Jose Mourinho Figur Tepat Gantikan Louis Van Gaal?

Kengototan Mourinho menggunakan taktik kuno berpotensi membuat publik Old Trafford mudah berpaling padanya.

Louis van Gaal ditendang, Jose Mourinho segera datang. Manchester United untuk kali ketiga kali dalam empat tahun terakhir bakal mengalami pergolakan di puncak piramida tertingginya.

Selama periode pasca-Sir Alex Ferguson, fans Setan Merah dibuat tertipu oleh kehadiran nabi palsu berwujud David Moyes dan Van Gaal. Alih-alih mengembalikan United ke era keemasan, Moyes dan Van Gaal justru menggiring klub ke jurang kecemasan.

Van Gaal setidaknya memiliki nasib yang lebih baik dari Moyes. Meneer gaek Belanda itu mampu bertahan dua tahun di kursi panas Old Trafford dan mempersembahkan satu trofi Piala FA. Namun, seperti yang sudah diperkirakan, Van Gaal tetap diberhentikan pada Senin (23/5) kemarin, hanya berselang dua hari selepas selebrasi canggungnya di Wembley.

Alasan pemecatan Van Gaal tergolong masuk akal. Dana bombastis senilai lebih dari £250 juta selama dua musim terakhir sejatinya lebih dari cukup untuk menciptakan skuat fantasits. Sayang, hasilnya layak dibilang payah. United kembali gagal ke Liga Champions, mencatatkan produktivitas gol liga terendah dalam seperempat abad terakhir, terpilihnya seorang kiper sebagai pemain terbaik klub dalam tiga musim beruntun, dan yang paling bikin fans meradang adalah permainan sepakbola membosankan. Harkat dan martabat United sebagai klub spesial kini tinggal kenangan.

Van Gaal boleh saja menghadirkan fundamen bagus bagi manajer berikutnya dengan memunculkan para pemuda bermasa depan cerah seperti Marcus Rashford, Jesse Lingard, Anthony Martial. Tapi, dosa yang terlampau menumpuk telah mengantar Van Gaal pada sebuah kesimpulan bahwa United masih mencari-cari sosok The Chosen One.

Dalam beberapa hari ke depan, Mourinho diprediksi akan langsung ditunjuk sebagai suksesor Van Gaal. Memiliki CV yang mentereng, masih menyandang status sebagai salah satu manajer terbaik di dunia, dan sedang menganggur, Mourinho adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Tetapi, apakah Mou adalah juruselamat United yang sebenar-benarnya?

"United membutuhkan seseorang yang bisa berhadap-hadapan dengan Pep Guardiola di Manchester City dan di luar sana tidak ada yang lebih baik selain Jose," ungkap pundit Sky Sports Jamie Redknapp. Sementara eks bek United Phil Neville menyambut wacana ini dengan nada pesimistis, “Saya tidak yakin dia bisa bertahan lama di United – dua atau tiga tahun mungkin menjadi daya tahannya di sebuah klub.”

Namun, mengharapkan United di bawah Mourinho akan kembali atraktif dan penuh energi dalam menyerang adalah kekeliruan besar. Sebab, Mourinho adalah sang pragmatisme itu sendiri. “Sepakbola adalah permainan 11 lawan 11, dengan satu pihak berusaha mencetak satu gol lebih banyak dengan yang lain,” ucap Mourinho dengan bangganya saat selebrasi Chelsea menjuarai Liga Primer Inggris 2014/15.

Mourinho ternyata terlampau angkuh. Di musim berikutnya, Chelsea kolaps. Kehancuran Chelsea tersebut ibarat merusak rantai makanan Liga Primer. Siapa sangka, Si Rubah Leicester City sekarang ini adalah sang pemuncak rantai makanan. Tottenham Hotspur dan West Ham United juga mulai menyodok papan atas. Sementara tim-tim raksasa tradisional seperti United, City, Arsenal, dan Liverpool tercecer tak menentu.

Chelsea bahkan terjerembab ke peringkat sepuluh, itu pun setelah mereka melakukan skema penyelamatan, dengan memecat Mourinho dan menunjuk Guus Hiddink. Siapa pun bingung menjelaskan kejatuhan spektakuler sang juara bertahan. Entah karena sindrom musim ketiga Mourinho, transfer musim panas yang buruk, atau “hukum karma” akibat mempermalukan dokter tim Eva Carneiro –  semuanya memiliki penjelasannya masing-masing.

Meski demikian, faktor-faktor di atas tidak segamblang ketimbang satu faktor berikut ini: bahwa taktik Mourinho terlampau usang. Terhitung sejak menangani Real Madrid pada 2010, Mourinho tak pernah bisa lepas dari formasi 4-2-3-1.

