Juventus Kembali Krisis, Massimiliano Allegri Tak Boleh Santai

Massimiliano Allegri tak sepatutnya mengenyahkan kekhawatiran menyusul krisis yang kembali mendera Juventus.

"Saya tak bisa menyalahkan apapun dari tim ini. Kami memainkan pertandingan yang bagus melawan Napoli dan saya tak khawatir," begitu kalimat pertama pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, sesaat pasca timnya kalah dari Napoli, Minggu (27/9) dini hari WIB.

Namun apa yang dikatakan Allegri sejatinya sama sekali tak menggambarkan apa yang terpapar di lapangan. Benar jika Juve tak bisa dibilang bermain buruk, tapi menilik statistik, Si Nyonya Tua nyaris kalah segalanya. Mulai dari penguasaan bola, jumlah peluang, hingga segala aspek di lini pertahanan, meski tipis Napoli masih lebih baik.

Bahkan sejak sepakan mula belum dilakukan, mentalitas para Juventino sudah kalah dengan deretan gladiator Campania, yang menganggap partai ini bagai duel hidup dan mati. "Pertandingan ini sangat penting bagi kami. Ini adalah laga final, hidup dan mati kami. Jika Anda sehari saja tinggal di sini, maka Anda akan paham seberapa penting kemenangan kami atas Juventus," tegas Lorenzo Insigne, kapten sekaligus pujaan publik Napoli.

Satu hal lagi, Allegri juga tak boleh berbangga karena bermain bagus dan 'hanya' kalah 2-1 dari tim yang kini duduk di peringkat sembilan klasemen. Napoli memang tim bertabur kualitas, tapi mereka bersama juga Juve hanya sanggup mengoleksi sebiji kemenangan dari lima giornata yang sudah digelar.

Ditambah hasil memalukan melawan Frosinone di partai sebelumnya, maka Juve kini resmi kembali ke fase krisis. Jika sudah begitu, Allegri jelas tak boleh mengenyahkan kekhawatirannya.

Dari enam giornata Serie A yang sudah dilakoni Juve, dengan mata telanjang kita bisa melihat jika masalah utama La Fidanzata d'Italia terletak di sektor penyerangan. Kita dibuat kebingungan, bagaimana mungkin tim Italia tersubur dalam empat musim terakhir kini hanya memiliki rerata satu gol per partainya!

Statistik mempertegas dengan menempatkan Juve masuk tiga tim terburuk Serie A dalam hal konversi peluang. Dari total kans yang dikreasikan, Mario Mandzukic cs cuma mampu mengonversinya menjadi gol lewat persentase tujuh persen. Catatan itu hanya lebih baik dari Frosinone dan Carpi, yang menghuni posisi dua terbawah klasemen.

Ironisnya saat ini Juve merupakan tim dengan kreasi peluang terbanyak di Serie A. I Bianconeri sukses menghasilkan 92 peluang dari enam partai Serie A, setara dengan Napoli. Jumlah itu bahkan setengah lebih banyak dari torehan duo pemuncak klasemen, Fiorentina dan FC Internazionale. Namun seperti sudah dipaparkan jika pasukan Allegri hanya sanggup mencetak enam gol dari jumlah tersebut.

Salah satu penyebab utama munculnya statistik buruk tersebut, adalah buruknya finishing para striker Juve. Mulai dari Alvaro Morata, Mario Mandzukic, Paulo Dybala, hingga Simone Zaza, semuanya memiliki akurasi tembakan di bawah 40 persen. Catatan terbaik dimiliki Zaza lewat akurasi 38 persen.

Lebih buruk lagi karena dalam peringkat tujuh besar jumlah tembakan, hanya ada dua penyerang yang berhasil masuk, yakni Dybala dan Zaza. Paul Pogba jadi pemain yang paling rajin melepaskan tembakan melalui 18 kali percobaan, sementara enam tembakan Leonardo Bonucci lebih banyak dibanding Morata dan Mandzukic.

Trio BBC alami pengikisan kualitas

Lepas dari lini depan, kini kita menyoroti masalah pelik lainnya yang muncul di lini belakang. Memang harus kita akui dahulu jika dalam empat musim terakhir, Juve merupakan salah satu tim dengan pertahanan terbaik di Eropa. Tapi kini, dengan mereka sudah kebobolan tujuh gol dari enam partai Serie A, jelas terjadi pengikisan kualitas. Torehan itu bahkan menyamai catatan terburuk klub 12 musim silam.

Jika dilihat dari statisitik secara keseluruhan, meski mengalami penurunan tapi sejatinya benteng Juve tak tampil sedemikian buruk layaknya sektor penyerangan. Namun ketika menilik detail-detail kecil, tampak bahwa Allegri harus melakukan inovasi di lini pertahanan. 

Tiga bek andalan La Vecchia Signora dalam lima musim terakhir, yakni Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Leonardo Bonucci tak lagi kokoh seperti biasanya. Chiellini kerap melakukan positioning error, Barzagli amat lemah dalam kecepatan, sementara Bonucci punya kelemahan paten di titik buta.

Kesalahan posisi Chiellini tampak dalam gol mudah Edin Dzeko dan Lorenzo Insigne ke gawang Buffon. Lambannya Barzagli terlihat di banyak momen, terutama saat telat menutup serangan cepat Chievo yang berujung gol Perparim Hatemaj. Sementara Bonucci lengah kala menutup pergerakan cepat Cyril Thereau dan Leonardo Blanchard yang mencetak gol mudah.

Kombinasi kesalahan tim secara keseluruhan memang lebih adil ditunjuk sebagai biangkerok. Namun tindakan penting yang harusnya bisa diambil oleh ketiganya, tentu memperbesar potensi terhindarnya petaka kebobolan. Usia mereka juga tidak muda lagi, hanya Bonucci yang di bawah kepala tiga dengan usia 28 tahun.

Paparan tersebut kini semakin mendesak Allegri untuk menurunkan bek masa depan Italia yang terus mendekam di bangku cadangan, yakni Daniele Rugani. Pemain yang musim lalu dipinjamkan ke Empoli ini memiliki statistik yang amat mengagumkan musim lalu, tapi belum diberi kesempatan mentas sedetikpun sejak musim ini bergulir.

Musim lalu Rugani yang masih berusia 21 tahun mengukir rekor sebagai pemain yang mentas di seluruh laga Serie A, tanpa pernah diganti sekalipun. Tak heran, karena kehebatannya sebagai bek terpampang nyata lewat rerata satu intersep dan tujuh sapuan bola per partainya.

Rugani juga lihai dalam duel area dengan persentase kemenangan mencapai 63 persen. Anggota timnas Italia ini bahkan tak sekalipun melakukan defensive error, yang merupakan catatan tertinggi di Serie A. Selain itu Juve yang kini menempati urutan keempat terbanyak indisipliner, bisa dibuat tenang karena musim lalu sang bek tak sekalipun mengoleksi kartu, baik kuning maupun merah.

Apa yang ditawarkan Rugani tentu bisa membuat Allegri tergoda dan di tengah situasi seperti ini, tak ada salahnya memberikan kesempatan sang bek untuk unjuk kemampuan. Ingat, manajemen Juve merencanakan lulusan akademinya sendiri ini sebagai suksesor Chiellini dan Barzagli. Bila terus dibiarkan membusuk di bangku cadangan, cepat atau lambat Tim Hitam Putih bisa kehilangan bakat luar biasa ini.

Di sisi lain sang allenatore juga disulitkan dengan badai cedera yang menghantam Juve, Pemain-pemain seperti Sami Khedira, Claudio Marchisio, Martin Caceres, Stephan Lichtsteiner, dan Mandzukic tentu mampu memberikan pengaruh signifikan jika kini tak terkapar di meja perawatan.

Sekarang tinggal bagaimana Allegri bisa mengeluarkan tim dan dirinya sendiri dari situasi sulit ini. Kerja keras, inovasi, dan motivasi jelas jadi tiga faktor penting untuk mengusung hal tersebut. Tapi sekali lagi, melihat paparan di atas, tak sepatutnya sosok 47 tahun itu mengenyahkan kekhawatirannya. La Vecchia Omcidi kembali masuk fase krisis dan dalam keadaan darurat!

 

Topics