Juventus Dan Penampilannya Di Final Eropa

Jelang melakoni duel final kedelapan di Eropa akhir pekan ini, Goal Indonesia mencoba membahas penampilan Juventus di tujuh final terdahulu.

Usai memastikan raihan gelar ganda di pentas domestik, Juventus masih menyimpan ambisi lain dengan merengkuh torehan treble perdana mereka dengan menghadapi Barcelona di partai puncak Liga Champions musim ini, Minggu (7/6) dini hari WIB.

Laga tersebut sekaligus menandai pencapaian pertama pasukan Bianconeri di final turnamen antarklub tertinggi Eropa setelah hal serupa mereka bukukan 12 tahun silam, yang berujung pada kekalahan dari AC Milan melalui adu penalti.

Jelang final yang berlangsung di Berlin akhir pekan ini, Goal Indonesia mencoba membahas penampilan skuat besutan Massimiliano Allegri itu di tujuh final pentas Eropa terdahulu!
 

1972/73: Ajax 1-0 Juventus

 
Inilah untuk kali pertama bagi Juventus untuk merasakan atmosfer babak final Liga Champions, di mana kala itu mereka menjajal ketangguhan Ajax Amsterdam yang berstatus sebagai juara bertahan dan dalam misi meraih gelar kedua.

Dalam laga yang berlangsung di Red Star Stadium Belgrade di Serbia tersebut, Ajax langsung membuka keunggulan cepat di menit kelima melalui upaya Johnny Rep yang mampu membobol gawang Juventus yang dikawal Dino Zoff.

Kendati melakukan upaya keras untuk mengubah kedudukan, skuat Bianconeri tetap mendapat perlawanan sengit dari Johan Cruijff dan kolega. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 1-0 tetap bertahan dan Juventus harus puas menjadi runner-up.
 

1982/83: Hamburg 1-0 Juventus

 
Sepuluh tahun berselang, Juventus kembali mampu menembus partai puncak. Kali ini mereka mengusung ambisi yang sama yakni agar dapat meraih gelar juara perdana mereka di pentas terakbar Eropa tersebut saat ditantang wakil Jerman, Hamburger SV.

Namun lagi-lagi raksasa Italia itu harus kecolongan lewat gol cepat lawan lewat aksi Felix Magath. Kontan hal tersebut membuat Juventus terkejut dan berusaha membalas melalui sejumlah serangan yang dikomandoi Michel Platini dan Zbigniew Boniek di lini tengah.

Sayangnya, upaya pasukan Giovanni Trapattoni tak membuahkan hasil dan harus kembali merelakan trofi jatuh ke pangkuan lawan, di mana kala itu Hamburg berpesta di hadapan 73,500 penonton yang memadati Olympic Stadium Athena, Yunani.
 

1984/85: Juventus 1-0 Liverpool

Penantian Juventus terhadap gelar perdana Liga Champions mereka akhirnya terbayar di musim ini dengan mengalahkan Liverpool. Namun perjuangan mereka harus dibayar mahal dengan adanya tragedi Heysel Stadium di Belgia, di mana tercatat 39 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka.

Laga pun tetap digelar di tengah kesedihan yang melanda, meski ada imbauan dari sejumlah pihak untuk menangguhkan duel ini. Michel Platini menjadi pahlawan kemenangan Juventus berkat eksekusi penaltinya yang sukses membobol gawang Bruce Grobbelaar di babak kedua yang merupakan gol semata wayang yang tercipta di laga tersebut.

Giovanni Trapattoni akhirnya berhasil membayar kegagalan dua musim sebelumnya dengan persembahan trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah Juventus.
 

1995/96: Juventus 1-1 Ajax (Pen. 4-2)

Musim ini, Juventus kembali dipertemukan dengan Ajax di partai pamungkas. Tak ingin mengulangi kegagalan dalam pertemuan sebelumnya di tahapan yang sama, pasukan La Vecchia Signora yang bermain di negeri sendiri memendam ambisi untuk dapat menaklukan raksasa Belanda tersebut.

Di bawah arahan Marcello Lippi, Juventus langsung tampil menggebrak dalam duel yang berlangsung di Olimpico Stadium Roma. Baru 12 menit laga berjalan, Fabrizio Ravanelli membuka keunggulan mereka. Namun kelengahan membuat Ajax menyamakan skor lewat aksi Jari Litmanen jelang turun minum.

