Joel Matip, Hadirkan Distorsi Dalam Heavy Metal Liverpool

Heavy metal Liverpool saat ini masih terdengar seperti rock manja, tetapi Klopp bakal menghadirkan distorsi menyusul kedatangan Matip ke Anfield.

Jurgen Klopp menganalogikan sepakbola gegenpressing dengan musik heavy metal bukanlah tanpa alasan. Ketika masih di Borussia Dortmund, Klopp menggubah permainan atraktif yang melibatkan pressing ketat, transisi kilat, dan gol cermat yang siap meluluhlantakkan seantero stadion. Ibarat musik, Dortmund berhasil menghadirkan distorsi tinggi, dentuman keras, dan solo gitar yang kejam. Hasilnya pun sama, yakni segenap penjuru luluh lantak.

Namun di Liverpool hanya dentuman keras yang sering terlihat. Jordan Henderson dkk memang memainkan pressing ketat, tetapi solo gitar dan distorsi tak pernah tampak. Ketika The Reds memenangkan bola, mereka malah bingung harus melakukan apa seperti yang tampak pada kekalahan dari Leicester City. Beruntung, Philippe Coutinho dan Daniel Sturridge hadir kembali untuk memberikan improvisasi kejam dalam kemenangan 6-0 atas Aston Villa.

Sekilas terlihat sempurna, tetapi apa yang digubah Klopp belum terlihat sebagai heavy metal. Tidak ada agresi di lini belakang, malah terlalu banyak ruang bergerak bagi lini depan Aston Villa. Bek tengah Liverpool minim inovasi untuk melakukan intersepsi sehingga lawan punya waktu untuk membangun serangan. Perkara tidak kebobolan akhir pekan lalu pun dianggap tidak lepas dari keberuntungan dan faktor remuknya mental penggawa Villa.

Sepakbola yang seperti itu belum bisa disebut heavy metal, terlalu banyak ruang aman, tanpa distorsi, hanya terdengar seperti rock manja. Tetapi Senin (15/2) lalu, Klopp mengumumkan transfer keduanya sebagai manajer Liverpool, yakni kepingan distorsi utama yang siap melengkapi heavy metal-nya di Anfield, Joel Matip.

Siapakah Joel Matip?

Lahir di Bochum dari campuran darah Jerman dengan Kamerun, Matip mengawali petualangannya bersama SC Weitmar 45, lalu bergabung dengan Vfl Bochum di tahun 1997 saat masih berusia enam tahun. Saat itu, Bochum merupakan klub besar di Bundesliga dan Matip pelan-pelan tumbuh lewat akademi mereka. Namun di tengah pertumbuhan itu, Schalke “menculik” Matip dan memboyongnya ke akademi mereka.

Schalke mematangkan bakat alami Matip di akademi mereka dan mengirim sang bek muda ke Gesamtschule Berger Feld, sekolah sepakbola yang juga mendidik Mesut Ozil, Manuel Neuer, Julian Draxler, dan Benedikt Howedes. Hasil perkembangan Matip memang tidak langsung terlihat, tetapi di usia 18 tahun, tepatnya di medio 2009, ia mencatatkan debut bagi Schalke ketika menghadapi Bayern Munich yang masih dipimpin Louis van Gaal.

Debut Matip berjalan sesuai harapan walau ia dimainkan sebagai gelandang bertahan, bukan bek yang merupakan posisi aslinya. Schalke sempat kebobolan lebih dulu oleh sepakan Daniel van Buyten di menit 30, tetapi 12 menit kemudian, Matip menyambut umpan Lukas Schmitz dengan tandukannya dan menyamakan kedudukan. Seusai pertandingan, Matip yang tampil gemilang bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik versi Kicker.

Bakat alaminya mengundang banyak perhatian dan Matip jadi rebutan antara Jerman dan Kamerun. Matthias Sammer – mantan direktur teknik Schalke yang kini dikontrak Bayern – sempat membujuknya bergabung dengan timnas Jerman, tetapi Matip menolaknya. Di usia 18 tahun, Matip bersikeras untuk membela negara kelahiran ayahnya dan mematenkan kewarganegaraan Kamerun. Ia melakoni debut bersama Kamerun tak lama setelahnya.

Kegemilangan Matip sendiri tak hanya bertahan satu musim. Dari musim ke musim, ia mematenkan diri sebagai penggawa utama Schalke dan akhirnya dipercaya untuk menjadi jantung pertahanan tim. Sejak 2011/12, Matip jadi pilihan utama sebagai bek tengah untuk mendampingi Benedikt Howedes di depan penjaga gawang.

