Gillette Player of Passion 2006: Fabio Cannavaro

Kekuatan Italia ada pada pertahanan meeka, dan di Piala dunia 2006, kapten mereka menunjukkan kekuatan dari dalam untuk membawa timnya memenangi trofi bergengsi tersebut.

Setelah tampil di Piala Dunia 1998 dan 2002, mantan bek Juventus Fabio Cannavaro ambil bagian di Piala Dunia 2006 sebagai kapten, menyusul pensiunnya Paolo Maldini usia Piala Dunia 2002.
Mengambil alih peran Maldini tentunya bukan hal mudah, tapi Cannavaro bisa mencuri hati publik Italia dengan menggunakan karakternya dan kemampuannya mengawal lini belakang.
Turnamen edisi 2006 dilangsungkan di Jeman, dan Italia terakhir kali tampil di babak final Piala Dunia 1994. Namun terakhir kali mereka memenanginya adalah di Piala Dunia 1982.
Di Jerman, mereka ambil bagian di putaran final dengan memulai dari Grup E bersama Ghana, Republik Ceko dan Amerika Serikat. Italia muncul sebagai unggulan di fase ini.
Laga pertama dimenangi dengan skor 2-0 di mana Ghana menjadi lawan mereka. Andrea Pirlo dan Vincenzo Iaquinta menjadi pencetak gol di laa itu. Di partai kedua, mereka ditahan imbang 1-1 Amerika Serikat. Karena tak ada opsi lain kecuali menang melawan Republik Ceko, skenario pun diwujudkan dengan skor 2-0.
Di babak 16 besar, Australia menjadi lawan yang harus dihadapi. Di laga ini, Cannavaro diuji karena tandemnya Marco Materazzi dikartu merah pada babak kedua. Cannavaro lolos dalam ujian tersebut dan Italia meraih kemenangan lewat penalti telat Francesco Totti.
Ukraina yang menjadi lawan diperempat-final juga terbukti bukan tandingan sepadan buat Italia, di mana Andriy Shevchenko dkk dibekuk dengan skor 3-0.
Menuju semi-final, Italia menghadapi tuan rumah Jerman. Cannavaro memimpin rekan-rekannya untuk membungkam publik tuan rumah dengan meraih kemenangan 2-0. Italia pun melangkah ke final untuk menghadapi Prancis.
Di partai puncak ini diwarnai sejumlah insiden, termasuk yang paling terkenal adalah tandukan Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi. Laga itu sendiri berakhir dengan hasil imbang di waktu normal dan akhirnya ditentukan lewat adu penalti. Italia lebih beruntung di babak ini dan memastikan meraih gelar Piala Dunia 2006.
Dengan kepemimpinannya, Cannavaro sukses mengantarkan negara ke kejayaan dan ia melengkapi segenap prestasi kolektifnya dengan sejumlah sukses personal, termasuk gelar Ballon d'Or di akhir tahun. Piala Dunia 2010 menjadi turnamen terakhirnya di kancah internasional sebelum memutuskan pensiun dengan caps total 136.
Seperti halnya dalam bercukur, dalam sepakbola hasil terbaik ditentukan oleh ketelitian. Ketika aspek terkecil dapat menentukan perbedaan antara menang dan kalah, kekuatan mental dan fisik sangat diperlukan - sebuah bukti penampilan Setangguh Baja. Untuk para fans sepakbola yang digerakkan gairah dan semangat setangguh baja, Gillette memperkenalkan Special Edition Brazil Team Razor - yang sudah tersedia di toko-toko di berbagai penjuru dunia dalam lingkup waktu terbatas.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang silet Gillette Special Edition, aktivitas in-store seru, dan berbagai hadiah menarik kunjungi www.facebook.com/GilletteIndonesia.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics