Juventus Kontra Fiorentina, Adu Tajam Bomber Kroasia

Topics

Grande Partita antara Juventus kontra Fiorentina akhir pekan ini, sekaligus jadi panggung pembuktian siapa bomber terbaik Kroasia saat ini.

Meski lebih dikenal dengan sejarah kelamnya, tempatnya yang tak indah, dan mayoritas penduduknya yang rasis serta tak ramah, harus diakui jika tanah Balkan merupakan salah satu penghasil bibit emas pesepakbola dunia.

Sejarah membuktikan itu, mulai dari kesatuan Yugoslavia hingga negara-negara pecahannya macam Serbia, Montenegro, Makedonia, Kroasia, Slovenia, Bosnia & Herzegovina, sampai Kosovo sekalipun. Mereka semua selalu mampu melahirkan pesepakbola hebat yang mapan di klub elite Eropa.

Dan dari deretan negara pecahan tersebut, harus diakui jika Kroasia adalah penghasil bibit terbaik. Sebut saja nama-nama legendaris seperti Zvonimir Boban, Dario Simic, Robert Prosinecki, Alen Boksic, Davor Suker, sampai yang kini sedang beken macam Marcelo Brozovic, Luka Modric, Ivan Rakitic, Mateo Kovacic, Mario Mandzukic, hingga Nikola Kalinic.

Mereka semua tergolong berhasil menancapkan namanya sebagai pesepakbola sukses Kroasia, dengan pernah atau sedang jadi andalan klub besar Benua Biru. Namun terdapat satu fakta, bahwa mayoritas dari nama-nama tersebut pernah mengecap karier di Serie A Italia. Ya, Negeri Pizza seakan jadi rumah kedua para pesepakbola Kroasia.

Budaya tersebut berlangsung hingga kini, sekalipun Serie A sudah tak sejaya di era 90-an silam. Hal itu terbukti jelang digelarnya Grande Partita antara Juventus dan Fiorentina, di giornata 16 Serie A, Senin (14/12) dini hari WIB.

Selain perang gengsi dan pertaruhan awal scudetto, duel tersebut juga jadi ajang pembuktian soal siapa penyerang terbaik Kroasia saat ini. Apakah Mario Mandzukic dari pihak Juventus? Atau Nikola Kalinic yang membela panji Fiorentina?

Di usia emasnya kini, keduanya sama-sama menjalani musim debut di Serie A dan langsung jadi andalan klub masing-masing. Buntut dari peperangan keduanya bisa panjang, karena berpotensi jadi penentu pos striker tunggal reguler timnas Kroasia di Euro 2016 nanti.

Saat ini Kalinic sedikit berada di atas angin, karena sudah menorehkan sembilan gol di Serie A. Ia bahkan sukses menyamai rekor Alen Boksic, dengan jadi Kroasia kedua yang menorehkan hat-trick di kasta tertiinggi sepakbola Italia tersebut. Namun, Mandzukic juga tak boleh dianggap remeh. Pengalamannya segudang dengan pernah menjuarai Liga Champions. Dia juga merupakan top skor Juve di luar Italia.

Lantas, siapakah yang akan unggul di antara keduanya nanti?

Sejatinya tanda tanya besar mengitari keputusan Juve saat membeli Mario Manduzkic dari Atletico Madrid, lewat banderol lumayan besar senilai €19 juta. Usianya sudah 29 tahun, sosoknya temperamental, tipe permainannya juga tak sesuai kebutuhan seiring kepergian Carlos Tevez.

Ketakutan atas "pembelian konyol" Mandzukic semakin nyata, seturut performa mengenaskan I Bianconeri di awal musim ini. Meski sanggup jadi bintang di Piala Super Italia dan matchday perdana Liga Champions, pemain berjuluk Djilkos (Si Sombong dan Keras) ini gagal mencetak gol pada empat laga perdananya di Serie A.

Cedera kambuhan pangkal paha kaki kanannya pun membuatnya sulit untuk bermain penuh selama 90 menit dan kerap cedera tiba-tiba. Namun seiring berjalannya waktu plus keteguhan hati Massimiliano Allegri memasang Mandzukic sebagai starter, tampak alasan sejati mengapa Juve membeli sang penyerang. Pengalaman dan kualitas, dua alasan itulah yang kemudian dipaparkan sang pemain sepanjang November lalu.

Dengan pernah membela tim sekelas Bayern Munich, memenangkan Liga Champions, dan rutin bermain di pentas internasional, Mandzukic kerap berperan penting dalam partai-partai kursial Si Nyonya Tua musim ini. Duel tandang-kandang melawan Manchester City, bentrok sulit melawan Empoli juga Palermo, dan partai berkelas melawan AC Milan, Sang Kroasia tampil memesona.

Karakter bermodal pengalaman itulah yang belum mampu ditunjukkan tiga penyerang Juve lainnya, terlebih usia mereka bahkan belum menyentuh 25 tahun. Sementara soal kualitas, Anda bisa nilai sendiri dari cara berkelas Mandzukic mencetak gol musim ini.

"Mandzukic adalah pemenang Liga Champions. Ia pernah bermain di Bayern Munich dan Atletico Madrid. Dia mungkin bukan pemain elegan dengan teknik terbaik, tapi karakteristiknya sangat berguna bagi tim ini," sanjung Allegri.

Sebelum bergabung dengan Fiorentina, Anda mungkin sama-samar familiar dengan nama Nikola Kalinic. Ya benar, dia adalah mantan striker belia Blackburn Rovers pada periode 2009 hingga 2011 lalu, yang digadang-gadang jadi bomber besar di masa depan.

Sayang perjalanan kariernya tak sesuai ekspektasi, karena setelah Blackburn terdegradasi dari Liga Primer Inggris pada 2011, Kalinic hijrah ke klub "antah berantah" yang sulit dieja, bernama Dnipro Dnipropetrovsk.

Namun siapa yang menduga, setelah nyaris hilang ditelan bumi selama lebih dari tiga tahun, Kalinic justru mampu mengguncang Eropa bersama klub asal Ukraina tersebut. Ya, musim lalu dirinyalah aktor kunci di balik kesuksesan Dnipro menggapai final Liga Europa untuk kali pertama sepanjang sejarah! Namanya kembali melambung dan akhirnya dipinang Fiorentina pada bursa musim panas lalu. Ia diplot sebagai pengisi pos kosong peninggalan Mario Gomez, yang dicap gagal total sebagai penyerang utama La Viola dua musim terakhir.

Tak butuh waktu lama bagi Kalinic untuk beradaptasi dengan skema atraktif Paulo Sousa, yang juga sosok baru di Fiorentina. Sembilan gol langsung diciptakan dalam 14 partainya dan membawa Si Ungu terbang berkutat di dua besar klasemen Serie A.

Dalam prosesnya, Kalinic tercatat sebagai Kroasia kedua yang sanggup mencetak hat-trick di Serie A setelah Alen Boksic. Ia juga merupakan pemain tertajam kompetisi di partai tandang lewat gelontoran enam gol.

"Nikola Kalinic akan menjadi kekuatan nyata pada musim ini, karena pergerakan dia membuat para pemain belakang lawan keteteran," puji Vicenzo Guerin, manajer umum Fiorentina.

Menilik statistik keduanya kini, seperti dipaparkan sebelumnya bahwa Kalinic berada di atas angin karena unggul enam gol atas Mandzukic. Namun mari kita lihat secara lebih spesifik, karena mereka punya kelebihan dan kekurangan yang besar pengaruhnya pada performa dalam duel Juve kontra Fiorentina nanti.

Minimnya jumlah gol Mandzukic di Serie A juga dipengaruhi oleh performa Juve yang baru konsisten lepas giornata sepuluh. Pemain bernomor punggung 17 itu adalah penyerang bertipe poacher, sehingga gelontoran gol-nya amat bergantung pada asupan bola bergizi dari rekannya.

Terbukti dari minimnya percobaan Mandzukic melepaskan tembakan ke gawang, yang berbanding terbalik dengan kehandalannya dalam memenangi duel area. Anda juga bisa menyimak total enam gol-nya di semua kompetisi, yang tak satupun dilakukan lewat aksi individu.

Sementara Kalinic sendiri amat terbantu dengan taktik Fiorentina yang mengandalkan permainan bola pendek. Skema itu membutuhkan pergerakan tanpa bola para pemainnya dalam porsi yang besar. Pemain yang lincah dan cepat akan sangat pas memerankan taktik tersebut.

Meski bertinggi 187 centimeter, Kalinic adalah tipe pemain yang mengandalkan kecepatan dan licin dalam bergerak. Tak heran jika mayoritas gol-nya berasal dari pergerakan tiba-tiba dirinya di kotak penalti.

Namun yang jadi masalah adalah konversi gol Kalinic yang rendah, dengan hanya menginjak angka 22 persen. Kebiasaannya berperan sebagai striker lubang di Dnipro tak membiasakan dirinya menghadapi situasi one on one dengan kiper lawan. Anda bisa menengok jumlah 29 tembakan yang dilepaskannya, dengan hanya 12 yang tepat sasaran.

Bagaimanapun keduanya adalah bomber terbaik yang dimiliki oleh Kroasia saat ini. Pelatih Harvtska, Ante Cacic, jelas diberkahi dengan situasi terkini Mandzukic dan Kalinic yang tengah on fire. Ia bahkan mulai coba-coba menduetkan mereka dalam beberapa laga uji coba terakhir.

Namun pelatih berusia 62 tahun itu tentu tak ingin terlalu bertaruh mengubah skema satu striker, yang sudah jadi formasi paten Kroasia dalam lima tahun terakhir.

Bomber legendaris yang juga top skor sepanjang masa Kroasia di Serie A, Boksic, sudah coba memberi solusi atas kebingungan Cacic.

"Kebangkitan Kalinic bersama Fiorentina bukan sebuah kebetulan. Dia adalah striker berkelas yang bagus dalam permainan bola-bola pendek. Namun jika ingin bermain lebih efisien, maka Mandzukic adalah pilihannya. Dia adalah salah satu penyundul terbaik di Eropa," urai sang legenda.

Jika sudah begitu maka partai Juve dan Fiorentina tentu akan jadi tontonan wajib Cacic di akhir pekan ini, guna meyakinkan pilihannya.

Tak hanya sang sang juru taktik, karena Anda juga tentu haram melewatkan pertarungan klasik ini, seturut dengan benturan kualitas mencetak gol yang siap dihadirkan Mandzukic dan Kalinic!