Guus Hiddink Belum Sembuhkan Penyakit Utama Chelsea

Tanpa peningkatan performa di lini belakang, Chelsea bakal tetap berkutat di posisi belasan klasemen hingga akhir musim.

Terlepas dari rentetan laga tak terkalahkan sejak dilatih manajer interim Guus Hiddink, Chelsea ternyata belum pulih sepenuhnya dari penyakit utama di sepanjang musim ini: performa payah di lini belakang.

Hasil 3-3 kontra Everton di Stamford Bridge pada Sabtu (16/1) lalu menegaskan betapa masih rapuhnya tameng pertahanan Chelsea. Itu adalah kali ketujuh gawang Thibaut Courtois jebol hanya dalam tiga laga kandang terakhir di Liga Primer Inggris.

Tak pelak, alarm peringatan untuk The Blues kini kembali meraung kencang, terutama jelang derby London kontra sang pemuncak klasemen Liga Primer Inggris, Arsenal, yang tinggal menghitung hari saja, yakni pada Minggu (24/1) esok.

Chelsea kini duduk di peringkat 14 klasemen, hanya dua peringkat lebih baik saat Jose Mourinho dipecat pada 17 Desember lalu. Padahal, Hiddink mencanangkan empat besar sebagai target realistis menyusul periode jeblok di paruh pertama musim ini. Seperti diketahui, posisi empat besar -- yang kini dikuasai Tottenham Hotspur -- saat ini sudah berjarak 14 poin di depan Chelsea.

“Selama secara matematis kami masih bisa menembus posisi empat, kami akan terus mengejar target itu. Kami harus bisa menyapu bersih seluruh laga sisa, setidaknya laga kandang. Kami butuh rata-rata 2,8 poin per laga [untuk bisa finis di empat besar] yang tentu saja akan sangat sulit,” ungkap Hiddink kepada Chelsea TV beberapa waktu lalu.

Menilik hasil-hasil pertandingan sejak Hiddink melatih, Chelsea hanya sanggup memetik satu kemenangan dan empat hasil seri di Liga Primer. Artinya, rata-rata Chelsea hanya memetik 1,4 poin per laga alias dua kali lebih sedikit dari target Hiddink!

Chelsea bagai pungguk merindukan bulan seandainya mereka masih ngotot mengincar big four dan tidak memperbaiki performa mereka. Jika menganalisis lini per lini Chelsea, tidak sulit untuk menemukan siapa biang keroknya.

Dari lini depan, Diego Costa mulai menunjukkan produktivitasnya seperti musim lalu. Lima gol dan dua assist dalam lima partai terkini menjadi bukti sah bahwa Diego is back in business. Di lini tengah, meski Eden Hazard belum terlihat membaik akibat terhalang cedera, pasokan bola ke depan tetap terjaga berkat kreativitas Oscar, Willian, dan Cesc Fabregas.

Namun, perubahan paling mencolok di lini sentral adalah romansa Hiddink dengan John Obi Mikel sebagaimana pemain Nigeria itu mampu menyegel Starting XI dalam beberapa partai terakhir, sesuatu yang tak pernah terjadi di era Mou. “Dia adalah pemain ideal dalam membawa keseimbangan tim. Mikel bisa jadi pemain kunci,” tutur Hiddink.

Maka, mudah ditebak bahwa lini belakang adalah bagian yang belum sanggup diperbaiki oleh Hiddink. Entah sudah berapa poin yang dijatuhkan Chelsea akibat problem ini. Banyak pihak, terutama fans, mungkin bingung sendiri dengan jebloknya pertahanan Chelsea: dengan komposisi bek yang relatif sama, bagaimana bisa sebuah lini yang menjadi kunci juara di musim lalu saat ini justru menjadi titik terlemah tim.

Kita tentu masih ingat betapa sering Chelsea menang dengan skor 1-0 di musim lalu. Statistik musim lalu mencatat, delapan dari sepuluh kemenangan The Blues di Liga Primer sejak Januari 2015 berhasil diraih dengan hanya selisih satu gol. Itu menandakan bahwa keberhasilan taktik pragmatis Mourinho terletak lini belakang yang solid.

Kini, benteng kukuh itu terasa hanya tersisa puing-puing. Lihat bagaimana Branislav Ivanovic sering terlambat turun ke belakang dan begitu mudah dilewati lawan, bagaimana John Terry sudah tidak cekatan seperti musim lalu dan tampak bodoh saat mencetak gol bunuh diri kontra Everton, dan bagaimana Gary Cahill gagal menjaga level bermainnya sehingga Kurt Zouma kini lebih dipercaya Hiddink.

Zouma sendiri memang mampu bertahan dengan baik dan kerap unggul dalam duel satu-lawan-satu dengan penyerang lawan, namun ia masih memiliki kekurangan. Positioning bek muda asal Prancis itu masih belum rapi. Selain itu, Zouma seperti hanya berperan sebagai pembuang bola dan masih belum matang saat mencoba membangun serangan dari belakang.

Mungkin hanya Cesar Azpilicueta yang tampil paling konsisten di antara back-four Chelsea, namun full-back Spanyol itu sebenarnya juga tidak setangguh musim lalu. Lantas, ke mana pula Baba Rahman dan Papy Djilobodji, duo bek anyar yang direkrut pada musim panas lalu?

Seiring paruh kedua musim yang sudah berjalan tiga pertandingan, Hiddink harus segera menemukan solusi secepatnya untuk lini belakang jika Chelsea masih ingin mengejar cita-cita menuju empat besar

Bergerak di lantai bursa bisa menjadi langkah konkret, namun pembelian Januari ibarat sebuah perjudian dan dipastikan tidak akan menawarkan keuntungan maksimal. Incaran utama klub seperti John Stones (Everton) sudah pasti tidak akan tersedia saat ini.

Melakukan reshuffle bisa menjadi solusi, misalnya Azpilicueta menggeser Ivanovovic sebagai bek kanan, kemudian memasukkan Baba Rahman di posisi bek kiri. Bisa pula kembali menduetkan Cahill dan Terry sementara Zouma digeser ke kanan.

Selain itu, tetap bertahan dengan susunan empat bek Ivanovic, Zouma, Terry, dan Azpi juga sah-sah saja dilakukan Hiddink. Asalkan dengan syarat bahwa kekompakan ditingkatkan dan setiap bek sadar akan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Jika tidak, maka Chelsea harus menerima kenyataan tetap tertatih-tatih di papan tengah klasemen. Bukan tak mungkin, Chelsea akan mengakhiri musim di luar sepuluh besar untuk pertama kali sejak musim 1995/96, ketika mereka finis di peringkat 11.

Melawan Everton, penyakit utama berupa bobroknya lini belakang Chelsea benar-benar terekspos, persis seperti yang terjadi di sepanjang paruh pertama musim ini. Perbedaannya mungkin adalah semangat juang tim yang terus menggebu sebelum peluit panjang benar-benar dibunyikan.

Inilah kisah tim peringkat keenam dari bawah yang memiliki jumlah kebobolan terburuk keenam di Liga Primer (34 gol). Ingat, pada akhir pekan ini, benteng Chelsea harus segera berbenah untuk menghadapi dentuman meriam Arsenal berwujud Mesut Ozil, Olivier Giroud, Theo Walcott, hingga Hector Bellerin. Siap tidak siap.