Gabriel Jesus, Kepingan Puzzle Revolusi Manchester City

Revolusi besar-besaran The Citizens bersama Guardiola akan dilengkapi dengan kedatangan sang wonderkid Brasil yang dianggap sebagai penerus Ronaldo.

Musim panas ini, sejumlah klub top Eropa saling berlomba mendapatkan perhatian salah seorang wonderkid asal Brasil. Masih berusia 19 tahun, tentu ada hal spesial yang dimiliki sang pemuda hingga banyak klub ngebet memboyongnya.

Gabriel Jesus adalah pemain yang dimaksud. Mendapat julukan sebagai penerus Neymar di skuat nasional Brasil, bintang muda Palmeiras tersebut sempat diminati Barcelona, Manchester United hingga Internazionale sebelum akhirnya resmi berlabuh ke Manchester City.

Diangkut dengan mahar mencapai £27 juta oleh manajer baru The Citizens, Pep Guardiola yang punya ambisi untuk melakukan revolusi besar-besaran di Etihad Stadium. Lantas apa yang bisa ditawarkan Gabriel Jesus pada rencana sang juru taktik ternama?

Lahir dan tumbuh besar di Sao Paulo, kawasan yang kental akan kultur sepakbolanya, Gabriel yang masih belia meniti karier bersama dengan klub amatir Associacao Atletica Anhanguera dan pada 2013 lalu memikat perhatian pemandu bakat Palmeiras yang menawarkannya bergabung dengan akademi.

Hanya dua tahun di sana, Gabriel berkembang pesat. Torehan 54 gol dari 48 kesempatan bermain dalam debutnya di skuat muda membuat Palmeiras tak ragu memberinya kontrak profesional. Debut profesionalnya terjadi pada Maret 2015 lawan Bragantino, kala ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-73 dan mendapat sambutan meriah.

Seiring berjalannya waktu, prestasi Gabriel terus menanjak. Salah satu lompatan terbesar dalam kariernya adalah ketika menjadi top skor dalam kejuaraan Copa Sao Paulo Futebol Junior U-20. Statusnya pun kian mantap sebagai bintang masa depan Brasil kala mendapat kepercayaan tampil di laga-laga besar dan mampu bersinar.

Melangkah ke pentas internasional, Gabriel ikut ambil bagian bersama skuat muda Brasil dalam kejuaraan Piala Dunia U-20 tahun lalu sebelum mendapat kesempatan mengisi skuat senior menyusul cedera yang dialami Douglas Costa jelang berlangsungnya Copa America Centenario. Akan tetapi, kendala visa memupus mimpinya untuk bisa beraksi dalam turnamen akbar yang berlangsung di Amerika Serikat tersebut.

Olimpiade 2016 yang digelar pada musim panas ini baru menjadi panggung sebenarnya bagi Gabriel unjuk gigi di hadapan publik dunia. Bersama Brasil U-23 ia sukses menyabet medali emas dan beberapa pekan kemudian pelatih anyar tim senior, Tite memberinya debut yang dibayarnya secara tuntas dengan sepasang gol dalam kemenangan 3-0 atas Ekuador di laga kualifikasi Piala Dunia 2018.

Secara postur, Gabriel mengingatkan para pendukung City akan mantan bintang mereka yang pernah bergabung pada revolusi pertama klub 2008 lalu, Robinho. Namun Gabriel memiliki kekuatan fisik yang lebih baik, ditopang dengan kecepatan, penempatan posisi, daya ledak yang kerap merepotkan pertahan lawan membuatnya menjadi sosok ideal bintang masa depan City.

"Saya melihat Gabriel dan diri saya di masa lampau, seperti ada kemiripan. Ia masih berusia sangat muda tapi sudah mencapai banyak hal-hal hebat dan mengemban tanggung jawab yang besar. Masa depannya fantastis dan sudah mempesona kita semua dengan apa yang telah dilakukannya sejauh ini," puji legenda Brasil, sekaligus sang fenomenal Ronaldo yang tentunya diamini oleh seluruh pendukung kubu Manchester Biru.

Meski telah resmi meneken kontrak, Gabriel belum merapat sebagaimana masih harus menjalani masa pinjaman di Palmeiras hingga Januari. Dengan kombinasi etos kerja dan talenta luar biasa, ia punya kesempatan besar untuk menjadi figur penting klub dan terlebih di bawah arahan Guardiola yang terkenal dengan kelihaiannya dalam mengorbitkan bakat-bakat muda saat di Barcelona maupun Bayern Munich, maka setidaknya City sudah mengamankan salah satu kepingan puzzle revolusi klub untuk menjadi yang terbaik di dunia.