Hampa Striker Top, Bagaimana Nasib Italia Di Euro 2016?

Gagal melanjutkan tradisi melahirkan striker top, akan seperti apa nasib Italia di Euro 2016?

Filosofi catenaccio tentu begitu akrab di telinga para pecinta sepakbola ketika menyinggung timnas Italia. Catenaccio sendiri merupakan sistem taktis dalam sepakbola yang menitikberatkan permainan kekuatan pada lini pertahanan. Filosofi tersebut begitu tersohor di dunia sepakbola lantaran berulang kali membawa Negeri Pizza ke puncak kesuksesan. Karenanya tak heran jika muncul begitu banyak bek legendaris asal Italia.

Namun bukan berarti segala hal yang berbau sepakbola Italia adalah pertahanan. Faktanya juga banyak pesepakbola legendaris asal mantan negara pimpinan Benito Mussolini itu yang berposisi sebagai penyerang. Mulai dari Giuseppe Meazza, Luigi Riva, Paolo Rossi, sampai Salvatore "Toto" Schillaci.

Bahkan pada medio 1990-an hingga 2000-an, sepakbola Italia pernah melahirkan generasi emas penyerang yang amat kompetitif di level tertinggi sepakbola. Kala itu muncul nama-nama mentereng layaknya Christian Vieri, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, Francesco Totti, hingga Luca Toni. Mereka bersaing ketat di level klub dan timnas. Saking kompetitifnya, beberapa nama besar di atas sempat tak diikutikan ke ajang besar macam Euro atau Piala Dunia.

Namun mimpi buruk yang tak terbayangkan hadir di era kini. Seturut dengan terjun bebasnya prestasi Serie A Italia, mungkin untuk kali pertama dalam sejarah, Italia tak punya striker top yang bisa diandalkan di timnas.

"Kami tidak lagi memiliki deretan penyerang yang bermain di level tertinggi, yang terbiasa mendapat tekanan hebat. Tipe penyerang yang saya maksud adalah seperti [Filippo] Inzaghi, [Alessandro] Del Piero, [Francesco] Totti, atau saya. Itu cukup menyedihkan," tutur salah satu striker generasi emas, Toni, seperti diungkap Bild baru-baru ini.

Apa yang dikatakan Toni mungkin terkesan angkuh dan terlampau membanggakan generasinya, yang berhasil merengkuh gelar Piala Dunia 2006. Namun faktanya memang demikian, Italia saat ini hampa akan penyerang top. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, menilik Euro 2016 bakal segera digelar kurang dari 80 hari lagi.

Performa Striker Langganan Conte

Graziano Pelle - 31 penampilan/12 gol

Eder Citadin - 30 penampilan/13 gol

Simone Zaza - 18 penampilan/7 gol

Ciro Immobile - 27 penampilan/9 gol

Sebastian Giovinco - 2 penampilan/2 gol

Tak percaya? Mari tengok lima besar nama penyerang Italia yang paling sering dipanggil Antonio Conte di atas ini. Ironis mungkin jadi kata yang pantas untuk menggambarkannya, seturut kebesaran sejarah striker asal Italia. Tak satu pun bomber di atas yang pantas disebut sebagai penyerang top. Selain sebagian besar membela tim medioker, jumlah gol yang mereka torehkan musim ini pun tak mumpuni.

Graziano Pelle sebagai striker dengan koleksi caps terbanyak era Conte, hanya membela klub papan tengah macam Southampton di usianya yang kini menginjak 30 tahun. Kemudian Eder Citadin yang sebagian besar kariernya dihabiskan di level medioker sebelum hijrah ke FC Internazionale, pada bursa musim dingin lalu.

Selanjutnya ada Simone Zaza, sosok striker masa depan yang sayangnya merupakan pilihan terakhir di Juventus. Bagaimana dengan Ciro Immobile? Kita pasti dibuat heran mengapa dia jadi capocannoniere Serie A 2013/14 lalu, menilik kegagalan totalnya di Borussia Dortmund dan Sevilla. Terakhir ada Sebastian Giovinco yang punya skill tinggi, tapi hanya berkiprah di Major League Soccer yang kualitasnya dipertanyakan.

