FOKUS: Louis Van Gaal Vs. Jose Mourinho, Duel Guru Lawan Murid

Di balik ketegangan laga Chelsea vs. United, ada nuansa kerinduan dan persaingan antara guru dan murid yang juga patut disimak: Van Gaal vs. Mourinho.

OLEH GREG STOBART PENYUSUN YUDHA DANUJATMIKA

Januari tahun ini, Luis van Gaal datang ke London untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dalam acara makan malam yang digelar oleh Football Writers’ Association. Acara itu merupakan penghormatan untuk Jose Mourinho.

“Saya selalu menjadi ‘Louis van Gaal yang arogan’, tapi sekarang saya rendah hati karena ia lebih baik dari saya,” ujar pria Belanda ini pada mantan muridnya dalam pembicaraan yang hangat dan bersahabat.

Keluar dari mulut seorang lelaki yang pernah mengklaim ‘tak perlu belajar lagi’ dalam hal melatih, tentu ini merupakan pujian dan cerminan atas kentalnya hubungan di antara dua orang ini, yang pertama kali bertemu saat Van Gaal mewarisi kursi kepelatihan Barcelona dari Bobby Robson di 1997.

Minggu (26/10) besok, Mourinho akan membuktikan bahwa Van Gaal benar dan menunjukkan dirinya telah melampaui gurunya saat Chelsea menantang Manchester United di Old Trafford.

Ini benar-benar duel antara guru dan murid dan pandangan Mourinho terhadap Van Gaal – “teman baik dan lelaki hebat” – menggarisbawahi peran sang pria Belanda dalam pencapaian Mourinho dalam karir kepelatihannya.

Saat Van Gaal tiba di Camp Nou, Mourinho nyaris kehilangan pekerjaannya setelah bekerja bersama Robson sebagai penerjemah – jabatan yang membuatnya dihina oleh suporter Barcelona – sembari membantu menyusun rencana latihan, menganalisis musuh, dan berbicara dengan pemain lewat instruksi taktik.

Ia marah terhadap pandangan yang menyatakan bahwa dirinya akan mendatangkan keuntungan kalau dilepas, ia mendatangi presiden Barcelona Josep Lluis Nunez, dan menegaskan dirinya pantas dipertahankan karena perannya dalam mendatangkan Piala Raja, Piala Super Spanyol, dan Piala Winners Eropa.

“Mourinho sangat marah saat itu,” jelas Van Gaal. “Ia sangat marah dan berteriak. Itu sangat menarik perhatian saya, karena ia emosional dan ia benar.”

“Saya memintanya untuk jadi pelatih, karena ia mengenal tim dan ia bisa membantu saya. Ia mengatakan ‘ya’ dan bertahan selama tiga tahun bersama saya.”

“Ia menganalisis setiap laga untuk saya dan melakukannya dengan sangat baik. Ia mengambil alih latihan individu dan saya juga mengizinkannya memimpin dalam laga Piala Catalunya. Ia memenangkannya.”

Hubungan mereka semakin erat, sejalan dengan prestasi dalam skuat. Tim idaman Van Gaal – Mourinho sukses membawa pulang gelar La Liga dan Piala Raja.

Tahun 2000, Mourinho melepaskan diri dan jadi meniti karirnya sendiri dengan memimpin Benfica dan ia tak pernah menengok ke belakang.

Prestasi Mourinho melejit. Ia telah meraih tujuh gelar Liga di empat negara, sembilan trofi domestik, satu Piala Uefa, dan dua gelar Liga Champions bersama dua klub berbeda, torehan yang hanya mampu dicapai empat manajer lain.

Gelar Eropa terakhirnya diraih saat ia melatih Internazionale di 2010, ketika ia menghadapi Bayern Munich asuhan Van Gaal. Mou unggul saat itu, Inter menang 2-0 atas Bayern di Madrid.

Van Gaal sendiri merupakan salah satu dari ‘empat manajer lain’ yang prestasinya mampu disamakan dengan Mourinho. Ia telah memenangkan tujuh gelar liga di tiga negara, ditambah tujuh trofi domestik, satu Piala Uefa, dua Piala Super, Piala Intercontinental, dan Liga Champions. Pelatih 63 tahun ini juga telah menunjukkan bahwa dirinya belum kehilangan sentuhan magis ketika membawa Belanda ke semi-final Piala Dunia.

Walau berperan sebagai guru dan murid, filosofi mereka tentang sepakbola jelas sangat berbeda. “Ia [Mourinho] melatih untuk menang. Saya melatih untuk menyajikan sepakbola indah dan menang. Cara saya lebih sulit,” ujar Van Gaal sebelum final Liga Champions 2010.

Di awal musim ini, Chelsea asuhan Mou malah menunjukkan sepakbola menyerang – tapi tetap saja label ‘seorang pragmatis yang mengutamakan kemenangan daripada keindahan ‘ masih belum lepas dari sang pria Portugal.

The Blues yang tampil gemilang musim ini pun akan berkunjung ke Old Trafford sebagai unggulan, bahkan ketika mereka tak bisa memainkan Diego Costa.

Pasukan Mourinho sudah unggul 10 poin dari United di klasemen Liga Primer, lima poin dari Manchester City yang ada di peringkat kedua, dan mereka adalah satu-satunya tim yang belum kalah. Keberadaan Cesc Fabregas, Oscar, dan Eden Hazard juga menyajikan permainan dengan intensitas tinggi, teknik, dan ancaman bagi lawan di pertahanan mereka.

Ini adalah sepakbola yang diidamkan Van Gaal, tapi ia masih belum bisa mewujudkannya sejauh ini. Skuatnya masih tidak seimban dan diserang masalah cedera.

United melakoni pertandingan yang cukup ramah di awal musim ini, tapi mereka hanya mampu meraih tiga kemenangan di delapan laga awal, dan Chelsea adalah ujian pertama melawan tim besar sebelum menghadapi derby Manchester seminggu setelahnya.

Van Gaal mungkin tergoda untuk menggunakan strategi serangan balik yang ia terapkan di skuat Piala Dunia, tapi pertahanan United tidak mendukung hal tersebut. Mereka sudah kebobolan 12 gol, lebih banyak dari tim manapun yang ada di 10 besar.

United pasti akan berkembang seiring belanja-boros mereka mulai menyatu dengan tim, tapi mereka akan menghadapi Chelsea yang sedang dalam performa puncak, dan ada di bawah asuhan seorang manajer yang ada di puncak karirnya.

Mourinho pasti ingin menunjukkan pada kawan lamanya itu, bahwa sekarang ia adalah bosnya.

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics