ISC A Dorong Aktivitas Perekonomian Indonesia Sebesar $132 juta

PT GTS terus mengembangkan inovasi untuk paruh kedua ISC A.

Setelah vakumnya sepakbola Indonesia selama tahun 2015, Indonesia Soccer Championship (ISC) A akhirnya hadir pada 2016 melalui gagasan para klub anggota PSSI yang dijalankan oleh PT Gelora Trisula Semesta sebagai operator.

ISC pun telah merampungkan putaran pertama dengan Madura United sebagai juara paruh musim.  Inovasi coba dilakukan pada segi teknis seperti kinerja pengawas pertandingan, panitia pelaksana pertandingan, wasit hingga pendaftaran pemain.

Selain itu, sisi bisnis juga jadi perhatian pada gelaran ISC ini. PT GTS mengklaim bahwa selama 17 pekan pertama bergulirnya ISC, setidaknya memberikan efek pergerakan ekonomi sebesar $132 juta atau sekitar Rp1,7 triliun.

"Berbagai inovasi telah kami jalankan untuk membuat kompetisi ini lebih berwarna. Dimulai dari sistem efisiensi kerja di lapangan, sistem pengawasan pertandingan, wasit hingga pendaftaran pemain telah dilakukan secara online agar tercipta efisiensi kerja," papar Joko Driyono, direktur utama GTS.

"Secara ekonomi, kompetisi ini memberikan efek berupa 17.000 lapangan pekerjaan baru dan gross value added lebih dari $132 juta," imbuh pria asal Ngawi tersebut.

Secara sponsor, memang ISC ini lebih besar pendapatannya ketimbang kompetisi resmi sebelumnya. Torabika menjadi sponsor utama yang didampingi Indosat Ooredoo, Sido Muncul dan PT BTPN. Upaya untuk memberikan klub pendapatan yang signifikan pun membuat kasus penunggakan gaji tak terdengar lagi.

"Kami merasakan bahwa dari tahun ke tahun, bahwa hingga pekan ke-17 ini kami tidak pernah mendapat komplain dan catatan bahwa pemain tidak digaji.  Ujungnya, ada harapan bahwa sepakbola ini bisa menjadi school of life bagi kita semua," pungkas Joko.

Topics