Formasi Ekstrem Roberto Mancini Sukses Jinakkan Serigala

Roberto Mancini menerapkan formasi yang tergolong ekstrem untuk mengkudeta puncak klasemen Serie A Italia.

Minggu (1/11) dini hari WIB, FC Internazionale berhasil memenangi salah satu partai yang mungkin paling penting dalam perjalanan mereka musim ini, melawan AS Roma. Mengusung permainan defensif, La Beneamata menang tipis 1-0 berkat gol fantastis pemain yang tak diduga-duga, Gary Medel. Kemenangan itu mengantarkan Inter mengkudeta puncak klasemen dari Roma, meski beberapa jam kemudian harus berbagi status dengan Fiorentina. Tak heran jika kata "scudetto" perlahan semakin lantang diserukan para penggawa Tim Biru-Hitam, karena situasi mengatakan target itu kini bukan sekadar angan-angan.

"Scudetto? Ya! Saya kira kami memiliki tim yang luar biasa, yang bisa bersaing untuk merebut gelar juara dan kami bisa berada di puncak klasemen. Akan tetapi kami harus menghadapinya pada sekali langkah pada satu waktu," tegas sang pahlawan kemenangan, Medel. Satu hal yang membuat kemenangan Inter semakin menarik adalah skema ekstrem yang diterapkan pelatihnya, Roberto Mancini. Secara mengejutkan juru taktik berusia 52 tahun itu memberi debut starter kedua bagi Yuto Nagatomo dan yang pertama untuk Danilo D'Ambrosio, serta mencadangkan kaptennya, Mauro Icardi!







Alih-alih menggunakan formasi 4-1-2-1-2, absennya jangkar permainan, Felipe Melo, membuat Mancini memilih untuk memakai skema alternatif 4-3-3. Terlihat jauh lebih ofensif menabrak filosofi pragmatis Inter musim ini, tapi sesungguhnya tidak. Gaya permainan defensif tetap dipertahankan, sembari menanti momen untuk melancarkan serangan balik mematikan.

Terasa wajar, tapi komposisi pemain yang memerankan formasi tersebut membuat kita geleng-geleng kepala. Dimulai dari lini belakang, karena bagaimana bisa Mancini mengambil resiko besar memainkan duo bek sayap, Nagatmo dan D'Ambrosio, dalam duel sebesar ini.

Padahal fakta memaparkan bila keduanya amat jarang mentas di musim ini. Sementara itu duo bek sayap reguler, Alex Telles dan Davide Santon, yang semakin kompak dan jarang tampil mengecewakan justru disingkirkan.

Maju ke lini tengah, tiga gelandang bertipe defensif dan petarung dimainkan sekaligus, yakni Fredy Guarin, Gary Medel, dan Marcelo Brozovic. Ketiga gelandang itu memang pernah dimainkan secara bersamaan, tapi dalam posisi berbeda dengan Medel yang lazim dimainkan sebagai bek tengah.

Menilik bangku cadangan, masih terdapat nama Geoffrey Kondogbia, gelandang mahal berharga €40 juta yang bertipe lebih ofensif sehingga bisa menghadirkan variasi di lini tengah.

Lini depan lebih ekstrem lagi, karena kapten sekaligus top skor Inter musim ini, Mauro Icardi, untuk kali pertama duduk di bangku cadangan. Mancini lebih memilih tridente Adem Ljajic, Stevan Jovetic, dan Ivan Perisic yang dikembalikan posisinya sebagai winger alih-alih trequartista.







Hasil dari formasi ekstrem itu sungguh tak terduga, karena Inter seakan bisa membaca permainan Roma sejak sepakan mula dilakukan. Serangan I Giallorossi yang terpusat lewat kedua sisi lapangan benar-benar ditutup dan I Nerazzurri juga sukses menjebak Tim Serigala untuk terus menyerang serta menguasai bola.

Ajaibnya Nagatomo dan D'Ambrosio memiliki peran yang amat krusial, dengan keduanya diharamkan melakukan overlapping. Nagatomo ditugaskan menutup pergerakan tak terduga Maicon.

Pemain Jepang itu dipilih mengemban tugas tersebut ketimbang Telles maupun Juan, karena keunggulan dalam hal kecepatan dan hafal pergerakan Il Colosso yang mantan rekan setimnya. Soal kecepatan, Sang Samurai juga berulang kali memenangi sprint dengan winger tercepat Serie A, Mohamed Salah.

