FOKUS: Lima Catatan Penting Dari Kekalahan Liverpool

Berangkat dari hasil buruk Liverpool kemarin Sabtu (21/9), Goal Indonesia menawarkan lima catatan yang perlu diperhatikan kalau The Reds masih mengincar posisi bergengsi.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Kekalahan Liverpool dari West Ham United akhir pekan lalu tentu menyedot perhatian banyak orang. Betapa tidak, klub yang menjadi pesaing gelar Liga Primer Inggris hingga matchday terakhir musim 2013/14 dengan mudahnya takluk dengan skor 3-1.

Permainan menghibur yang mereka sajikan musim lalu serasa menguap. Inkonsistensi menghantui hingga sang manajer, Brendan Rodgers, tak mau bicara soal perebutan gelar lagi. Ya, sang manajer tentu frustrasi melihat anaknya bermain buruk.

Berangkat dari hasil buruk kemarin Sabtu (21/9), Goal Indonesia menawarkan lima catatan yang bisa diambil dari kekalahan Liverpool. Catatan yang tentunya perlu diperhatikan kalau The Reds masih mengincar posisi bergengsi.

Lini belakang Liverpool jelas belum siap secara mental untuk menghadapi West Ham. Hal itu tampak jelas ketika mereka kebobolan dua gol dalam tujuh menit pertama. Martin Skrtel dan Dejan Lovren tampak sangat berantikan sejak awal, sementara Simon Mignolet selalu mengambil posisi yang salah.

Memang, ini baru kali ketiga Lovren dan Skrtel berduet di jantung pertahanan. Namun untuk bek sekelas mereka, terlalu mudah kehilangan konsentrasi dan tampak rapuh ketika harus beradu dengan Enner Valencia.

Rodgers melakukan hal yang tepat ketika mengganti Javi Manquillo dengan Mamadou Sakho saat laga baru berjalan 20 menit. Tiga pemain bertahan ini membantu Liverpool memberikan kesempatan lebih untuk menyerang.
Namun bukan berarti masalah selesai. Benturan yang terjadi antara Lovren dan Sakho memaparkan secara gamblang betapa tidak rapinya pertahanan mereka. Tidak ada kohesi dan kepemimpinan di depan gawang. Dalam keadaan seperti ini, tentu ia merindukan sosok Daniel Agger. Sayangnya, kini ia hanya bisa berharap para pemain belakangnya bisa segera melebur dengan skemanya..dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Masalah selanjutnya yang terlihat jelas dari permainan Liverpool adalah minimnya ‘gigitan’ dari lini tengah. Duet Jordan Henderson dan Steven Gerrard yang jadi pusat permainan musim lalu tampak seperti anak-anak saat melawan lini tengah West Ham kemarin.

Belum lagi, performa Lucas Leiva jauh dari harapan. Rodgers terpaksa menggantikannya dengan Adam Lallana, mencoba menyuntikkan sedikit kreativitas yang ternyata tak mampu dilahirkan sepanjang laga.

Sam Allardyce menginstruksikan para pemainnya untuk terus bergerak dan ngotot. Hal ini berdampak pada permainan lini tengah yang langsung mendominasi, bahkan selama 90 menit laga berlangsung. Chiekhou Kouyate jadi salah satu pemain terbaik The Hammers malam itu. Kekuatan sang gelandang membuat lini tengah The Reds tak berdaya.
Komposisi lini tengah seperti ini tentu bukan menjadi yang terbaik yang akan dihadapi oleh Liverpool di musim ini. Namun, kalau mereka sampai kerepotan dan kalah saing, ini jelas memerlukan perhatian khusus.

Liverpool menjadi salah satu tim yang mencetak lebih dari 100 gol di musim lalu. Namun di musim 2014/15, permainan menyerang semacam itu sepertinya hanya tinggal kenangan. Apalagi selepas kepergian Luis Suarez dan cederanya Daniel Sturridge. Opsi lainnya? Ada Fabio Borini dan Mario Balotelli.

Fabio Borini memilih untuk tinggal di Anfield dan mengincar posisi reguler, tapi ia tidak menunjukkan performa yang mendukung hasratnya itu. Penyerang ini tampil begitu buruk saat menghadapi West Ham. Ia mendapat banyak peluang tapi tak mampu mengonversi satu pun menjadi gol.

