Gaek & Tak Populer, Siapakah Giampiero Ventura?

Juru taktik tak populer berusia 68 tahun, Giampiero Ventura, ditunjuk sebagai sosok yang memimpin masa depan timnas Italia usai Euro 2016.

Seperti sudah dijanjikan presiden federasi sepakbola Italia, FIGC, Carlo Tavecchio, penunjukan pelatih timnas Italia usai Euro 2016 akhirnya dilakukan pada Selasa (7/6). Tak ada kejutan, karena eks pelatih Torino, Giampiero Ventura, yang kemudian diperkenalkan sebagai allenatore anyar.

Memang tak mengejutkan, tapi tetap saja keputusan ini membuat kita mengernyitkan dahi. Dibanding nominator mentereng lain macam Vincenzo Montella, Roberto Donadoni, hingga Roberto Mancini, siapa yang mengenal Ventura?

Sosoknya sama sekali tak populer bahkan usianya telah menginjak 68 tahun, hingga dahinya sudah mengkerut tanpa dikernyitkan. Fakta  bahwa Ventura gagal merengkuh satu trofi pun selama 40 tahun karier melatihnya, semakin membuat kita bertanya-tanya; apakah dia pantas memimpin tim yang pernah merengkuh empat Piala Dunia dan satu trofi Euro?

“Kenapa kami memilih Ventura? Karena dirinya adalah maestro sepakbola. Itulah salah satu alasan terpenting kami menunjuk dirinya,” ungkap Tavecchio, sesaat usai meresmikan status Ventura.

Maestro? Dari sisi mana Tavecchio memandang Ventura sebagai maestro? Jamur tanda tanya terus muncul, tapi mari kita mengenal kakek kelahiran Genoa ini lebih dalam, guna mengetahui kelayakannya memimpin La Nazionale.

Di Italia, Ventura tak pernah dipandang sebagai pelatih papan atas dan tak ada faktor yang bisa membantahnya. Memulai karier kepelatihan pada 1976, usai mengakhiri karier sebagai pesepakbola medioker di usia 28 tahun, ia lebih banyak berkutat di Serie B dan Serie C Italia.

Prestasi terbaik Ventura adalah membawa Lecce jadi juara Serie C dan baru merasakan gemerlapnya Serie A usai menjalani karier melatih selama 22 tahun.  Ia bahkan baru benar-benar mapan di Serie A dalam tujuh musim terakhir, bersama Bari dan Torino.

Namun satu hal yang patut diapresiasi adalah pengalaman segudangnya dalam sepakbola akar rumput Italia. Pernah berperan di 19 posisi berbeda dalam staf kepelatihan, mulai dari pencari bakar, pelatih junior, kepala tim amatir, asisten, hingga pelatih kepala, membuat Ventura memiliki insting dan relasi yang kuat untuk melahirkan serta menemukan pesepakbola berbakat.

Satu hal yang dalam setengah dekade terakhir, jadi krisis di sepakbola Italia dan berimpak ke timnas. Pengalaman Ventura dalam hal tersebut, bisa jadi solusi instan Italia untuk lahirkan Giuseppe Meazza, Giacinto Fachetti, Roberto Baggio, Paolo Maldini, hingga Francesco Totti baru.

Tak percaya? Sejauh mata memandang pemain-pemain hebat Italia macam Roberto Muzzi, Cristiano Zanetti, Vicenzo Iaquinta, Gaetano D’Agostino, hingga yang terbaru seperti Alessio Cerci, Angelo Ogbonna, Leonardo Bonucci, Marco Benassi, sampai Ciro Immobile adalah hasil tempaan Ventura.

“Ventura telah melahirkan banyak pemain yang menembus timnas Italia. Ia punya pengalaman besar bekerja sama dengan staf kepelatihan pemain muda dan saya pikir ia punya pikiran yang sehat," sanjung Tavecchio.

Soal taktik melatih, Ventura memiliki filosofi yang serupa dengan pelatih Italia kini, Antonio Conte. Apalagi jika bukan menang dengan menyerang. Sepakbola ala Ventura begitu ofensif, agresif, dan terbuka. Anda bisa lihat itu dengan jelas lewat kiprah Torino selama empat musim musim terakhir di Serie A.