Atmosfer medioker semakin kental terasa jika daftar penyerang yang sempat dipanggil diperpanjang. Ada Stefano Okaka Chuka, Mattia Destro, Fabio Borini, Giuseppe Rossi, hingga tentu saja Mario Balotelli. Nama terakhir ini sejatinya jadi sosok yang paling diharapkan kebintangannya. Namun ia menghancurkan sendiri karier apiknya di usia muda dengan cara yang konyol.

Aura kebintangan yang rendah dari kumpulan striker di atas terpapar jelas dari performanya untuk Gli Azzurri sepanjang kepemimpinan Conte sejak Juli 2014 lalu, yang terurai dalam 10 bentrok di kualifikasi Euro 2016 dan delapan laga uji coba internasional, termasuk hadapi Spanyol (25/3) dini hari WIB.

Dari 16 gol yang dicetak Italia pada babak kualifikasi Euro 2016, hanya lima gol yang disumbangkan para bombernya. Ironisnya jumlah gol itu tercatat atas dua namasaja, yakni Pelle (tiga gol) dan Eder (dua gol). Rasionya tak membaik di partai uji coba internasional, lantaran cuma dua gol yang bisa diceploskan para penyerangnya dari delapan gol yang ditorehkan.

Situasi seperti itu jelas membuat nasib timnas Italia di Euro 2016 dalam tanda tanya. Mereka mungkin bisa tetap kuat di lini pertahanan dan kompak sebagai sebuah grup, tapi segalanya tak akan berarti tanpa adanya pencetak gol ulung. Meski begitu tak segalanya negatif, karena titik terang muncul dari sektor yang lebih kreatif di lini depan.

Seturut dengan tuntutan sepakbola modern di mana para striker tak hanya punya tugas mencetak gol tapi juga menciptakan peluang, Italia era kini melahirkan deretan pendamping penyerang yang bisa jadi harapan. Mayoritas dari mereka berposisi sebagai winger, berusia muda atau produktif, dan jadi andalan klub-klub besar.

Lorenzo Insigne, Antonio Candreva, Stephan El Shaarawy, Federico Bernardeschi, dan Emanuele Giaccherini, jadi representasi terbaik. Mereka tampil begitu memesona musim ini, dengan tiga di antaranya jadi andalan klub-klub yang punya target tinggi sekaligus tekanan hebat. Sumbangsih gol mereka di era Conte juga lebih banyak satu gol ketimbang para striker murni.

Para winger Italia bisa jadi solusi instan lini depan

Insigne jelas jadi komoditi utamanya, karena musim ini bisa dibilang sebagai musim terbaik sepanjang kariernya. Pemain 24 tahun itu berperan atas 23 gol dari 34 penampilannya di semua ajang bersama Napoli, sekaligus memimpin I Partenopei bersaing kuat dengan Juve dalam perburuan Scudetto Serie A.

Pada caps pertamanya di era Conte dalam duel hadapi Spanyol dini hari tadi, Insigne bahkan langsung memberikan pembuktian dengan mencetak gol, walau duel berkahir 1-1. Luar biasanya adalah performa semua winger yang tampil di laga tersebut, di mana Candreva, Giaccherini, dan Bernardeschi membuat Italia menciptakan 11 peluang mencetak gol, unggul telak dari sang lawan yang merupakan juara bertahan Euro dua gelaran beruntun. Ingat, gol Insigne juga lahir berkat kombinasi sempurnanya dengan Bernadeschi dan Giaccherini.



Kehadiran Insigne cs bak jadi solusi instan bagi Conte akan krisis striker yang tengah dialami timnya. Italia jadi bisa menatap Euro 2016 dengan lebih optimistis. Namun fakta bahwa mereka tak memiliki striker top jelas tak bisa diabaikan federasi sepakbola Italia, FIGC. Mereka harus segera menemukan dan menerapkan kebijakan untuk kemajuan para bakat pribuminya, jika tak ingin calcio terus terpuruk.

Topics