Kelahiran Kembali Sepakbola Serbia

Topics

Di Selandia Baru bulan ini, Veljko Paunovic mengawali kelahiran kembali sepakbola Serbia.

Jika Veljko Paunovic ingin memberikan obat bagi sepakbola Serbia yang sedang sakit, gelar Piala Dunia U-20 hendaklah menjadi awal yang mujarab bagi kebangkitan mereka.

Serbia sukses membalikkan status tidak diunggulkan ketika menghadapi Brasil di final Piala Dunia U-20 di Selandia Baru, Sabtu (20/6). Brasil masuk final dengan rekor tak kebobolan selama lebih dari 500 menit pertandingan. Di babak empat besar, Brasil memukul Senegal lima gol tanpa balas. Tampaknya gelar juara dunia junior akan digenggam Brasil untuk kali keenam.

Sementara, jalan berliku-liku harus ditempuh Serbia sebelum tiba di babak puncak. Sejak lolos ke babak 16 besar, pasukan Paunovic itu selalu menghabiskan 120 menit untuk mengalahkan lawan-lawannya. Hongaria disingkirkan di babak 16 besar secara dramatis, kemudian giliran Amerika Serikat yang ditundukkan lewat adu penalti di babak delapan besar.

Memasuki semi-final, tim berjuluk Orlici itu kembali harus bermain 120 menit sebelum sukses menundukkan perlawanan Mali. Masuk final Piala Dunia Junior di Stadion North Harbour, Auckland, telah menjadi pencapaian besar bagi Serbia di ajang pertama mereka sejak menjadi negara independen. Partisipasi sebelumnya di ajang kejuaraan dunia junior dilakukan di bawah bendera Yugoslavia.

Yugoslavia mencetak sukses menjadi juara dunia junior 1987. Saat itu, Yugoslavia bermaterikan para pemain generasi emas, antara lain seperti Igor Stimac, Robert Prosinecki, Branko Brnovic, Zvonimir Boban, Davor Suker, hingga Pedja Mijatovic. Yugoslavia berhasil mengalahkan Brasil 2-1 di babak perempat-final dan kemudian melaju terus hingga mengalahkan Jerman Barat di babak final melalui adu penalti. Sebagai informasi, pelatih Persipasi Bandung Raya, Dejan Antonic, juga menjadi bagian dari skuat yang sama.

Sukses 1987 menjadi inspirasi bagi generasi pemain saat ini untuk menyamainya.

"Semua pemain masih membicarakan sukses tim Yugoslavia yang memenangkan kejuaraan di Cile itu dan kami tahu setenar apa para pemain yang sukses saat itu," ujar bek Milos Veljkovic, yang bermain untuk Tottenham Hotspur.

Para pemain yang menjadi juara Kejuaraan Dunia Junior 1987 kemudian disebut sebagai generasi emas sepakbola Yugoslavia. Sebagian di antaranya menjadi anggota skuat Piala Dunia 1990 ketika Yugoslavia menembus perempat-final. Sukses Red Star Belgrade menjuarai Piala Champions 1991 pun tak bisa dipisahkan dari generasi tersebut.

Mereka kemudian berpencar ketika Perang Balkan berkecamuk pada 1992. Tiket Euro 1992 yang sudah dikantungi Yugoslavia dicabut UEFA dan diberikan kepada Denmark, yang akhirnya sukses menjadi juara. Pada Piala Dunia 1998, para anggota generasi emas itu kembali ke panggung dunia meski dengan bendera sendiri-sendiri.

Sayangnya, dalam beberapa tahun belakangan sepakbola Serbia dilanda polemik kekerasan di mana-mana. Kelompok suporter berkelahi, mengancam pemain sendiri atau tim lawan, pertandingan ditunda, dan lain-lain.

Pertandingan kualifikasi Euro 2016 antara Serbia dan Albania akhir tahun lalu terhenti setelah sebuah drone membentangkan bendera dengan simbol yang sensitif. Pertandingan pun tidak dilanjutkan. Akibatnya, UEFA menjatuhkan hukuman pengurangan tiga poin bagi Serbia.