Formasi andalannya bahkan serupa dengan Conte, yakni 3-5-2 yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi 4-2-4. Bersama Ventura, Italia akan makin tegas mengubah wajahnya, dengan tak lagi dikenal sebagai tim yang doyan bertahan.

Pendekatan taktik seperti itu juga jadi nilai plus, karena masa transisi Italia diyakini bakal berjalan mulus setelah Conte pergi. Selain itu, skema tersebut juga sesuai dengan apa yang diterapkan Juventus, klub yang sekian lama jadi poros Gli Azzurri.

Italia pun tak perlu takut akan inovasi taktik yang terus berkembang seiring perubahan zaman. Meski tergolong pelatih lawas, Ventura bukan orang yang konvensional. Dirinya bagitu tanggap dengan perubahan yang terjadi dan inovatif. Jika tak begitu, ia tentu takkan sampai melatih hingga empat dekade lamanya bukan?

“Ventura adalah pelatih yang inovatif, dirinya sungguh seorang yang visioner dalam sepakbola. Sepanjang kariernya, Ventura telah menerapkan begitu banyak taktik. Dia tak pernah menetap pada skema tunggal. Dia akan melihat segala situasinya dengan terperinci dan akan melakukan perubahan hanya di waktu yang tepat,” ungkap presiden Torino, Umberto Cairo, beberapa waktu lalu, dalam wawancaranya dengan Toro News.

Satu alasan lain yang membuat Italia menunjuk Ventura, tentu saja karena faktor ekonomi. Krisis ekonomi yang tengah mendera Negeri Pizza dan terus menurunnya pamor Serie A, membuat federasi sepakbolanya, FIGC, jelas harus berpikir ulang untuk menggaji besar pelatih timnasnya.

Sebagai pembanding, gaji Conte yang berjumlah €4 juta per tahun sudah dinilai sangat besar dan hadirkan beberapa protes. Karenanya FIGC tentu ingin mengikis pengeluaran, dengan harapan tak mengorbankan target.

Ventura jadi pilihan paling realistis, karena bersedia digaji nyaris empat kali lebih rendah dari Conte! Ya, FIGC cukup membayarnya €1,3 juta per tahun, untuk kontrak yang bertahan hingga Piala Dunia 2018 di Rusia usai.

Ventura sendiri jelas dibuat bahagia dengan pendapatan tersebut. Maklum gaji €1,3 juta per tahun, merupakan bayaran terbesar sepanjang kariernya di sepakbola. Sebelum itu, rekor bayaran tertingginya didapat di Torino lewat nilai €800 ribu per tahun.

Dari paparan di atas, kita setidaknya mulai memahami mengapa FIGC menunjuk Ventura sebagai pelatih tim nasionalnya. Walau begitu, harus diakui dan tak bisa dibantah jika mereka tentu saja berjudi dengan keputusan ini.

Ventura berpengalaman, tapi dirinya tetaplah anak bawang jika berbicara kiprah di level tertinggi sepakbola terlebih di kancah internasional. Ajang terbesar yang pernah dilakoninya adalah Liga Europa, di mana ia mengantarkan Torino hingga ke babak perempat-final pada musim 2014/15. Selebihnya hanya berkutat di level domestik.

Ventura tak pernah menghadapi tim-tim elite sekelas Real Madrid, Barcelona, bahkan Arsenal sekali pun. Karenanya, ia jelas sulit membayangkan rasanya menghadapi timnas besar seperti Jerman, Spanyol, atau Argentina.

Ventura juga belum pernah belajar bagaimana caranya membendung pemain-pemain sekelas Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau bertarung taktik dengan pelatih cerdas nan berkharisma macam Joachim Low atau Vicente Del Bosque.

Bagaimanapun Italia sudah memilih pemimpin untuk masa depannya. Mereka tentu wajib merangkul segala plus dan minus sang pengemban tanggung jawab. Kini kita tinggal menantikan, akan seperti apa petualangan Azzurri di bawah Ventura?

Topics