Hadapi Barcelona, Guangzhou Evergrande Andalkan Amunisi Brasil

Jawara Liga Champions Asia ini akan menerjunkan wajah-wajah Selecao yang tak asing di mata dunia untuk maledeni jawara Eropa Barcelona dalam duel semi-final di Yokohama.

LUIZ FELIPE SCOLARI - PELATIH

Luiz Felipe berharap menambah torehan gelarnya untuk mewarnai perjalanan kariernya sebagai pelatih paling bersejarah. Pada November, dia menahkodai Guangzhou ke Liga Champions Asia, menyamai pencapaian Marcelo Lippi dengan menjuarai Piala Dunia dan sejumlah titel besar di level klub dalam dua Benua.

Sementara pihaknya bakal menjadi tim underdog pada laga semi-final kontra Barcelona Kamis esok, venue untuk bentrokan ini menyimpan kenangan tersendiri bagi Felipao di mana dia pernah berada di Yokohama saat mengomandoi Selecao meraih gelar juara dunia kelima kalinya pada 2002. Ini adalah kesempatan ketiga bagi Scolari untuk meraih titel Piala Dunia Antarklub, setelah sebelumnya mendapati Gremio dan Palmeiras besutannya, takluk di Piala Interkontinental - cikal bakal berdirinya turnamen dengan format saat ini, yakni Piala Dunia Antarklub. Scolari tak terkalahkan sejak menggantikan Fabio Cannavaro Juni lalu setelah memoles Guangzhou meraih 19 kemenangan dan lima hasil imbang.

PAULINHO - GELANDANG

Pemain internasional Brasil Paulinho bergabung dengan klub dari Tottenham Hotspur pada Juni tahun ini, dan tak memerlukan banyak waktu untuk menghadirkan impresi besar dengan membantu klub merengkuh gelar Liga Super Tiongkok dan Liga Champions Asia dalam enam bulan pertamanya dengan klub. Gelandang yang dikenal pantang lelah menyisir seluruh lapangan, yang menginspirasi Corinthians meraih titel liga Brasil pada 2011 dan Copa Libertadores pada 2012, membuatnya tetap dipandang sebagai ancaman di depan gawang.

Mengantungi 32 caps di timnas Brasil, dia menjadi sosok kunci dalam skuat Selecao garapan Scolari yang menjuarai Piala Konfederasi 2013 dan bagian tak terpisahkan dari pencapaian semi-final tim di Piala Dunia tahun lalu. Pemain 27 tahun itu memiliki pengaruh yang besar di Piala Dunia Antarklub, menjadi penentu kemenangan di menit akhir dalam laga perempat-final kontra klub Meksiko, America. Paulinho pernah menjuarai kompetisi ini, setelah merengkuh gelar bersama Corinthians pada 2012 ketika mereka menundukkan Chelsea 1-0.

RICARDO GOULART - PENYERANG

Pemain 24 tahun ini merupakan contoh lainnya yang berkembang di sepakbola Asia, yang merupakan talenta Brasil yang tak pernah terlihat sebelumnya. Gourlat menonjol sebagai salah satu bintang dari Cruzeiro yang menjuarai dua titel divisi utama Brasil secara berturut-turut pada 2013 dan 2014, yang lantas menggugah Dunga untuk memberikannya sebuah panggilan timnas.

Namun Dia baru sekali mencatatkan caps bagi negaranya sebelum keputusannya menuju Asia, yang tampaknya mengakhiri kesempatannya lebih besar bagi Selecao, setidaknya dalam jangka pendek. Mendulang penghargaan pemain terbaik Brasil 2014, dia melanjutkan karier gemilangnya di Tiongkok, di mana dia mampu mencetak 27 gol dalam 42 penampilannya sejak tiba di sana dan dia merupakan topskor di Liga Champions Asia tahun ini.

ROBINHO - PENYERANG

Mantan striker Santos, Milan dan Real Madrid ini bisa dikatakan sebagai pemain terbaik Brasil di Copa America tahun ini, akan tetapi tak pernah lagi dipanggil pelatih Dunga setelahnya. Karier internasionalnya mungkin akan semakin parah menyusul kepindahannya ke Asia. Membela negaranya dalam 99 pertandingan, dia akan berharap mempertahankan kepercayaan Scolari setelah ditarik keluar ketika half-time menghadapi America di perempat-final.

Pernah menjuarai sekali Copa America dan dua kali Piala Konfederasi, Robinho bertekad besar memainkan peran utama setelah adanya batas untuk para pemain asing yang membuatnya sempat tidak bisa terlibat dalam skuat Liga Champions Asia. Menghadapi teman dan mantan rekan setimnya Neymar akan menjadi momen yang spesial bagi sang striker veteran, yang mana masih mendapatkan label sebagai pesepakbola bola favorit di mata Neymar. Robinho meneken kontrak enam bulan dengan klub ini pada Juni lalu dan dia telah mengepak tiga gol dalam sembilan penampilan liga sejak kedatangannya di Tiongkok.

ELKESON - PENYERANG

Sebagaimana pelatih Brasil Dunga yang melanjutkan pencariannya akan sosok No. 9 untuk memimpin lini serang Selecao, Elkeson akan bertanya-tanya, apalagi yang bisa dibuktikannya untuk menarik perhatian sang pelatih dan meraih panggilan timnas untuk pertama kalinya. Pemain 26 tahun ini bergabung ke klub dari Botafogo pada 2013 dan telah berada dalam tren mencetak gol yang luar biasa sejak menuntaskan kepindahan dari Brasil senilai €6 juta.

Merengkuh anugerah Pemain Terbaik 2014 di Tiongkok, torehan lebih dari 70 golnya membuat dia menginspirasi klub untuk meraih tiga titel liga dan dua trofi Liga Champions Asia. Itu adalah pencapaian menakjubkan dirinya, dan memberi Guangzhou satu-satunya gol di laga yang menyisihkan Al Ahli dari Uni Emirat Arab, di mana mereka merengkuh gelar titel ACL bulan lalu. Elkeson tak diragukan lagi, akan menyedot perhatian tinggi bagi lini pertahanan Barcelona pada bentrokan Kamis ini.