Kedudukan imbang terus bertahan hingga waktu normal usai, pun demikian dengan babak perpanjangan waktu hingga akhirnya penentuan harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Empat eksekutor penalti, Ciro Ferrara, Gianluca Pessotto, Michele Padovano dan Vladimir Jugovic sukses menjalankan tugas dan hanya mampu dibalas dua kali oleh Ajax, membuat Juventus menyegel trofi kedua mereka.
 

1996/97: Borussia Dortmund 3-1 Juventus

Semusim setelah merengkuh gelar kedua, Juventus kembali menapaki jejak menuju partai final. Kali ini wakil Jerman, Borussia Dortmund menjadi penantang mereka. Bianconeri melangkah ke tahapan akhir dengan gagah.

Tak ayal, hal tersebut membuat Juventus menyandang status unggulan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dortmund dengan permainan efektif mereka mampu menyarangkan tiga gol melalui sepasang aksi Karl-Heinz Riedle serta Lars Ricken yang hanya mampu dibalas Alessandro Del Piero.

Kedudukan 3-1 bertahan hingga usai, Juventus pun gagal untuk memenuhi ambisi mereka untuk mempertahankan titel juara dan harus merelakan trofi digondol Dortmund.
 

1997/98: Real Madrid 1-0 Juventus

Untuk kali ketiga secara beruntun Juventus mampu menembus babak final, di mana dua hasil bertolak belakang mereka bukukan. Keberadaan skuat penuh bintang Real Madrid menjadi lawan yang harus dihadapi di Amsterdam Arena.

Duel ketat pun terjadi antara kedua kesebelasan, Bianconeri yang kala itu mengandalkan kreativitas Zinedine Zidane mendapat lawan sepadan dari Clarence Seedorf di kubu Madrid. Kebuntuan dipecahkan Madrid lewat gol tunggal Pedrag Mijatovic di pertengahan babak kedua yang bertahan hingga usai.

Impian Juventus untuk menyabet trofi tertinggi pun kembali pupus dan kekalahan ini memberikan catatan manis bagi Madrid yang mengakhiri dahaga mereka di pentas Eropa sejak 32 tahun sebelum momentum ini.
 

2002/03: AC Milan 0-0 Juventus (Pen. 3-2)

Lima musim setelah takluk dari Real Madrid, final Liga Champions musim 2002/03 sukses dicapai Juventus. Final edisi ke-48 tersebut ditandai dengan duel sesama tim asal Italia, dengan AC Milan yang mengusung target titel keenam menjadi lawan.

Seperti yang sudah diprediksi sejak awal, pertandingan yang berbalut rivalitas domestik tersebut berlangsung sengit. Milan yang mengandalkan duet Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi mendapat perlawanan dari kombinasi Alessandro Del Piero dan David Trezeguet. Namun dalam duel 120x2 menit tidak ada satupun gol yang tercipta.

Laga pun dilanjutkan dengan adu penalti, dari lima eksekutor hanya Alessandro Birindelli dan Del Piero yang sukses menunaikan tugas dengan baik. Sementara Shevchenko yang menjadi penendang terakhir bagi Milan, gagal dibendung Gianluigi Buffon. Hasil akhir 3-2 bagi Milan, membuat Juventus gagal memenuhi target mereka untuk merengkuh gelar ketiga.
 

Tahukah Anda?

 

  • Juventus bersama dengan Benfica dan Bayern Munich sama-sama pernah kalah dalam lima partai final Eropa, namun belum ada yang mencatatkan kekalahan keenam.
     
  • Juventus juga pernah bermain di empat final Piala UEFA, menjuarai tiga kali (1977, 1990, 1993) dan kalah sekali (1995).
  • Empat penggawa Juventus pernah memenangkan trofi Liga Champions bersama klub lama mereka, Andrea Pirlo (AC Milan 2003, 2007); Patrice Evra and Carlos Tevez (Manchester United 2008); Alvaro Morata (Real Madrid 2014).
  • Morata berpeluang menjadi pemain keempat yang tampil di dua final secara beruntun setelah Marcel Desailly (Olympique de Marseille 1993, AC Milan 1994), Paulo Sousa (Juventus 1996, Borussia Dortmund 1997) and Samuel Eto'o (Barcelona 2009, Inter 2010).
  • Evra pernah mengalami kekalahan dalam partai final kontra Barcelona saat memperkuat Manchester United pada 2009 (bersama Tevez) dan 2011.

  • Gianluigi Buffon menjadi satu-satunya pemain Juventus tersisa yang pernah tampil di final 2002/03, sedangkan Andrea Pirlo saat itu membela tim lawan, Milan.