Hooligans Inggris Pakai Senjata, Rusia Tangan Kosong

Topics

Seorang hooligan asal Rusia menyatakan tak ada niatan untuk membunuh atau mencederai lawan, dan menganggap kekerasan sebagai bagian dari olahraga.

Apa yang menjadi latar belakang terjadinya kerusuhan antarsuporter garis keras Inggris dan Rusia mulai terkuak dengan adanya penjelasan Vladimir, seorang hooligan asal Rusia.

Vladimir, seorang ayah dengan dua anak yang berprofesi sebagai manajer di sebuah perusahaan Rusia, sempat ikut terlibat dalam bentrokan terakhir dengan hooligans asal Inggris, yang disebutnya lebih pantas menjadi wanita.

Seperti diketahui, serangkaian kerusuhan terjadi antara kedua hooligans di Marseille beberapa saat sebelum dan sesudah berlangsungnya partai Euro 2016 kala Inggris ditahan imbang Rusia dengan skor 1-1.

Buntut dari kejadian tersebut, UEFA telah beraksi keras dengan membuka investigasi lebih lanjut serta mengancam akan mendepak Inggris maupun Rusia apabila insiden serupa kembali terjadi.

Menurut Vladimir yang merupakan pendukung Lokomotiv Moskwa, setidaknya ada 500-600 kelompok hooligans yang memang menjadikan ajang sebesar Piala Eropa tahun ini untuk unjuk gigi. Dari Rusia, selain fans garis keras timnya, terdapat juga dari Spartak, CSKA Moskwa dan Zenit St Petersburg yang menyatukan loyalitas mereka bagi skuat nasional.

"Tidak peduli dari kota mana kami berasal atau tim mana yang didukung, yang terpenting kami semua sama-sama berasal dari Rusia. Kami semua bersatu melawan [hooligans] Inggris," ungkap Vladimir seperti dilansir AFP.

"Inggris selalu mengklaim mereka adalah hooligans utama dalam sepakbola. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa mereka seperti wanita. Keputusan UEFA tak akan memengaruhi sikap yang akan ditempuh hooligans selanjutnya."

"Hooligans dari Rusia lebih muda, bukan seperti kelompol Inggris yang berusia tua dan suka banyak minum bir. Rata-rata usia kami 20-30 dan banyak dari mereka yang menekuni olahraga semacam tinju atau martial arts."

"Tujuan kami adalah menunjukkan kepada hooligans Inggris bahwa mereka tak bisa bertengkar. Mereka menggunakan kursi dan botol, sementara gaya kami dengan tangan kosong. Menggunakan senjata bisa mengakibatkan cedera yang tak semestinya terjadi."

"Bagi kami ini ibarat olahraga. Kami sama sekali tak punya niatan untuk membunuh atau melukai pihak lain, yang ada hanyalah ingin menunjukkan kekuatan," tukas Vladimir.

Topics