FOKUS: Sejarah Dibalik Panasnya El Clasico

Hampir semuanya tahu El Clasico menyuguhkan perseteruan yang menarik antara Real Madrid dan Barcelona, tapi hanya sedikit yang tahu bagaimana rivalitas itu dimulai.

OLEH TAUFIK BAGUS

Dunia ini seakan diramaikan oleh peran dan rivalitas antarnegara, yang kadang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Ini 'dilestarikan' lewat pemberitaan media-media dunia.
Tapi, mau tak mau, inilah fakta yang harus kita terima. Namun demikian ada juga rivalitas seru dan menarik yang bisa kita nikmati, yaitu pertarungan antara 22 orang paling atletis di lapangan berukuran kurang lebih 110x80m, Real Madrid kontra Barcelona.

Untuk sejumlah tim olahraga, tak sedikit rivalitas yang juga memiliki sejarah tersendiri. Di olahraga tinju misalnya, di mana ada Muhammad Ali kontra Joe Frazier yang begitu ikonik, atau New York Yankees melawan Boston Red Sox di cabang baseball. Namun di sepakbola, perseteruan antara Real Madrid dan Barcelona memiliki tempat tersendiri di benak pecinta sepakbola.

Rivalitas antara Los Galacticos dan Blaugrana itu lebih dari sekadar rivalitas biasa antarklub atau mereka yang fanatik, juga lebih dari sekadar sukses komersil atau keberhasilan menghadirkan satu miliar pemirsa yang menyaksikan langsung laga ini. Clasico adalah panggung di mana setiap tahunnya warga Katalonia memproklamasikan kemerdekaan mereka dari Spanyol.

Bendera Katalan berkibar hampir di setiap laga El Clasico

Katalonia sendiri merupakan suatu negara yang memiliki bahasa, budaya dan identitas sendiri sampai 11 September 1714, ketika Raja Philip V menaklukkan daerah Katalan. Beberapa saat kemudian, sejumlah teritori di Iberia juga digabungkan, yang kini menjadi daerah yang kita kenal sebagai Spanyol.

Selama 200 tahun lebih, bahasa Spanyol terus diperkenalkan di Katalonia dan hingga akhirnya menjadi bahasa resmi dari daerah tersebut. Warga Katalan tetap diperbolehkan menggunakan bahasa ibu, namun semua hal perizinan, sekolah, dokumen dan bahkan media diharuskan menggunakan bahasa Spanyol. Hal ini membuat kebanggaan warga Katalan terkikis, tapi tak sampai hilang.

Pada awal abad 20an, Katalonia membuat usaha besar untuk bisa menegaskan kemerdekaan. Sayangnya, rencana mereka diredam oleh Franco, militan sayap kanan dan konservatif, yang kemudian menjadi satu-satunya diktator Spanyol di akhir Perang Sipil Spanyol pada 1939, dan selama 36 tahun ke depan, dia memerintah negaranya dengan menjadikan ketakutan, tekanan dan kekuatan militer sebagai senjatanya.

Namun ada juga yang berusaha melakukan pemberontakan, terutama mereka yang berasal dari daerah Basque dan Katalan, meski para pemberontak dari daerah lain juga terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Pemberontak yang tertangkap kemudian disiksa, dipaksa memberikan informasi dan kemudian dibunuh.

Di masa sulit sejarah Spanyol inilah yang kemudian menjadikan Barcelona muncul lebih dari sekadar klub. Mereka berubah menjadi simbol kebanggaan dari warga Katalan dan mewakili harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Rezim penguasa memiliki wakilnya tersendiri, Real Madrid. Tak sedikit yang kemudian menilai Real Madrid adalah perwakilan dari pihak yang berseberangan dengan Barcelona.

Setelah Franco meninggal dunia pada 1975, yang berujung pada berakhirnya pemerintahan kediktatoran miliknya, hak Katalonia, termasuk penggunaan bahasa Katalan di semua pertokoan, dikembalikan, meski keinginan untuk merdeka belum juga terwujud.

Persaingan panas kedua tim begitu terasa di lapangan

Hari ini, Real Madrid, yang mengenakan seragam putih-putih, masih mewakili Spanyol yang murni dan bersatu. Sebaliknya, Barcelona dengan bangganya mewakili bendera Katalan, yang merupakan satu-satunya bendera di Katalonia, yang tersemat di jersey mereka sebagai bentuk dukungan atas perjuangan tanpa henti untuk negara yang merdeka.

Lalu, bagaimana dengan masa depan El Clasico itu sendiri?

Situasi yang ada sekarang mengindikasikan El Clasico akan segera berakhir. Tak ada lagi duel panas antara Barcelona dan Real Madrid karena warga Katalonia berusaha untuk memisahkan diri dari Spanyol, untuk kesekian kalinya.

Diungkapkan presiden La Liga Javier Tebas, jika memang Katalonia berhasil dengan usaha mereka menjadi negara yang merdeka, maka sesuai dengan aturan olahraga Spanyol, itu berarti Barcelona tak akan diperbolehkan bermain di La Liga. Ya, dengan kata lain tak akan ada lagi kompetisi panas antara Barcelona dan Real Madrid. Rivalitas di antara mereka pada akhirnya akan mencapai titik akhir.

Terlepas dari bagaimana hasil kompromi politik, pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014, Santiago Bernabeu akan menjadi tuan rumah untuk El Clasico pertama di musim ini.

Siapa yang tersenyum paling akhir di laga itu, hanya waktu yang akan menjawabnya. Tapi yang bisa dipastikan bahwa selama 90 menit, dua raksasa sepakbola Spanyol itu akan berjuang habis-habisan, bukan hanya karena berebut tiga angka, tapi bisa jadi mewakili kebanggaan daerah masing-masing.

addCustomPlayer('16r3vbwcs9eb21m1q9qd9196id', '', '', 620, 540, 'perf16r3vbwcs9eb21m1q9qd9196id', 'eplayer4', {age:1407056178000});

Topics