FOKUS: Siaga Satu Manchester United Hadapi Alexis Sanchez

Topics

Empat pertandingan terakhir menoreh lima gol, dialah Alexis Sanchez, si paket komplet di lini serang Arsenal yang mesti dikhawatirkan Manchester United.

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Satu nama yang bakal paling diawasi oleh kubu Manchester United kala bentrok dengan Arsenal akhir pekan ini dipastikan tertuju pada sosok Alexis Sanchez.

Bukan tanpa sebab. Eks personel Barcelona ini tampak sudah begitu akrab dengan suhu di Liga Primer Inggris, hingga dia tak memerlukan membuang waktu untuk 'nyetel' dengan kompetisi yang katanya terbaik di dunia itu. Secara grafik performa, pemain internasional Cili ini terus mengatrol ke atas.

Tak heran bila kini dia mejeng di posisi ketiga pencetak gol terbanyak sementara EPL dengan koleksi delapan gol, menyaingi striker Chelsea Diego Costa [10] dan sang pemimpin topskor Sergio Aguero [12], bomber Manchester City.

Pantaslah kemudian menyebut Sanchez adalah pemain terbaik Arsenal di kampanye 2014/15 sejauh ini.

The Gunners bermain tanpa dia di musim ini bagai kehilangan separuh nyawa. Tidak ada ketajaman, kecepatan dan imajinasi. Hambar. Variasi menjadi hal yang langka, apalagi bisa membuat beragam peluang di lini depan. Inilah masalah Arsenal di musim ini. Manajer Arsene Wenger mencoba bertumpu pada sektor gelandang di musim ini, ujungnya malah banyak memunculkan pemain yang terlalu mirip satu sama lain dan tak menawarkan keragaman bagi daya dobrak tim.

Namun, Alexis menjadi pengecualian!

Para pemain asing yang merapat ke Inggris dari liga yang berbeda cenderung memerlukan waktu serap adaptasi yang berjangka panjang, terutama bila ditinjau dari aspek kecepatan dan fisik.

Bahkan Robert Pires, salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Arsenal, butuh waktu semusim penuh untuk belajar dan menelaah gaya EPL. Pires beruntung, sebab kompetisi Negeri Ratu Elisabeth di era masa kini lebih baik dari ketika sang legenda pertama kali mendarat di era milenium dahulu.

Bagaimana dengan pemain asing lainnya? Aklimatisasi yang mereka jalani kebanyakan gagal. Pola permainan yang ketat di liga ini menjadi kesulitan tersendiri. Ambil contoh Mesut Ozil. Sempat menjanjikan di awal, akan tetapi perlu menunjukkanperkembangan ketika dia pulih dari cedera lutut.

Lantas bagaimana Sanchez bisa secara instan menaklukkan EPL? Mengapa pula para rival klub London Utara ini, termasuk United yang akan jadi lawan hari Minggu ini, harus memasang siaga satu menghadapi mantan pemain Udinese tersebut?

Mungkin Sanchez bisa kita komparasikan dengan pemain-pemain yang meledak tanpa basa-basi: Sergio Aguero dan Eden Hazard.

Alexis bisa memainkan pos striker tengah, demikian pula ketika diperlukan tampil melebar. Persis seperti kepiawaian menghuni banyak posisi di lini depan yang diperankan Aguero dan Hazard. Mereka ini relatif hanya butuh waktu singkat untuk menjadi pemain paling berpengaruh di lini gedor tim masing-masing.

Keterampilan teknis yang luar biasa menjadi salah satu bekal utama mereka, dan dalam hal ini elemen itu amat penting bagi seorang pemain yang berkancah di liga mana pun.

Tak mudah bagi setiap pemain yang ingin menjadi pendribel di EPL misalnya - ini bisa dilihat dari kegagalan Gervinho. Akan tetapi Alexis, Aguero dan Hazard bisa dengan lihai menembakkan bola ke pojok gawang setelah mereka melewati pemain terakhir dengan posisi bola tetap menempel di kaki mereka. Di sini poin pentingnya mereka tidak menjauh dari situasi adu fisik. Ini juga yang mungkin menjadi titik yang melemahkan Ozil.

Alexis membangun serangan dengan cerdas dan berani berlari di tengah kemungkinan adanya pelanggaran, ketimbang dia berusaha bermain aman dengan menghindari jegalan dari sang lawan. Dia berusaha membuat situasi sang lawan penasaran untuk merebut bola dari penguasaannya, plus dikombinasikan dengan kemampuan mengontrol bola dalam ruang yang sempit. Sebuah kombinasi yang mematikan!

Namun karakteristik Alexis yang unik dan paling membedakan adalah energinya yang tak terbatas. Dia bagaikan punya banyak paru-paru. Berlari menyisiri menit ke menit tanpa mengusap keringat dari dahinya.

Fans mungkin sementara tak antusias melihat para personal Arsenal lainnya, yang cederung tampil ala kadar. Tapi tidak demikian dengan Alexis. Namanya justru kian dielu-elu dan selalu menjadi favorit suporter karena sang attacker tak pernah mempertontonkan sikap angkat bendera putih.

Energi yang dikerahkannya selama 90 menit menggambarkan spirit pantang mengakhiri laga tanpa tiga poin mengesankan. Sebagai contoh, dua golnya menghadapi Sunderland beberapa pekan yang lalu adalah buah dari resistensi dia dalam membombardir lawan.

Yah, menjelang kick-off di Emirates pada pengujung minggu ini, sepatutnya United bersiap merancang strategi ketahanan khusus untuk meredam Alexis.

Perlu diketahui, pemain 25 tahun ini berhasil mengemas lima gol dalam empat pertandingan terakhir Arsenal di berbagai ajang. Artinya, ada moral, motivasi dan rasa percaya diri yang membumbung tinggi di diri Alexis.

Jadi, pencapaian yang saat ini telah didaki Alexis di paruh pertama musim setidaknya jadi alat bukti bagi para rival untuk tak sekedip mata membiarkan sang pemain berkreasi di depan gawang mereka.

Kita nantikan bagaimana skuat Louis van Gaal membelenggu El Nino Maravilla.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.