak perlu Anda menyerang dia seperti itu karena Thohir tidak dapat berbuat apa-apa kecuali melindungi pelatihnya yang kesulitan pada saat ini."

Dengan perbedaan pandangan yang berjalan sejauh ini, Moratti akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden kehormatan Inter, dan langkah itu diikuti oleh anaknya, Angelomario (wakil presiden), dan juga beberapa anggota direksi lainnya yaitu Rinaldo Ghelfi dan Alberto Manzonetto.

Dengan demikian, 19 tahun era Moratti di Inter yang diwarnai 'cinta berlebihan' sehingga kerap menomorduakan finansial, yang telah menyumbangkan banyak trofi juara, telah berakhir.

Kini, Thohir dengan idealismenya dalam pengelolaan klub, dengan orang-orang terpercayanya, dengan proyek-proyeknya akan berjalan tanpa hambatan. Era baru FC Internazionale telah dimulai...

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics