Kejatuhan Chelsea Berawal Dari Pemain Sendiri

Simak statistik berikut yang membuktikan bahwa kejatuhan Chelsea di musim ini tak bisa dilepaskan dari performa jeblok beberapa penggawanya.

Tidak ada seorang pun yang tidak tercengang ketika menyaksikan performa Chelsea yang menukik tajam di Liga Primer Inggris 2015/16 dan berpotensi menjalar di kompetisi lainnya. Berstatus sebagai juara bertahan, The Blues malah terperosok ke peringkat 15 klasemen Liga Primer dengan sudah menelan lima kekalahan dari sepuluh partai pembuka. Inilah start terburuk Chelsea sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Liga Primer.

Lantas, siapa yang pantas disalahkan atas keterpurukan Chelsea di musim ini?

Jika kita menunjuk sang kambing hitam utama, hampir semua orang mengarahkan telunjuknya kepada Jose Mourinho. Tentu saja, sebagai manajer dan pengatur taktik tim, Mou adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas penampilan para pemainnya. Ia adalah seorang konseptor sekaligus pemimpin yang dituntut bisa membawa timnya untuk tampil maksimal.

Maka, ketika tim berada di dalam situasi krisis seperti sekarang ini, tudingan langsung mengarah kepada insan yang berada di pucuk piramida teratas, dalam hal ini Mourinho.

Kendati demikian, kesalahan sebetulnya tidak melulu terletak kepada manajer berjuluk The Special One itu. Seburuk-buruknya si manajer, jika para eksekutor di lapangan hijau mampu menunaikan tugasnya dengan baik, maka tidak akan masalah.

Yang menjadi persoalan adalah jika para pemain ternyata juga tidak mampu berperforma baik dan cenderung bermain sangat buruk. Sinergi pemain-pelatih pun tidak tercipta sehingga tim menjadi korbannya sebagaimana yang dialami Chelsea ini.

Disarikan dari Opta, berikut kami menyajika ndata dan statistik yang menegaskan bahwa kejatuhan fatal sang juara bertahan di musim ini sama sekali tak bisa dilepaskan dari performa jeblok beberapa penggawanya, mulai dari Branislav Ivanovic sampai Eden Hazard. Simak!

Kepergian Petr Cech ke Arsenal dirasakan betul oleh Chelsea di musim ini setelah kiper andalan Thibaut Courtois mengalami cedera lutut cukup parah. Asmir Begovic, yang didatangkan dari Stoke City ternyata bukan pelapis sepadan. Kiper asal Bosnia-Herzegovina itu hanya dua kali ia mencatatkan clean sheet, yakni saat menang 2-0 atas Arsenal dan Aston Villa.

Begovic memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat penampilan lini belakang Chelsea juga sangat rapuh. Namun seandainya Cech masih di Stamford Bridge, jumlah kebobolan yang diderita The Blues barangkali tidak akan sebanyak ini.

John Terry adalah Chelsea dan Chelsea adalah John Terry. Itulah yang dirasakan fans The Blues sejak bek didikan akademi Chelsea itu mampu menembus tim utama dan menjadi kapten di awal 2000-an. Ketangguhannya teruji betul di musim lalu di mana ia menjadi satu-satunya pemain Chelsea yang tampil penuh 90 menit x 38 laga kendati sudah menginjak 34 tahun.

Sayang, Terry gagal mereplika performanya itu di musim ini. Ia tiga kali dicadangkan Mourinho di Liga Primer musim ini dan statistiknya mengalami penurunan cukup signifikan. Sang bek veteran kini tidak bisa mengelak dari prediksi eks manajer interim klub, Rafa Benitez, yang mengatakan bahwa masa berlaku JT sudah habis.

Semua pihak heran ketika Mourinho terus memercayakan pos bek kanan kepada Branislav Ivanovic di musim ini. Padahal, tidak terhitung jumlahnya Ivanovic melakukan kesalahan konyol yang membuat lawan leluasa mengobrak-abrik Chelsea lewat lubang di sisi kanan pertahanan yang digalang oleh bek Serbia itu.

Ivanovic pun dituduh menjadi tersangka utama dan ini terbukti dengan jebloknya statistik intersepsi dan sapuan (clearance) dari Ivanovic. Namun, ketika cedera mendera Ivanovic pada pekan lalu dan membuat Mou akhirnya harus berpaling dari pemain favoritnya, performa lini belakang Chelsea ternyata tidak kunjung membaik.

Raja assist adalah status yang langsung direngkuh Cesc Fabregas ketika ia kembali ke London pada musim lalu dengan seragam biru dan bukan merah. Sembilan assist dari sepuluh partai pembuka menjadi bukti sah kalau gelandang Spanyol ini adalah playmaker kelas dunia.

Tiba-tiba keadaan berubah drastis di musim ini. Keran assist Fabregas seret dan sebagai dampak logisnya, gol-gol dari Chelsea ikutan mampet. Seiring Chelsea kalah terus, mental Fabregas ikutan menurun sehingga membuat visi bermainnya tidak jernih dan umpan-umpannya sudah tidak seakurat seperti biasa. Inilah yang menyebabkan Chelsea kehilangan kreativitasnya di musim ini.

Semua sepakat Eden Hazard adalah pemain terbaik Liga Primer musim lalu. Ia adalah simbol baru Chelsea untuk menyambut era gemilang di bawah arahan Mourinho jilid dua. Akan tetapi, di musim ini Hazard justru berperan sebagai antagonis. Kini ia malah menjadi simbol kejatuhan Chelsea. Hazard beberapa kali kehilangan tempat reguler setelah Mou tak puas melihat dribel-dribelnya yang gampang dipatahkan, konversi golnya yang rendah, dan keenggananya membantu pertahanan.

Memang ia masih rajin menciptakan peluang – terlihat dari statistiknya yang terbilang lebih baik di musim ini, kecuali catatan golnya. Namun sayap Belgia ini terbukti belum sanggup mengemban tanggung jawab sebagai pembeda di tengah keterpurukan tim. Kegagalannya mengekseskusi penalti krusial di Piala Liga melawan Stoke City kemarin menjadi bukti terkini. Ya, merengkuh Ballon d’Or atau menyamai Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo masih menjadi mimpi di siang bolong bagi Hazard.