Joe Gomez, Remaja Penakluk Liga Primer Inggris

Usianya baru 18 tahun, tapi Joe Gomez sudah menjadi langganan di skuat Liverpool dan mengungguli bek-bek kiri papan atas di Liga Primer.

Apakah ia benar-benar bocah berusia 18 tahun? Apakah ia benar-benar bek tengah yang dimainkan sebagai bek kiri? Apakah ia benar-benar pemuda yang musim lalu bermain di klub kasta bawah Divisi Championship?

Semua orang yang menyaksikan penampilan Joe Gomez dalam tiga pekan terakhir tentu mulai mengajukan pertanyaan semacam itu. Betapa tidak, ia tampil begitu meyakinkan bersama Liverpool, bahkan tidak gemetar dalam laga besar melawan Arsenal di Emirates Stadium, Selasa (25/8) dini hari WIB lalu.

Performa defensif yang ia sajikan benar-benar sesuai kebutuhan Liverpool. Walau mungkin tidak seagresif Alberto Moreno, ia sesekali melakukan transisi menyerang yang menyulitkan lawan. Satu assist pun berhasil ia persembahkan untuk Philippe Coutinho ketika menghadapi Stoke City di pekan pertama.

Namun apa yang menjadi senjata utama Gomez, lebih dari kemampuan bertahannya, ialah ketenangan dan kedewasaan di lapangan hijau. Usianya baru 18 tahun, tapi sikapnya di lapangan seolah ingin menyampaikan kalau ia adalah bek veteran di Liga Primer Inggris – hal inilah yang membuat Brendan Rodgers tak ingin mencoretnya dari daftar skuat.

"Saya merasa nyaman memainkannya. Dengan sangat cepat, ia menunjukkan kalau ia bisa menjadi salah satu anggota penting dalam skuat kami,” ungkap Rodgers beberapa pekan lalu."Ia masih berusia 18 tahun, tapi apa yang membuat saya terkesan saat bertemu dengannya adalah kedewasaan.”

Adapun kedewasaan yang dimaksud oleh Rodgers bukan sekadar barang abstrak yang tak kasat mata. Kelebihan Gomez itu memang tidak terlihat secara langsung jika kita bertemu dengannya secara langsung, tetapi Opta memformulasikan kedewasaan tersebut dalam statistik yang definitif.

Dalam penampilan di tiga pekan terakhir, catatan statistik Gomez menunjukkan bahwa ia lebih unggul dari empat bek kiri papan atas di Liga Primer. Joe Gomez ternyata mengungguli Cesar Azpilicueta (Chelsea), Aleksandar Kolarov (Manchester City), Luke Shaw (Manchester United), dan Nacho Monreal (Arsenal) di semua aspek pertahanan.

Gomez mencatatkan tujuh tekel akurat dengan akurasi 58% per laga. Dibandingan dengan keempat bek lainnya, Gomez unggul mutlak. Pesaing terdekatnya adalah Luke Shaw yang mencatatkan 6 tekel, tetapi hanya dengan akurasi 46%. Sementara itu, Cesar Azpilicueta melakukan 5 tekel dengan rasio kesuksesan yang lebih tinggi dari Shaw, yakni 56 %. Duo bek kiri sisanya, yakni Nacho Monreal dan Aleksandar Kolarov, sama-sama mencatatkan akurasi 25%.

Mantan bek muda Charlton Athletic ini juga meraih rekor intersepsi tertinggi. Dalam tiga laga terkini, Gomez melakukan sembilan kali intersepsi, sementara Azpilicueta hanya melakukan delapan kali. Kolarov hanya mencatatkan 4 kali intersepsi, sedangkan Monreal dan Shaw cuma mencatatkan setengahnya. Bek berkebangsaan Inggris ini pun memiliki catatan tertinggi dalam blok (3) dan sapuan (17) dibandingan keempat bek kiri lainnya.

Dari statistik tersebut, tahulah kita betapa vitalnya peran Gomez dalam rekor clean sheet Liverpool di tiga pertandingan terkini. Berkombinasi dengan duet Mamadou Sakho – Dejan Lovren yang makin padu, Gomez mengawal sektor kiri dengan disiplin tanpa melupakan peran Nathaniel Clyne di sektor kanan.

Pasca laga kontra Arsenal, John Arne Riise mengungkapkan pendapat menarik tentang Gomez. "Saya sangat, sangat terkesan pada Joe Gomez," ungkap Riise pada Sky Sports News. "Saya benar-benar terkesan. Saya harus mengakui kalau saya tak banyak tahu tentangnya sebelum ia datang ke klub ini. Namun ia telah menjadi starter dalam semua laga Liverpool musim ini.”

Pernyataan tersebut kiranya sudah cukup untuk merangkum performa Gomez musim ini. Ia sempat diragukan karena datang dari klub kasta bawah bernama Charlton Athletic, tak dikenal masyarakat luas, dan tanpa pengalaman di Liga Primer. Namun sang bek berhasil mengunci posisi inti di Anfield dan mengungguli bek-bek kiri papan atas Inggris yang sudah bermain lama di posisi tersebut.

Mungkin hanya tinggal soal waktu sebelum Roy Hodgson memanggilnya ke timnas Inggris – dan menjadikannya salah satu bek tertangguh di Eropa.

Topics