Hantu Italia Yang Masih Bergentayangan

Gli Azzurri tertunduk lesu setelah kalah dalam adu penalti edan kontra Jerman, tapi mereka tetap pulang dengan kepala tegak.

Kutukan itu telah berakhir. Eksekusi penalti Jonas Hector berhasil melewati sergapan tangan Gianluigi Buffon sekaligus memastikan Jerman menyudahi perlawanan Italia, tim yang selama ini menghantui Tim Panser selama 54 tahun lamanya.

Delapan kali kedua tim bertemu di turnamen utama, baik itu di Piala Dunia maupun Euro, namun baru di perempat-final Euro 2016 kali ini Jerman mampu mengalahkan Italia. Catat tanggal dan tempatnya: 2 Juli 2016 di Bordeaux, Prancis.

Sempat unggul terlebih dulu lewat gol Mesut Ozil, Jerman “sukses” membuat fans mereka gemas menyusul handball konyol Jerome Boateng di kotak penalti. Sepakan titik putih Leonardo Bonucci lantas menyetarakan angka menjadi 1-1. Papan skor tidak berubah sampai pengujung waktu normal plus babak tambahan waktu sebelum akhirnya Jerman memenangi adu penalti dramatis itu.  

Jerman tentu saja sangat bersukacita dengan kemenangan ini, karena selain berhasil mengalahkan bogey team berwujud Italia, mereka juga lolos ke semi-final secara beruntun dalam enam turnamen utama terakhir, terhitung sejak Piala Dunia 2006 hingga Euro tahun ini. Mimpi Jerman untuk mengawinkan Piala Dunia dengan Piala Eropa pun tinggal berjarak dua pertandingan.

Jerman secara tak terduga memainkan skema 3-5-2, mencoba meniru formasi andalan Italia. Pelatih Joachim Low rela menggeser Julian Draxler, bintang kemenangan atas Slowakia di babak 16 besar, dengan memasukkan Benedikt Howedes untuk melengkapi trio bek di depan Manuel Neuer. Dengan materi pemain yang lebih berkualitas, praktis Jerman memegang kendali permainan.

Namun, Jerman terlihat kepayahan merubuhkan tembok supertangguh Italia. Beruntung mereka memiliki Mario Gomez. Topskor Liga Turki ini berfungsi sebagai penahan bola di area pertahanan Italia, sehingga Jerman leluasa mengurung pertahanan Italia. Ia pun mengotaki gol pemecah kebuntuan setelah lihai mencermati pergerakan Hector yang meneruskan bola ke Ozil.

Selepas striker Beskitas itu ditarik keluar, Jerman seperti tak memiliki titik vokal di lini depan. Thomas Muller belum menunjukkan tanda-tanda bakal “pecah telur” di Euro, terlepas dari peluang emasnya yang dihalau secara akrobatik oleh Alessandro Florenzi di menit ke-53. Ozil cenderung diam dan performa tak maksimalnya ini tertutupi oleh sebiji gol ke jala Buffon.

Melawan Prancis atau Islandia di semi-final, Jerman harus menemukan kembali sengatan-sengatan yang hilang di laga kontra Italia. Dengan Mats Hummels dilarang tampil akibat akumulasi kartu ditambah potensi absen Sami Khedira dan Gomez karena cedera, Low punya pekerjaan rumah yang tidak sedikit.

Sementara bagi Italia, kekalahan ini bisa dimaklumi dan tidak perlu diratapi. Mereka telah melakukan yang terbaik di Prancis, dengan materi skuat yang disebut-sebut oleh para pengkritik sebagai yang terburuk dalam sejarah sepakbola Italia. Kemenangan atas Belgia dan Spanyol menjadi tinta emas bagi Italia era Antonio Conte.

Italia kenyataannya masih menjadi hantu yang bergentayangan bagi Jerman. Pasukan Antonio Conte seperti tinggal menunggu satu kesalahan kecil dari Jerman untuk bisa mencuri gol. Proses gol balasan Italia secara gamblang menunjukkan hal itu, yakni ketika Boateng menyentuh bola dengan tangannya secara ceroboh.

Tanpa bermaksud mengecilkan peran adu penalti, Jerman sebetulnya masih belum bisa melepaskan diri dari hantu Italia karena kegagalan mereka untuk menang di waktu normal. “Kami tak mampu mengalahkan Italia dalam 90 menit. Kami tidak sanggup membekuk Italia dalam 120 menit,” tutur Neuer selepas pertandingan.

Gli Azzurri hanya kalah dari Jerman lewat adu penalti, aspek dalam permainan yang banyak diibaratkan sebagai sebuah lotere. Dengan status sebagai tim yang tidak diunggulkan di Euro 2016, mampu menang atas Jerman ya alhamdulillah, kalah juga tidak mengapa.

“Selama 120 menit kami seimbang dengan tim juara dunia,” kata Bonucci, yang gagal dalam menjadi algojo penalti dalam adu tos-tosan. “Tereliminasi selalu menyakitkan, tapi para pria ini, dari pelatih dan presiden hingga para pemain, adalah pria hebat. Kami menaruh hati kami di lapangan di setiap pertandingan dan setiap sesi latihan. Kami berharap membuat masyarakat Italia bangga,” imbuhnya.

Pernyataan Bonucci di atas adalah intisari dari perjalanan Italia di Euro 2016. Italia setidaknya masih belum terakalahkan oleh Jerman di waktu normal. La Nazionale pulang ke negaranya dengan kepala tegak. Menarik dinanti melihat bagaimana pelatih anyar Giampiero Ventura memaksimalkan skuat yang sudah kuat secara mental dan taktik ini untuk berkompetisi di kualifikasi Piala Dunia 2018.

“Seandainya kita tak mendapatkan kemenangan yang lengkap, kita sedapat mungkin dapat menghindarkan kekalahan,” tulis Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul Menuju Republik Indonesia (1925). Kutipan dari pahlawan kiri Indonesia itu sepertinya diamini betul oleh Conte dan pasukannya.

Italia akan senantiasa menjadi tim yang selalu ditakuti oleh Jerman.