FOKUS: Minim Prestasi, Putra Samarinda Ditinggal Pusamania

Setelah 20 tahun menjadi basis suporter Putra Samarinda, Pusamania pun kini membentuk klub sendiri.

LIPUTAN DONNY FAHROCHI DARI SAMARINDA Rindu prestasi. Itu lah alasan yang diajukan pentolan Pusamania, mantan kelompok suporter Putra Samarinda, ketika membentuk klub sendiri di saat Pesut Mahakam sudah memulai kiprah mereka di Indonesia Super League (ISL) 2014.Suporter mendirikan sebuah klub bukan hal baru di persepakbolaan dunia. Keinginan itu sebagian besar didasari perbedaan visi dengan manajemen klub, seperti yang dilakukan sejumlah fans Manchester United dengan mendirikan FC United of Manchester pada 2005 akibat berseberangan dengan sang pemilik, Malcolm Glazer. FC United of Manchester yang kini berkompetisi di Northern Premier League Inggris dijalankan dengan uang patungan fans.Kisah hampir serupa juga terjadi di Austria. Pada 2005, sejumlah suporter SV Salzburg mendirikan SC Austria Salzburg ketika nama klub mereka diubah pemilik baru menjadi FC Red Bull Salzburg, sehingga menghilangkan tradisi 72 tahun yang dicintai fans mereka.Di Jepang, Yokohama FC dibentuk suporter Yokohama Flugels pada 1999, karena mereka menolak merger klub kesayangannya dengan rival satu kota, Yokohama F Marinos. Fans pun patungan untuk mengelola klub tersebut.Kembali ke Samarinda. Pusamania, kelompok suporter terbesar di Samarinda ini, telah mendirikan Pusamania Borneo FC, dan kini berlaga Divisi Utama Liga Indonesia 2014 setelah dengan kekuatan modal Nabil Husin mengakuisisi Perseba Bangkalan yang sedang mengalami krisis finansial. “Publik Samarinda haus akan prestasi. Kita tim yang harusnya sudah mapan secara usia, namun capaian tim belum begitu maksimal. Maka itu, kami semua, dikomandani Nabil Husein sebagai ketua Pusamalaya [Pusamania wilayah Malaysia], saat itu menawarkan hal yang memang kita inginkan. Prestasi," jabar ketua umum Pusamania Tommy Ermanto Pasemah kepada Goal Indonesia.“Bukan bermaksud memecah publik Samarinda, tapi percayalah ini juga langkah kami untuk memajukan persepakbolaan daerah ini,” tambah pria yang kini menjadi manajer tim Pusamania Borneo FC.Bagaimana pengaruh yang dialami Pusam setelah ditinggalkan fans terbesarnya? Tak bisa dipungkiri, setelah ditinggal salah satu basis suporter terbesarnya, mempengaruhi kondisi tim. Dari segi pemasukan, seperti dari tiket laga kandang, souvenir, maupun pemasukan secara tidak langsung, memberikan pengaruh signifikan.Demikian pula dengan atmosfer pertandingan yang dirasakan para pemain Pesut Mahakam saat bermain kandang. Padahal di tiga pertandingan awal Pusam di ISL, Pusamania masih memenuhi bangku penonton di Stadion Segiri.Namun kini, setelah Pusam pindah homebase ke Stadion Palaran, tak terdengar lagi dukungan riuh suporter terbesar di Kaltim ini. Meskipun, ada komunitas suporter lain di luar Pusamania yang mendukung Bayu Gatra dan kawan-kawan seperti kelompok Supersam dan Laskar Badai Mahakam, tapi animonya masih belum bisa seperti sebelum Pusamania meninggalkan Pusam.Apalagi secara jumlah, kedua kelompok suporter ini masih belum sebanyak Pusamania yang memang sudah mengakar di kota Samarinda selama 20 tahun. Letak Stadion Palaran yang jauh dari pusat kota, serta minimnya transportasi umum, turut memberikan pengaruh.Berkurangnya atmosfer pun disamapikan M Roby dan Sandi Darman Sute. Hilangnya dukungan Pusamania tetap berdampak bagi psikologis bermainnya.“Kaget sih, tapi itu pilihan teman-teman Pusamania. Saya dekat dengan mereka semua, jadi saya mendoakan yang terbaik. Namun di sisi lain, saya tidak bisa melupakan tanggung jawab untuk tim yang membesarkan nama saya sampai sekarang," papar pemilik ban kapten Pusam ini.“Ya beda lah mas, bermain tanpa dukungan pastinya berbeda dengan suporter yang memenuhi stadion. Namun sebagai pemain profesional, saya tetap harus tampilkan yang terbaik," timpal Sandi. Walau begitu, direktur utama Pusam H. Harbiansyah Hanafiah tetap menganggap positif perkembangan sepakbola di Samarinda ini.“Saya mengapresiasi pendirian klub ini. Sudah waktunya sepakbola di Samarinda jadi pusat perkembangan sepakbola di Indonesia. Apalagi saya tahu siapa Nabil [Husein, pemilik klub PBFC],” ucapnya saat peluncuran PBFC. (gk-59)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.