Gabriel 'Gabigol' Barbosa - Neymar Baru Di Giuseppe Meazza

FC Internazionale asuhan Frank de Boer, yang dihuni gelandang dan penyerang kelas dunia, akan menjadi tempat yang tepat bagi Gabigol untuk mengembangkan sayapnya.

Neymar, yang menjadi bintang Barcelona dan tim nasional Brasil, baru berusia 24 tahun, tetapi sudah ada pemain yang digadang-gadang akan menjadi 'titisannya' di atas lapangan hijau. Pemain tersebut adalah Gabriel Barbosa atau yang biasa dijuluki sebagai Gabigol, pemain yang baru saja resmi menandatangani kontrak dengan salah satu raksasa Serie A Italia, FC Internazionale.

"Dia memiliki kaki kiri Ganso, teknik Neymar dan kecepatan Lucas Moura," demikian kata Wagner Ribeiro, agen Gabigol, seperti yang dilansir The Mirror.

Bakatnya yang luar biasa sudah terlihat ketika berada di tim akademi Santos, ia mencetak lebih dari 600 gol untuk klub sepanjang delapan musim liga usia dini, dengan catatan itu menjadi asal usul julukan 'Gabigol' disematkan kepadanya.

Seolah takdir atau memang 'bagian dari rencana' Santos, Gabigol memainkan pertandingan debut di tim senior klub berbarengan dengan pertandingan terakhir Neymar di klub pada 2013 menghadapi Flamengo. Keduanya bermain bersama selama 20 menit terakhir, dengan Gabigol - yang masih berusia 16 tahun - masuk sebagai pemain pengganti.

Pemain yang direkrut klub raksasa Brasil saat bermain futsal pada usia delapan tahun itu memang tidak se-eksplosif seniornya itu, tetapi gaya permainan dan tekniknya memiliki kemiripan dengan Neymar.

Gabigol memiliki kecepatan dan teknik yang membuatnya bisa bermain dengan leluasa di posisi sayap atau sebagai penyerang lubang, ia mempunyai ketenangan yang sangat baik di depan gawang dan penyelesaian yang akurat dengan kaki kiri. Kelebihan utama Gabigol juga terletak pada instingnya sebagai seorang penyerang, ia bisa menempatkan diri pada posisi dan waktu yang tepat untuk menjebol gawang lawan.

Meski salah satu senior di timnas Brasil, Juninho, memiliki pandangan yang berbeda terkait hal tersebut. Mantan pemain Lyon itu menilai Gabriel tidak berada dalam level yang sama dengan Neymar, atau setidaknya masih belum mencapai ke sana.

"Saya tidak melihat Gabriel sebagai Neymar baru karena di Brasil tidak ada pemain seperti Neymar, yang bisa mengombinasikan kecepatan, gocekan impresif, talenta dan kemampuan mencetak gol," ujarnya kepada Tuttosport. "Neymar itu unik.

"Gabriel adalah pemain muda yang memberikan kemampuan terbaik ketika dia bermain di kanan. Dia pemain kidal yang menggiring bola dengan baik dan sangat piawai masuk ke dalam kotak.

"Dia harus berkembang secara taktik, terkadang dia memegang bola terlalu lama ketika dia seharusnya meningkatkan tempo. Dia harus berkembang, tetapi dia memiliki talenta untuk bermain di tim sekaliber Juventus, Inter dan Barcelona.

"Kebanyakan akan tergantung pada usaha dan kecerdasan yang akan ia tampilkan ketika berada di Eropa, dan juga bagaimana dia berintegrasi. Orang-orang Brasil biasanya membutuhkan sedikit kehangatan."

Bagaimanapun juga, kualitasnya sebagai striker ulung sudah dibuktikan oleh Gabriel di atas lapangan hijau, Ia sukses membukukan 50 gol untuk Santos dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit daripada Neymar, catatan yang hanya bisa digapai oleh Pele dan Philippe Coutinho.

Di level internasional, Gabigol juga memberikan kemampuan terbaiknya. Di timnas usia dini, ia sudah melalui semua tingkat usia dari U-15 hingga U-23, sebelum akhirnya melakoni debut timnas senior pada 29 Mei 2016 dan akhirnya, bersama Neymar,mengantar Brasil meraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio.

Meski demikian, ia juga tidak lepas dari kekurangan, pemain kelahiran Sao Paulo itu masih memiliki fisik yang belum matang mengingat usianya yang masih 19 tahun. Kekuatan fisiknya masih harus dikembangkan agar bisa lebih baik dalam berduel di kotak penalti, terutama dalam bola udara.

Kemudian, ia juga akan mendapatkan rintangan masalah taktik, seperti yang diketahui, permainan di Benua Biru sangat berbeda dengan di negeri asalnya yang lebh mengandalkan teknik individu. Namun, dalam hal ini, ia mengakui sudah berusaha mengatasinya bersama pelatih Santos, Dorival Junior.

"Saya menyadari tim-tim Brasil tertinggal secara taktik di belakang tim Eropa. Saya berusaha belajar taktik dari (mantan) pelatih saya (di Santos), Dorival Junior, yang kembali dari pelatihan di Eropa," ujarnya kepada ESPN Asia.

Hal-hal itu menjadi catatan penting yang harus dibenahi oleh Gabigol apabila ingin meraih sukses di Eropa bersama FC Internazionale dan memang tidak akan mudah, bahkan Neymar membutuhkan satu musim untuk dapat sepenuhnya beradaptasi dan menggapai performa terbaik.

Inter memang masih dalam masa transisi dengan hadirnya investor dan pelatih baru, tetapi adanya bintang-bintang di lini depan seperti Antonio Candreva, Ivan Perisic, Mauro Icardi yang ditopang oleh Ever Banega dan juga Joao Mario yang baru didatangkan dari Sporting Lisabon, dan kemudian pelatih De Boer yang tidak asing mengembangkan potensi pemain muda, setelah ia mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki Christian Eriksen, Toby Alderweireld dan Daley Blind saat menukangi tim akademi Ajax pada 2007 silam, akan membuat Giuseppe Meazza menjadi tempat yang tepat bagi Gabigol untuk terus berkembang.

Semua kehebohan tentang potensi yang ia miliki dan kemudian transfernya ke Inter, tentu akan membuat Gabriel mendapatkan tekanan berat. Tetapi dengan sikapnya yang membumi - dengan salah satu bukti ia mengenal setiap nama staf di Santos - dan determinasi kuat untuk terus berkembang, Gabigol hanya membutuhkan kesabaran dari klub guna memberinya waktu beradaptasi sebelum menjadi salah satu bintang andalan di skuat utama La Beneamata.