Joe Allen, Dibenci Dan Disayang Fans Liverpool

Ketika Rodgers dipecat Liverpool, banyak yang berpikir karier Joe Allen di Anfield tinggal menghitung hari. Tak disangka, gelandang Wales itu pelan-pelan menjawab ekspektasi Klopp.

Ketika Brendan Rodgers dipecat Liverpool, banyak yang berpikir karier Joe Allen di Anfield tinggal menghitung hari. Penampilannya bersama Rodgers di Swansea City boleh jadi mencengangkan, tetapi gelandang yang mendapat julukan ‘Xavi dari Wales’ itu gagal mendapatkan tempat utama di Liverpool. Beberapa fans bahkan sempat murka karena Allen tak mampu menjawab ekspektasi harga £15 juta yang disematkan padanya.

Hengkangnya Rodgers sebagai satu-satunya penjamin pun semakin memanaskan kemungkinan Allen untuk hengkang. Isu kepergian Allen semakin memanas seiring Jurgen Klopp mengambil alih kursi kepemimpinan. Gelandang mungil itu diyakini tidak mampu mengimbangi gaya bermain Klopp yang mengutamakan tenaga dan ketahanan di lini tengah. Nyaris bisa dipastikan Klopp akan lebih sering memainkan Lucas Leiva, Emre Can, dan Jordan Henderson dalam sepakbola gegenpressing.

Namun hingga hari-hari terakhir bursa transfer musim dingin, Allen masih bertahan di Liverpool. The Independent bahkan menguarkan kabar bahwa Liverpool menolak tawaran Swansea yang menginginkan kembali gelandang Wales tersebut. Anehnya, tidak banyak fans Liverpool yang mempertanyakan keputusan ini – bahkan tidak ada hujan hujatan dari fans seperti ketika Liverpool menambah durasi kontrak Simon Mignolet. Ada apa gerangan?

Allen gagal jawab ekspektasi di era Rodgers.

Allen memang tidak cocok dengan gaya bermain Klopp dilihat dari postur tubuh dan kemampuannya, tetapi ia menawarkan hal lain yang tak kalah impresif ketika turun ke lapangan. Ia memang tidak sehebat Can, Lucas, dan Hendo ketika melakukan pressing, tetapi pergerakannya menambah dimensi lain dalam permainan Liverpool. Allen mulai pandai menutup ruang yang ditinggalkan rekan-rekannya yang melakukan pressing.

Walau tidak sepadan dengan Ilkay Gundogan di Borussia Dortmund, Klopp sekarang punya seorang pemain yang bisa berperan sebagai gelandang box-to-box. Tuntutan keras dari Klopp – yang diduga sempat menuntutnya untuk menjadi Gundogan – sepertinya mulai berbuah. Allen mulai menambahkan kata ‘tekel’ dalam kamus permainannya. Ia tidak segan berlari menutup ruang, beradu badan, dan sesekali melakukan pressing. Dilihat dari menit per tekel, Allen (16 menit/tekel) bahkan hanya kalah dari Lucas (16,75) di Liverpool.

Hal inilah yang kiranya membuat fans Liverpool terperanjat. Allen yang dulu jadi bahan bully pelan-pelan mulai menjawab ekspektasi. Bukan hanya jambangnya yang menyamai Andrea Pirlo, umpan Allen – walau masih jauh dari sang legenda Italia –sedikit mengalami kemajuan. Peran Allen mulai diakui walau cukup transparan. Ia kini duduk di lini tengah untuk menutup ruang yang ditinggalkan rekannnya sambil menunggu kesempatan untuk memukul balik.

Teorinya, Allen sangat penting dalam permainan Klopp. Ia bisa merebut bola dan membawa bola untuk langsung diberikan pada pemain yang bergerak cepat untuk menyerang. Entah itu Alberto Moreno dan Nathaniel Clyne, atau Roberto Firmino yang berperan sebagai false-9, Allen punya kecenderungan untuk memanfaatkan ruang yang tercipta.

Selebrasi Allen usai tentukan kemenangan Liverpool.

Allen memang masih jauh dari ekspektasi Liverpool, tetapi tidak lagi terdengar sorak-sorai yang menjatuhkan sang gelandang Wales. Fans sepertinya mulai sabar ketika menyaksikan Allen berkembang di bawah asuhan Klopp. Lagipula, dua gol beruntun yang ia cetak ke gawang Arsenal dan Exeter menambah alasan bagi para fans untuk bersabar dan mendukung Allen.

Dan seandainya The Reds memenangkan Piala Liga, 'Xavi dari Wales' mungkin akan dikenang berkat eksekusi penalti manis ke gawang Stoke pagi tadi.