Jalur Maut Fase Gugur Euro 2016, Disyukuri Atau Disesali?

Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, dan Inggris berkelompok memperebutkan tempat di final Euro 2016 melalui jalur maut di fase gugur.

Alam raya sedang berkonspirasi. Tim-tim unggulan Euro 2016 berkumpul dalam satu kelompok yang sama untuk merintis jalan mencapai final. Di kelompok lain, terbuka peluang tim kejutan untuk tampil di Stade De France, 10 Juli kelak.

Betapa berartinya beberapa detik bagi Sergio Ramos. Kapten timnas Spanyol itu lengah dalam mengawasi pergerakan Nikola Kalinic. Spanyol tengah unggul 1-0 berkat gol cepat Alvaro Morata saat menghadapi Kroasia pada laga penentuan posisi Grup D di Bordeaux, Selasa (21/6) malam. Keunggulan itu buyar persis memasuki menit terakhir babak pertama. Umpan silang Ivan Perisic dari sayap kiri rupanya lolos disambar Kalinic di tiang dekat sehingga menjadikan gol balasan bagi Kroasia. Ramos dan David De Gea hanya bisa saling menyalahkan.

Peran Ramos dalam pertandingan ini belum selesai. Pada menit ke-70, Spanyol memperoleh hadiah penalti. David Silva disenggol Sime Vrsaljko di area terlarang dan wasit Bjorn Kuipers menghukum Kroasia dengan tendangan dua belas pas. Ramos maju sebagai eksekutor. Berbarengan dengan itu, kapten Kroasia Darijo Srna menerima masukan dari bangku pelatih tentang arah tendangan Ramos. Srna pun membisikkannya ke telinga Danijel Subasic. Manjur. Subasic berhasil menggagalkan eksekusi Ramos.

Kroasia akhirnya meraih kemenangan, tiga menit sebelum pertandingan selesai. Tendangan deras Perisic menyentuh ujung kaki Gerard Pique sehingga bola melesak ke arah tiang dekat. De Gea lagi-lagi tanpa daya mencegahnya. Rekor Spanyol tanpa kekalahan di putaran final Euro sejak 2004 pun pupus.

Kekalahan itu menyeret Spanyol ke laga melawan Italia di babak 16 besar. Ulangan final Euro 2012. Tak hanya itu, jalur berat menanti sang juara bertahan. Jika lolos dari hadangan Italia, Jerman sudah menanti. Di semi-final, Spanyol atau Jerman dapat berhadapan dengan Prancis atau Inggris. Jalur maut yang tak diinginkan tim mana pun di Euro 2016.

Mari melihat sisi lain dari jalur menuju final. Para tim kuda hitam saling mengisi tempat dan mereka boleh berharap setinggi mungkin tampil di Stade De France dalam hitungan dua pekan ke depan. Swiss sudah dipastikan bertemu dengan Polandia. Sementara, Wales dan Kroasia tampaknya akan menghadapi Irlandia Utara dan Slowakia.

Ivan Perisic

Ivan Perisic, aktor intelektual di balik tumbangnya sang juara bertahan.

Spot kosong masih akan diisi oleh tim peringkat kedua Grup E, yang diperebutkan oleh Belgia, Swedia, dan Republik Irlandia. Hitung-hitungan siapa yang muncul dari Grup F menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Apakah Portugal akan menyusul tim-tim besar lain dengan bergabung di jalur maut?

Peluang Portugal menjadi runner-up grup lebih kecil ketimbang menjadi juara atau bahkan finis di urutan ketiga. Jadi, peluang Portugal bersua dengan Inggris di babak 16 besar sangat kecil terjadi. Kecuali, dua syarat. Pertama, Portugal dan Islandia sama-sama meraih hasil imbang pada laga terakhir masing-masing melawan Hongaria dan Austria. Kedua, skor imbang laga Portugal versus Hongaria lebih besar daripada laga Islandia versus Austria.

Jika Portugal mengatasi Hongaria dengan skor besar, Cristiano Ronaldo dkk akan menjadi juara grup sehingga terhindar dari jalur maut. Di babak 16 besarSeleccao akan menghadapi runner-up Grup E.

Menariknya, jika Portugal gagal mengalahkan Hongaria dan menjadi peringkat ketiga grup, terbuka kemungkinan mereka bergabung di jalur maut dengan menghadapi Jerman.