Rekan penyerangnya, Mario Balotelli sempat mengirim umpan silang brilian di menit 53, tapi Borini malah menembak ke arah Adrian walau ada rekan lain yang berdiri bebas. Melihat minimnya ‘gigitan’ di lini depan, tentu Rodgers ingin Daniel Sturridge segera pulih agar ia punya alternatif lain saat menyerang.

Balotelli juga tidak menunjukkan performa apik. Yang jadi sorotan di laga lalu bukanlah permainannya, melainkan perseteruannya dengan Adrian. Ya, kalau Rodgers tak mampu meredam emosi Balotelli ini, ia bisa jadi bom waktu bagi Liverpool, terlebih di situasi di mana Liverpool butuh penyerang tajam.

Fan Liverpool mungkin beranggapan bahwa Gerrard tak pernah salah. Tapi jujur saja, keberadaan Gerrard kini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi pahlawan berkat hasrat, pengalaman, dan visi bermainnya. Namun tak jarang pula sang kapten membuat kesalahan krusial seperti saat terpeleset kontra Chelsea musim lalu.

Usia memang tak bisa berbohong. Stamina berbanding terbalik dengan usia dan Gerrard bukan lagi pemain muda dengan tenaga tak terbatas. Di lima laga Liga Primer ini saja, penurunan statistik Gerrard terlihat jelas dan puncaknya terjadi dalam laga kontra West Ham. Kala itu, ia melakukan 11 kali salah oper di area lawan dan hanya memenangkan 25% duel. Wajar, di usia 34 tahun, sang kapten diforsir untuk berada di lapangan selama 90 menit dalam lima, bahkan enam laga beruntun! Lelah yang diterima pun akhirnya terakumulasi dalam permainannya.

Ketika stamina tidak prima, risiko untuk melakukan kesalahan memang semakin besar. Peran Gerrard memang krusial dalam performa musim lalu, tapi di musim ini tak seharusnya sang gelandang dibebankan dengan empat kompetisi.

Bukan berarti Rodgers harus menyingkirkan Gerrad, tapi setidaknya Rodgers harus merotasinya dan menjaga stamina sang kapten. Di Liga Primer saja, sudah tidak ada pemain seusianya yang terus bermain 90 menit. Sang kapten memang butuh jeda untuk memulihkan stamina guna memainkan performa terbaiknya.

Kita tidak akan bicara tentang Luis Suarez lagi. Kehilangan pemain terbaik Liga Primer ini memang terasa menyakitkan bagi Liverpool, tapi ia sudah pergi ke Barcelona. Sudah saatnya bagi Liverpool untuk move-on, walau hal ini tidak akan mudah.

Yang perlu ditegaskan di sini ialah, Liverpool membutuhkan peran si no.7: seorang pembeda. Suarez punya kekuatan magis untuk mengubah keadaan suatu laga dan inilah yang tidak ada dalam skuat Liverpool sekarang. Balotelli? Ia bahkan masih memiliki masalah dengan emosinya dan masih butuh banyak pembenahan.

Kebutuhan akan Si No. 7 ini sepertinya takkan terselesaikan dalam waktu dekat. Kalau memang Rodgers mau bertaruh pada Balotelli, mungkin peran pembeda bisa didapatkan sedikit lebih cepat. Namun kalau gagal, setidaknya masih ada bursa transfer musim dingin untuk mendatangkan seorang bintang.

Sejarah pun seharusnya membuat Liverpool optimis, terlebih dengan kemampuan negosiasi di bursa transfer yang mengalami perkembangan. Hal seperti ini pernah dialami oleh Liverpool di era 1977. Saat itu, The Reds kehilangan Kevin Keegan karena si no. 7 pindah ke Hamburg. Klub Merseyside merah ini juga mengalami penurunan performa cukup signifikan dan Bob Paisley sekalipun tak mampu mengatasinya dengan mudah. Tapi, akhirnya muncul satu nama yang jadi pewaris no 7 dan menjadi legenda Anfield: Kenny Dalglish.

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics