Islam Slimani, Si Bengal Tandem Ideal Jamie Vardy

Postur tubuh menjulang dan ketajaman Slimani dikolaborasikan dengan kecepatan serta insting membunuh Vardy yang bisa menjadikan lini depan The Foxes kian mengancam pertahanan lawan.

Untuk ketiga kalinya pada musim panas ini, Leicester City memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Islam Slimani. The Foxes merogoh kocek sebesar £29,7 juta demi memboyong striker asal Aljazair tersebut dari Sporting CP.

Slimani resmi menjadi milik juara bertahan Liga Primer Inggris beberapa jam sebelum bursa transfer lalu ditutup. Dia menandatangani kontrak selama 2021 di King Power Stadium.

Kariernya dimulai saat Slimani memperkuat JSM Cheraga dan mencetak 21 gol dari 22 penampilan pada musim 2008/09. Dia hengkang ke klub Aljazair lainnya, CR Belouizdad, pada Mei 2009.

Empat musim bersama Belouizdad, perkembangan Slimani berjalan stabil dengan torehan 32 gol dari 96 penampilan sebelum diangkut Sporting ke Estádio José Alvalade pada Agustus 2013.

Dalam beberapa bulan awal, Slimani tidak mendapat kesempatan menjadi starter secara reguler. Namun, dia menjadi pilihan utama pada pengujung musim 2013/14 dan total mencatatkan delapan gol serta empat assist dari 26 penampilan liga.

Memasuki musim 2014/15, Slimani menjadi pilihan utama di sektor depan Sporting. Dia melesakkan 12 gol dari 21 pertandingan liga dan empat assist. Pemain yang kini berusia 28 tahun itu juga membukukan dua gol dari enam penampilan di Liga Champions.

Ketajaman Slimani meningkat pesat musim lalu. Dia menorehkan 27 gol dari 33 penampilan liga dan enam assist. Slimani juga membantu Sporting memenangi Taca de Portugal dan Supertaca Candido de Oliveira.

Selama memperkuat Sporting, dia dijuluki "The Dragon Slayer" karena mencetak enam gol dari enam laga kontra FC Porto yang notabene rival timnya.



Slimani memulai debut internasionalnya ketika tampil membela Aljazair yang mengalahkan Niger pada Mei 2012. Sejauh ini, dia telah mencetak 23 gol dari 43 laga bersama Aljazair, termasuk dua gol di Piala Dunia 2014 lalu. 

Winger Leicester sekaligus rekan senegaranya, Riyad Mahrez, merupakan sosok yang meyakinkan Slimani untuk hengkang ke King Power Stadium. Atmosfer Liga Primer juga menjadi alasannya menerima pinangan The Foxes.

"Saya selalu ingin bermain di Liga Primer dan mendapatkan kesempatan untuk melakukan itu bersama juara bertahan, itu sesuatu yang tidak bisa ditolak. Teman saya, Riyad Mahrez, menceritakan tentang klub kepada saya dan atmosfer yang diciptakan fans Leicester di King Power Stadium. Saya jelas akan memberikan segalanya di lapangan bagi klub dan rekan-rekan setim. Saya berharap kami bisa meraih sesuatu yang spesial bersama," ungkapnya.



Kehadiran Slimani bakal menambah aroma kompetitif di lini depan Leicester yang dihuni oleh Shinji Okazaki, Leonardo Ulloa, Jamie Vardy serta striker anyar, Ahmed Musa. Dengan skema 4-4-2 yang biasa diterapkan manajer Claudio Ranieri, dia bakal menjadi tandem maut bagi Jamie Vardy. 

Postur tubuh yang tinggi menjanjikan ketangguhan dalam duel udara, penyelesaian akhir Slimani pun cukup mematikan. Dikolaborasikan dengan kecepatan dan permainan ngotot Vardy. Apabila sodoran bola dari sektor tengah atau umpan silang Riyad Mahrez dan Marc Albrighton dari sayap tidak mampu disambut Vardy, Slimani bisa menjadi solusi jitu.

Etos kerja Slimani merupakan sesuatu yang sangat membuat Ranieri terkesan. Akan tetapi, watak keras dia menjadi tantangan tersendiri bagi Ranieri. Pasalnya, dia pernah beberapa kali terlibat ketegangan dengan pelatih. Salah satu contohnya ketika dia marah saat ditarik keluar pelatih Sporting, Jorge Jesus, saat melawan Arouca pada Maret lalu. Slimani juga tidak segan berdebat dan memprotes keputusan wasit. Itu merupakan sesuatu yang riskan mengingat tegasnya wasit di Inggris.

Slimani berpotensi sukses bersama Leicester. Segala kelebihan yang dimilikinya bisa dimaksimalkan oleh Ranieri. Akan tetapi, Slimani harus mengubah sikapnya dan mengendalikan emosi. Dia harus rela ditarik keluar apabila tidak tampil maksimal, apalagi Ranieri selalu mengedepankan kolektivitas tim yang menjadi kunci kesuksesan The Foxes musim lalu. Selain itu, Slimani wajib menghindari perdebatan yang tidak diperlukan dengan wasit-wasit Inggris yang dikenal tidak cukup tegas.