HEAD-TO-HEAD: Sejarah Berpihak Pada Juventus

Ibarat diktator, Juventus kini ada di atas sebagai juara bertahan Piala Super Italia sedangkan Napoli ada di bawah, menengadah ke atas dengan berani layaknya pemberontak.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA

Diktator Serie A, Juventus, kembali ditantang oleh Napoli yang pelan-pelan merangkak ke kasta atas Italia. Hanya saja, pertemuan keduanya kali ini bukan sekadar pertandingan liga ataupun persahabatan, melainkan perebutan Piala Super Italia. Tekanan, ekspektasi, dan gengsi yang lebih besar akan dipertaruhkan dini hari nanti (23/12). Juventus sampai di tahap ini dengan menjuarai Serie A musim 2013/14, satu prestasi yang mereka pertahankan sejak tiga tahun lalu. Sementara itu, Napoli menantang Juventus sembari menyandang gelar juara Piala Italia di musim yang sama. Laga dini hari nanti tentu dinantikan dan pertandingan berimbang yang ketat jadi idaman.

Namun kalau melihat sejarah, rasanya ekspektasi itu belum tentu terwujud karena Juventus kerap dominan saat menghadapi Napoli. Si Nyonya Tua berhasil meraih 69 kemenangan dari total 150 laga melawan Partenopei, sementara hanya 49 kali imbang. Di lima pertemuan terkini, Napoli bahkan hanya mampu menang sekali melawan Juventus di semua kompetisi.

Satu hal yang paling segar di ingatan tentu adalah laga Piala Super Italia pada musim 2012/13, di mana pasukan Antonio Conte meraih kemenangan besar 4-2. Sejarah berpihak pada Juventus, wajar saja, mereka selalu menjadi kekuatan besar di Italia dan hal tersebut termanifestasi dalam tirani mereka yang bertahan selama tiga musim. Tapi tak selamanya sejarah menggambarkan masa depan, sebab Napoli juga punya rekor apik berkenaan dengan pertandingan semacam ini. Yap, kekuatan tersebut ada di dalam ahli taktik mereka, Rafael Benitez.

Pelatih asal Spanyol ini disebut sebagai spesialis turnamen dan Juve boleh gentar kalau melihat catatan ini. Performa klub yang dipimpin oleh Benitez selalu menunjukkan performa apik di setiap laga one-off alias satu pertandingan penentu. Ketika tiba di Internazionale empat tahun lalu, ia bahkan langsung mempersembahkan Piala Super Italia dan Piala Dunia Antarklub. Tak berhenti sampai di situ, setelah pindah ke Chelsea ia juga membawa pulang gelar Europa League ke London. Dan prestasi terkininya sudah jelas, Piala Italia.

Menyimak sejarah memang selalu menyenangkan, apalagi kalau dipenuhi dengan gemerlapan. Juventus boleh jemawa kalau mereka melihat ke belakang, tapi itu bisa jadi ancaman bagi mereka sendiri sebab Napoli selalu berbahaya di ajang semacam ini. Ibarat diktator, Juventus kini ada di awan sembari menggendong dua Piala Super Italia (2012 & 2013) sedangkan Napoli ada di bawah, menengadah ke atas dengan berani layaknya pemberontak. Mungkinkah rezim Juventus terhentikan? Entahlah, lebih baik menyaksikan sendiri pertandingan nanti. Satu catatan saja, kisah si kecil yang mengalahkan si besar selalu jadi favorit sejak era David dan Goliath.