Juventus Kalah Lagi, Massimiliano Allegri Harus Tinggalkan 3-5-2

Topics

Skema 3-5-2 tidak berjalan baik, sebagaimana Juventus selalu kalah dalam dua giornata perdana Serie A Italia musim 2015/16.

Peraih scudetto empat musim terakhir, Juventus, secara mengenaskan harus terkapar di Olimpico Roma, akibat kekalahan 2-1 dari rivalnya, AS Roma, Senin (31/8) dini hari WIB. 

Kekalahan itu jadi yang kedua dalam sepasang giornata yang sudah digelar Serie A Italia musim 2015/16. Hasil tersebut sekaligus jadi torehan terburuk Juve sepanjang sejarah. Mereka tak pernah menjalani start seburuk ini sebelumnya.

Jelas ada yang salah dengan Juve musim ini, karena mereka tak hanya kalah di papan skor tapi juga secara permainan. Kerinduan akan pilar-pilar musim lalu macam Carlos Tevez, Andrea Pirlo, dan Arturo Vidal, tentu tak lagi solutif untuk dibahas. Mari kita meniliknya dari situasi dan kondisi terkini I Bianconeri.

Sorotan utama terletak pada sang pelatih, Massimiliano Allegri, yang mengedepankan skema 3-5-2 dalam sepasang kekalahan tersebut. Formasi warisan pelatih Juve terdahulu, Antonio Conte, ini tampak sudah tak lagi sesuai dengan Si Nyonya Tua musim ini.

Padoin terlalu medioker sebagai jangkar

Seperti sudah dibahas dalam beberapa editorial sebelumnya, formasi 3-5-2 ala Juve menjadikan pertahanan sebagai fokus utama. Untuk mewujudkannya dengan sempurna, dibutuhkan sosok gelandang jangkar macam Pirlo yang bisa menahan tempo tetap lambat dan mengubahnya seketika menjadi cepat.

Peran itu musim lalu beberapa kali dilakoni oleh Claudio Marchisio dengan cukup baik, meski tak seistimewa Pirlo. Masalahnya adalah Il Principino kini tengah cedera dan Juve tak memiliki cadangan di posisi itu. karenanya dalam dua laga Serie A lalu, Allegri sungguh mengambil resiko besar dengan memasang formasi 3-5-2, di mana Simone Padoin yang mengisi peran gelandang.

Padahal musim lalu juru taktik berusia 47 tahun itu memiliki rasa sendiri lewat skema 4-3-1-2, yang jauh lebih tajam di depan dan peran gelandang jangkar tak sebegitu krusialnya. Namun dengan tak adanya sosok gelandang serang yang musim lalu ditempati Vidal, membuat Allegri terlalu takut untuk menerapkannya musim ini.

Namun fleksibilitas penghuni lini tengah Juve, sejatinya jauh lebih bisa menutup kekurangan di formasi 4-3-1-2 ketimbang 3-5-2. Pos gelandang serang bisa diberikan pada Roberto Pereyra yang sama sekali tak mengecewakan musim lalu. Paul Pogba bahkan sempat menyatakan sanggup dan bersedia ditempatkan di posisi tersebut.Sementara Padoin yang sejatinya merupakan gelandang sayap kanan, memang pemain serba bisa. Tapi kelas permainannya jelas bukan untuk mengisi peran krusial macam itu.

Tengok saja pergerakan monotonnya di sepanjang laga lewat heatmap Opta di atas, yang sekaligus menunjukkan keterbatasan visinya. Leonardo Bonucci sang sweeper, bahkan terlihat beberapa kali mencak-mencak karena Padoin tak membuka ruang mengumpan.

Statistik Padoin pun begitu buruk. Gelandang jangkar macam apa yang hanya mampu melakukan rata-rata 40 sentuhan dan juga operan dalam dua laga?

Hasilnya skema serangan La Vecchia Signora jadi begitu membosankan lewat sisi lapangan, lantaran tak ada penetrasi di tengah. Lawan jadi amat mudah menebaknya. Allegri jelas haram memasang sosok 31 tahun itu sebagai jangkar di laga selanjutnya.

Jika sudah begitu Allegri sepertinya memang harus mencetuskan plan C, lewat penerapan formasi baru. Direktur olahraga Juve, Beppe Marotta, juga mengisyaratkan sang pelatih untuk tak ragu melakukannya menilik komposisi pemain yang disediakannya.