Obsesi Mourinho untuk selalu terpaku pada formasi tersebut pada akhirnya menjadi bumerang yang membuatnya terdepak dari Stamford Bridge untuk kedua kali. Sekalipun Cesc Fabregas leluasa naik turun di lini tengah, kendati Eden Hazard dan Willian diizinkan bertukar tempat di kedua sayap, pada dasarnya posisi setiap pemain Chelsea tetap kaku. Para pemain seperti sulit bergerak bebas karena sudah terkunci pada posisinya. The Blues besutan Mou bukan hanya pragmatis, tetapi juga mudah ditebak. Dari sini kehancuran Chelsea bermula.

Empat bek dikover oleh dua gelandang bertahan dipadu dengan tiga gelandang serang plus striker tunggal tidak bisa dibantah adalah taktik revolusioner sejak pergantian milenium. Banyak tim seperti bersalah jika tidak mengadaptasi taktik 4-2-3-1 yang dianggap seimbang dalam transisi bertahan-menyerang itu. Kini, perubahan mulai terasa. Banyak tim top Eropa sudah meninggalkan taktik dobel pivot ini.

Tidak satu pun dari Barcelona, Bayern Munich, Paris Saint-Germain, Juventus, Atletico Madrid memakai 4-2-3-1 sebagai basis formasi. Mereka memang menggunakan beragam formasi lain seperti 4-4-2, 3-4-3, 4-3-3, dan lainnya, namun yang membedakan adalah fleksibilitas taktik. Dalam hal ini, Pep Guardiola, yang musim depan membesut “tetangga berisik United”, adalah jagonya.

Di Bayern, Guardiola menyajikan skenario bebas. Mereka menyerang dari segala sisi, tergantung dari letak bola dan lawan. Tak heran, formasi standar 4-3-3 di tengah lapangan tiba-tiba 10 detik kemudian berubah menjadi full-attack 2-3-5. “Saya tidak tahu berapa jumlah sistem yang kami miliki. Permainan kami sangat fleksibel dalam situasi apapun. Formasi bagi kami hanyalah bagaimana Anda menuliskannya,” terang Philipp Lahm mendeskripsikan betapa lenturnya taktik Guardiola.

Taktik ini memang belum berhasil membawa Guardiola menaklukkan Eropa bersama Bayern, tetapi setidaknya membuat citra The Bavarians sebagai klub yang dihormati tetap terjaga apik. Ahli siasat dari Italia, Massimiliano Allegri, juga layak dijadikan contoh. Allenatore Juventus ini gemar melakukan pergantian taktik di tengah laga, misalnya dari 4-3-1-2 ke 3-5-2, 4-4-2, dan seterusnya.

Bahkan Ferguson bisa awet di United karena ia tak sungkan mengubah taktik di sepanjang kariernya. Usai membawa United menggondol trofi Liga Champions 1999 dengan 4-4-2 klasik, Fergie lantas mengubahnya menjadi 4-4-1-1. Ia kemudian kembali ke panggung tertinggi Eropa 2008 dengan 4-3-3, sebelum menyudahi cerita legendarisnya dengan menjuarai Liga Primer 2013 lewat 4-4-2 berlian.

Fleksibiltas Guardiola, Allegri, dan Ferguson seharusnya bisa dijadikan pelajaran jika Mourinho ingin mengembalikan kejayaan United. Interpretasi 4-2-3-1 ala Mourinho sudah dianggap ketinggalan zaman. Tidak hanya terbukti dengan kegagalan Chelsea di musim ini, tetapi juga dengan rentetan trofinya yang belakangan seret. Enam tahun terakhir ia hanya meraih lima trofi, bandingkan dengan 17 trofi yang diraihnya pada 2004-2010 ketika ia tidak terpaku pada satu formasi baku.

Karena musim 2015/16 telah mencoreng CV Mourinho, maka tak perlu kaget jika musim 2016/17 Old Trafford kembali riuh dengan raungan “Attack! Attack! Attack!” sembari para penonton di televisi terkantuk-kantuk menyaksikan Wayne Rooney dkk. Itulah ketakutan terbesar dari kehadiran Mou di United. Belum lagi jika membicarakan Mourinho yang terkenal tidak ramah dengan pemain muda. Bisa-bisa, Mourinho akan menghancurkan fondasi yang telah dibangun Van Gaal. Memulai dari nol lagi.

Segenap United raya sedang harap-harap cemas menanti The Special One. Mourinho atau tidak, satu hal yang United pinta, agar Old Trafford tidak mengalami déjà vu Van Gaal di musim depan.