Cristiano Ronaldo & Nani

Menanti gerak langkah Portugal. Ikut bergabung ke jalur maut?

Apakah situasi undian fase gugur yang timpang ini mengecewakan atau malah mengasyikkan? Tergantung sudut pandang Anda: Apakah ini gelas yang setengah penuh atau setengah kosong?

Pekan lalu, mantan presiden FIFA Sepp Blatter meluncurkan pernyataan mengejutkan. Pria gaek asal Swiss itu menuding UEFA kerap melakukan kecurangan dalam melakukan pengundian. Caranya, dengan mengatur temperatur bola undian sehingga hasil undian sesuai dengan ekspektasi UEFA.

"Kalau bola undian ditempatkan di dalam lemari pendingin sebelum undian, sentuhan kecil saja sudah dapat membedakan mana bola yang panas dan dingin," ungkap Blatter sembari menegaskan praktik ini tidak pernah dilakukan oleh FIFA. 

Tentunya Tuan Blatter tahu, di turnamen yang sesungguhnya, setiap tim peserta memiliki peluang yang sama besar untuk melangkah ke babak selanjutnya.

Bagan fase gugur Euro 2016

Tim-tim besar akan saling menyingirkan di bagan kanan. Seru!*

UEFA bungkam dan tidak pernah membalas pernyataan Blatter. Badan sepakbola negara-negara Eropa itu juga dingin-dingin saja ketika pelatih Jerman Joachim Low mengeluhkan mutu turnamen.

Menurut Low, kualitas Euro 2016 menurun akibat penambahan jumlah peserta menjadi 24 tim. Jumlah peserta putaran final Euro terus mengalami peningkatan secara bertahap. Sejak diterapkan kali pertama pada 1980, putaran final Euro diikuti delapan tim dan menjadi 16 tim pada 1996. Delapan peserta ditambah lagi untuk edisi kali ini seiring janji presiden UEFA saat masih menjabat, Michel Platini, untuk memeratakan kesempatan partisipasi dan finansial ke seluruh asosiasi anggota.

"Format 16 tim sudah ideal. Pertandingan seru sudah terjamin sejak hari pertama," keluh Low. "Kini situasinya berbeda dan sudah tidak mungkin lagi kembali ke sistem lama. Jadi kita harus menerimanya."

Negara-negara yang tidak diunggulkan, lanjut Low, mengandalkan kekuatan pertahanan untuk meraih hasil positif. Selain itu, tim masih dapat berpeluang lolos ke babak gugur meski tampil buruk di dua laga awal.

"Tim yang hanya mampu meraih satu poin dari dua pertandingan masih punya peluang melaju ke babak 16 besar," tambah Low. "Ini sangat tidak adil, tapi sudah terjadi. Kami harus menerimanya dan memanfaatkan waktu untuk bersiap menghadapi siapa pun lawan kami."

Thomas Muller & Mario Gomez

Jerman tetap tampil serius kala mengalahkan Irlandia Utara.

Jerman bisa saja menghindari jalur maut dengan melepas laga terakhir mereka melawan Irlandia Utara -- minimal bermain imbang. Namun, tim juara dunia itu tetap tampil serius. Sejumlah peluang didapat Mario Gotze ataupun Thomas Muller, tapi hanya Mario Gomez yang mampu menjebol gawang lawan. Kemenangan itu entah patut disyukuri atau disesali bagi pendukung Jerman. Sekali lagi, itu tergantung sudut pandang Anda.

Setidaknya, lihatlah dengan pandangan "gelas setengah penuh". Terjadi persaingan bebas di kelompok jalur non-unggulan. Polandia, Wales, Kroasia, atau bahkan Hongaria, akan berebut tampil di laga puncak. Prinsip pemerataan yang diinginkan Platini benar-benar akan dipraktikkan. 

Lagipula bukan Euro namanya jika tidak ada kejutan yang terjadi. Denmark dan Yunani sudah membuktikannya pada 1992 dan 2004. Apakah sebuah kebetulan jika siklus 12 tahunan itu bertepatan pada tahun ini? Jalur non-unggulan di fase gugur Euro kali ini benar-benar menarik dinanti dan mengasyikkan!

Karena itulah kita harus berterima kasih kepada Sergio Ramos.

*Bagan fase gugur sampai pertandingan Grup D selesai, Rabu (21/6) pagi WIB.