"Kesempatan ini [pembelian Cuadrado dan Alex Sandro] datang dan kami mengambilnya. Sekarang, semua tinggal bergantung pada kemampuan Allegri untuk dapat menemukan formasi terbaik dengan memanfaatkan komposisi skuat yang kami miliki," tutur Marotta, seperti dilansir Tuttosport.

Seperti dibahas sebelumnya oleh Eric Noveanto, formasi 4-3-3 jadi skema yang paling realistis diterapkan. Taktik yang tengah populer digunakan oleh klub-klub besar Eropa ini memiliki fokus utama pada sektor penyerangan. Komposisi skuat Juve pun memenuhi syarat untuk menjadikan formasi tersebut berjalan baik.

Empat bek sejajar yang berperan dalam formasi terdahulu, 4-3-1-2, tak perlu diubah aktornya. Persaingan hebat mungkin hanya akan mucul di pos bek kiri, antara Patrice Eva dan Alex Sandro. Sementara kepelikan terjadi di lini tengah. Jika situasinya masih seperti sekarang dengan cederanya Marchisio, Allegri sepertinya harus melihat video awal karier Pogba bersama La Vecchia Omcidi. 

Kala itu Conte menjadikan Il Polpo Paul sebagai cadangan utama Pirlo. Hasilnya sama sekali tak mengecewakan, Pogba tampil ganas sebagai jangkar meski tak jago melepaskan umpan-umpan fantastis layaknya Il Maestro. Lewat formasi 4-3-3 yang gelandangnya tak perlu menjaga kedalaman sempurna, alternatif tersebut patut dicoba. Sementara pendamping sisi kanan dan kiri Pogba cukup bervariasi, mulai dari Pereyra, Stefano Sturaro, bahkan Padoin.

Di lini depan, keuntungan lebih bakal didapat Mario Mandzukic. Terbiasa berjuang sendiri sebagai ujung tombak nyaris di sepanjang kariernya, Djilkos diyakini bakal lebih klimis dengan 4-3-3. Sokongan dari winger sekelas Juan Cuadrado juga Paulo Dybala yang fasih di posisi itu, tentu akan memudahkan Mandzukic menjebol jala lawan. Jangan lupakan pula fleksibilitas Alvaro Morata sebagai winger kala masih di Real Madrid dahulu.

Draxler, Vazquez, Hernanes, siapa yang akan datang pada deadline day?

Menilik sisi lainnya, harapan Allegri agar memiliki komposisi skuat yang tak jauh beda dari musim lalu masih mengapung hingga deadline day bursa musim panas ini. Dirinya mengharapkan sosok gelandang jangkar dan trequartista berkualitas baru, sebagai pengisi pos kosong peninggalan Pirlo dan Vidal.

Harapan pertamanya untuk pemain di posisi jangkar sendiri sudah terealisasi, sebagaimana gelandang muda Olympique Marseille, Mario Lemina, didatangkan lewat status pinjaman selama semusim. Kini tinggal pos trequartista yang nominasinya terus pasang-surut.

Hingga 31 Agustus setidaknya terdapat tiga nama yang potensi transfernya cukup besar, yakni Mario Draxler, Franco Vazquez, dan yang terbaru Hernanes. Nama pertama masih belum dilepas dari jangkauan, meski kini mendapat saingan baru dari VfL Wolfsburg. Sementara Vazquez yang sudah menyatakan kesediaan, tak terdengar lagi kelanjutan rumornya.

Paling kencang justru incaran lama Juve yang kini kembali disasar, yakni Hernanes dari FC Internazionale. Cukup riskan sepertinya jika La Fidanzata d'Italia sungguh merealisasikan transfer ini. Selain usianya yang sudah menginjak 30 tahun, kualitasnya juga diragukan karena La Beneamata sendiri tak menjadikannya pilar utama musim ini.

Kedatangan mantan bintang Lazio itu juga bisa disebut sebagai panic transfer, karena kualitas target gelandang serang Juve terus menurun, mulai dari Mario Gotze, Mesut Ozil, Draxler, Vazquez, hingga Hernanes sendiri.

Menarik dinanti dalam beberapa jam ke depan menjelang deadline transfer, apakah Juve bisa mendapatkan sosok trequartista handal. Jika tidak, maka Allegri tampaknya harus benar-benar memikirkan formasi baru selain 4-3-1-2 dan 3-5-2.

 

Topics