Padahal, Serbia sebenarnya memiliki materi yang diperhitungkan jika nanti bertarung di Euro di Prancis tahun depan. Branislav Ivanovic dan Aleksandar Kolarov menjadi pilar lini belakang; di tengah, ada Nemanja Matic serta Nemanja Gudelj; dan di depan, terdapat nama Adem Ljajic atau Aleksandar Mitrovic. Sayangnya, potensi seperti ini tak pernah dapat berkembang secara maksimal.

"Di Serbia, tidak ada fans yang pernah ditangkap atau didakwa karena melakukan kekerasan kepada seorang pemain sepakbola," ujar presiden asosiasi pemain Nezavisnost, Mirko Poledica, Februari lalu.

"Itu alasan kenapa para pemain takut diserang atau dipermalukan. Setiap hari mereka berharap tidak ada orang yang datang ke rumah mereka dan memukuli mereka. Tidak ada orang yang membakar mobil mereka. Atau tidak ada orang yang menodongkan pistol ke kepala mereka."

Saat dipastikan menghadapi Brasil di final Piala Dunia U-20 tahun ini, Paunovic pun bak bicara selayaknya seorang duta perdamaian.

"Sepakbola selalu menjadi manifestasi kesehatan sosial sebuah negara. Para pemain ini sehat dari segala aspek. Saya rasa kami mampu menjaga api tersebut tetap menyala, tapi kami juga harus terus melangkah. Saat ini, esok, dan setelahnya," tukas pelatih 37 tahun itu kepada Vice Sports sebelum laga final.

"Kami selalu memiliki pemain dan generasi yang bagus, tapi keadaan tidak berpihak. Keadaan sekarang sudah berubah jauh lebih baik."

"Setelah apa yang kami alami selama 20 tahun terakhir, ini menjadi kelahiran kembali sepakbola Serbia dan seluruh bangsa Serbia."

"Kami rasa telah memberikan sumbangan besar bagi negara [selama turnamen], dan sekarang masyarakat Serbia akhinya bersatu berkat sepakbola. Sepakbola menjadi landasan yang tepat untuk menyampaikan pesan, dan pesan yang kami kirimkan kepada negara dan dunia adalah tentang persatuan. Ini tentang tim, dengan bersama-sama kita bisa mencapai banyak hal."

"Ini yang dibutuhkan negara kami."

Harapan Paunovic memulihkan kembali sepakbola Serbia barangkali bukan jalan yang singkat. Namun, setidaknya penampilan Orlici saat mengalahkan Brasil dapat memberikan inspirasi persatuan.

Serbia menampilkan permainan pressing dengan menumpukan serangan pada sektor yang menjadi kelemahan Brasil - kedua sisi sayap. Ketika pemain Brasil menguasai bola, dengan kompak dua hingga tiga pemain Serbia mengurungnya. Jika semua upaya itu gagal, masih ada kiper sekaligus kapten Predrag Rajkovic yang melakukan sejumlah penyelamatan gemilang di bawah mistar.

Stanisa Mandic mencetak gol pembuka Serbia pada menit ke-70. Striker klub domestik Cukaricki itu menyelesaikan kerja sama Andrija Zivkovic dan Nemanja Maksimovic dalam membongkar pertahanan Brasil dari sektor kanan. Keunggulan itu hanya bertahan tiga menit setelah aksi individual Andreas Pereira sukses menembus jala gawang Rajkovic.

Pertandingan sempat diguyur hujan deras. Kedua tim silih berganti memperoleh peluang. Dalam sebuah serangan tunggal dua menit sebelum perpanjangan waktu selesai, Zivkovic melihat celah di sela pertahanan lawan. Umpan terobosannya memudahkan Maksimovic untuk menyarangkan bola ke dalam gawang Jean. 

Serbia menang 2-1 dan berhasil menciptakan sejarah!

"Berkepala dingin dan hati yang hangat." Filosofi bermain Paunovic sepanjang turnamen ini mudah-mudahan menjadi mantra yang memulihkan kejayaan sepakbola Serbia.

 

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.