Matip, Bek Penuh Distorsi

Menyebut Matip sebagai kepingan puzzle untuk melengkapi heavy metal Klopp tentu tidak berlebihan. Bek Kamerun tersebut secara konsisten menunjukkan gairahnya di lapangan dan bagaimana ia tumbuh menjadi salah satu bek paling disegani di Bundesliga. Tak heran, Matip sering ditandingkan dengan Mats Hummels di awal karier bersama Dortmund.

Tinggi badan Matip terbilang cukup tinggi untuk seorang bek, yakni 193 cm – unggul 2 cm dari Hummels. Sudah pasti Matip memiliki keunggulan dalam duel udara. Ia mencatatkan 73 persen kemenangan dalam duel udara. Di Bundesliga, persentase ini hanya kalah dari bek Hannover Guedes Filho (75%) dan Hummels (75%). Hebatnya lagi, dari 75 persen itu, Matip menghasilkan tiga gol lewat dalam 21 penampilan di Bundesliga.

Walau bertubuh jangkung, Matip memiliki kecepatan yang siap diadu dengan penyerang pada umumnya. Inilah yang menjadi distorsi dalam permainan Matip. Kecepatan jarak pendek dan panjang membuatnya mampu memotong operan lawan sebelum mencapai tujuan. Ia tidak suka menunggu bola dan memberi ruang untuk lawan, Matip lebih sering menunjukkan agresi dan merebut bola sebelum lawan selesai berpikir. Ini terbukti dalam rerata 3,05 intersepsi yang dilakukan Matip per 90 menit.

Dibandingkan dengan bek-bek papan atas Liga Primer Inggris, catatan Matip hanya kalah dari bek Arsenal Laurent Koscielny (3,70), bek Leicester City Christian Fuchs (3,15), dan bek Manchester City Nicolas Otamandi (3,15).  Seandainya Matip masuk Liverpool, sudah pasti ia bakal jadi unggulan dalam memotong bola. Hanya Martin Skrtel (2,24) dan Joe Gomez (2,44) yang mencatatkan setidaknya dua intersepsi per pertandingan.

Distorsi yang ia tawarkan masih belum berhenti sampai di situ. Setelah melakukan intersepsi, Matip ikut serta dalam konstruksi serangan Schalke. Akurasi umpannya cukup tinggi untuk ukuran bek tengah, yakni 83 persen, dilengkapi dengan visi yang menghasilkan 10 peluang dan satu assist. Klopp bakal mendapatkan satu lagi ball-playing defender untuk melengkapi cetak biru permainannya, yang dianugerahi ketangguhan fisik untuk meredam bola-bola udara Liga Primer. Satu lagi, Matip tak pernah absen bermain bagi Schalke sejak Bundesliga musim 2015/16 bergulir.

Apakah Matip Cocok dengan Liverpool?

Kedatangan Matip yang pantai memutus alur serangan lawan sudah pasti menjadi keuntungan bagi Liverpool. Menurut Liverpool Echo, Matip diproyeksikan untuk jadi pelapis bek tengah Liverpool menggantikan Kolo Toure yang kontraknya takkan diperpanjang. Namun melihat minimnya distorsi dalam heavy metal Liverpool, sepertinya Klopp bakal memberikan peran yang lebih penting kalau Matip sudah mampu beradaptasi dengan sepakbola Inggris.

Dengan kemampuan duel udara yang mumpuni, Matip diharapkan mampu menyelesaikan masalah bola mati yang dialami Liverpool. Duet dengan Mamadou Sakho paling mungkin terjadi, tetapi minimnya kepemimpinan di lini belakang Liverpool sepertinya menjadikan Martin Skrtel sebagai opsi utama, sedangkan Sakho harus bersaing dengan Matip. Skenario kejutan duet Joe Gomez dengan Matip pun mungkin, mengingat Gomez tampil apik dalam lima pertandingan yang di Liga Primer sebelum cedera.

Masalahnya adalah kadang-kadang agresi Matip terlalu berlebihan. Ia terlalu bernafsu untuk menyerang, membuat pertahanan tim sering berlubang, dan jadi sasaran empuk bagi serangan balik kilat seperti miliki Leicester. Kematangan bermain bakal jadi PR yang harus diselesaikan Klopp untuk memaksimalkan potensi Matip.

Kepingan heavy metal Klopp semakin lengkap dengan distorsi yang ditawarkan Matip di Anfield. Tinggal menunggu bagaimana sang bek tengah beradaptasi, serta menunggu bagaimana Klopp mengantisipasi bencana Simon Mignolet.