Sementara performa heroik D'Ambrosio dalam bertahan sungguh di luar akal. Dengan bantuan Brozovic dan Ljajic, ia mampu menutup rapat sisi kanan pertahanan Inter, tanpa menyisakan celah sedikitpun.

Gervinho dan Salah dibuat frustrasi, sehingga mereka menumpuk di sisi bersebrangan bersama Maicon, yang menyebabkan serangan Roma jadi tak terstruktur. Selain itu man marking-nya juga brilian, lewat salah satu aksinya memblok tembakan Edin Dzeko di depan gawang kosong timnya.

Di lini tengah, maksud Mancini menabrakkan karakter Guarin, Medel, dan Brozovic, adalah untuk mematikan pergerakan lincah nan cerdik Alessandro Florenzi dan Miralem Pjanic.

Khusus Guarin, ia memiliki tugas ganda dengan memotong aliran bola dari distributor Roma, Radja Nainggolan. Kemampuan ketiganya dalam dalam melepaskan tembakan jarak jauh juga bisa jadi alternatif serangan. Terbukti, gol semata wayang Inter lahir berkat kualitas tersebut, yang aktornya kali ini adalah Medel.

Pada sektor penyerangan, keputusan Mancini mencadangkan Icardi terbukti tepat. Mancio paham bomber asal Argentina itu bakal jadi titik refrensi pertahanan Roma, sehingga serangan akan mudah terputus.

Keputusannya untuk memasang Ljajic, Jovetic, dan Perisic, membuat lini belakang tim asuhan Rudi Garcia mudah terurai, karena tipe ketiganya yang doyan bermain melebar dan felksibel. Mereka juga tak ragu membantu pertahanan Inter.

"Itu[mencadangkan Icardi] merupakan keputusan kami, karena kami tidak ingin memberi Roma titik referensi. Kami perlu pemain-pemain secara teknis yang bisa menyerang mereka dari seluruh sisi. Hanya itu saja alasannya," beber Mancini pasca laga.





Selain kejeniusan Mancini dalam meracik strategi, Inter juga patut berterima kasih pada kipernya, Samir Handanovic, dalam kemenangan besar ini. Penjaga gawang berusia 31 tahun itu tampil spektakuler lewat total sembilan penyelamatannya. Tak heran jika kami kemudian memlihnya sebagai Man of The Match.

Setidaknya terdapat empat momen krusial milik Handanovic dalam usaha menjaga gawangnya tetap perawan. Ia memulainya di menit ke-15. Umpan matang Digne dari sisi kanan pertahanan Inter, sukses ditanduk Dzeko dengan sempurna. Ajaibnya Handanovic mampu menjangkau bola hasil sundulan, sehingga gol urung tercipta.

Kiper yang juga kapten timnas Slovenia itu kemudian meneruskan aksi gemilangnya delapan menit berselang. Sepakan keras Maicon dari dalam kotak penalti Inter, berhasil ditangkisnya. Sklimit terjadi. namun D'Ambrosio berhasil mengagalkan usaha Dzeko menceploskan bola ke gawang kosong.

Berlanjut di babak kedua, kans emas kedua yang dimiliki Dzeko pada menit ke-52 lagi-lagi gagal membuahkan gol. Adalah Handanovic yang kembali menggagalkan tandukan bomber Bosnia & Herzegovina itu, berbekal sepakan pojok Florenzi. Terakhir dan paling heroik terjadi di menit ke-62. Empat penyelamatan beruntun sekaligus dilakukan Handanovic.

Pertama ia memblok sepakan jarak jauh Florenzi, bola muntah yang disambar Salah juga berhasil ditangkisnya, hasil tangkisan itu kemudian membentur tubuh Murillo yang nyaris berbuah gol bunuh diri. Namun Hando kembali menepisnya, bola muntah kembali lahir dan Salah menanduknya dengan keras. Hap! Handanovic mengakhirinya dengan sebuah tangkapan mantap!

"Apa yang bisa saya katakan soal Handanovic dalam pertandingan ini? Dia adalah pemain terbaik! Itu saja, karena pernyataan itu sudah menggambarkan semuanya," sanjung Mancini atas performa heroik Handanovic.

Taktik semakin matang, para pemain jauh lebih kompak dan percaya diri, selain itu hadir pula sosok malaikat dalam diri Handanovic. Inter scudetto? Tunggu dulu, karena perjalanan musim ini bahkan belum sampai setengahnya. Namun satu yang pasti, kata-kata "scudetto" kini bukan lagi omong kosong bagi Il Biscione!